AdSense Page Ads

Tuesday, December 12, 2017

The Problem With Sex Is

Have you ever look at someone and start enacting scenes from Anne Rice's Sleeping Beauty Trilogy in your head (because homie doesn't do meekly Fifty Shades of Grey)? No? Just me? Alrighty then…

Come on. Be honest. There must be once or twice moment where you feel it. The heat rising to your cheek, the palpitating heart, the burning desire inside you. After all, we are human.

Which brings us to some interesting questions: to what degree such passion is acceptable? Is it objectifying or improper? How can we stop ourselves from desiring it or to have feeling about it?

Heck, I can't even stop myself from drooling over sexy bras or board games. Yes, Saturday night with me can be very interesting. And even though I didn't end up buying them, they still make me excited.

Is it bad? Should I not have feelings like that? Is it not enough that I lowered my gaze and not look at the temptation? Am I supposed to suppress the excitement and kill the emotions? But we're humans. We're not robots.

The problem with sex is, it is scary. In that singular moment where the spark is lit, it can be either an uncontrolled wildfire that burned down everything or the warm fire of the hearth that you come home to.

Some sex are bland, nothing more than an upgraded version of masturbation. Some are supposed to be magical and the unification of soul. The last description is usually found in many women-targeted media.

Whatever you think what or how it is, the fact of the matter is, when you are in the moment, you literally lost yourself. Everything else lost its importance. And if you have a feeling for your partner, that's even more better.

Understandably, its intoxicating effect is the reason why it is considered a no-no. This is why it gets repressed. Strictly for reproduction only, please. Apparently, humans can't deal with so much excitement.

We talked about sex in a hushed voice, and for women in some part of the world, not at all. These women lose the opportunity to know about their reproductive system, their sexual rights, and the chance to bloom in spirit.

On the other side, men mostly talked about their bravado, which at times can't be confirmed anyway. They, in turn, lose the opportunity to make their sexual encounters a meaningful one, to understand more about women and about themselves.

I looked at him once again. Something inside me still stirred. That face. That body. The unsaid promise of joy and excitement. I want him to take me higher and pushed me to the edge where I will fly. And I want to do the same for him.

Maybe I shouldn't feel this way. It is objectifying. It is improper. As an old phrase go: First you think about it, then you talked about it, then you do it. I probably should stop right now.

But what if we both consent? What if we both like each other and we enjoy such passion from one another? Will it still be wrong? Will it still be objectifying and morally improper?

This is a dangerous slope I am treading because many people can use my arguments to justify their one-sided advances as 'mutual attractions' when they're actually not. Psychos are everywhere.

I don't want these psychos to defined what I am feeling. I don't want to get the nasty look of "Gluten is bad for you" because some people have bad gluten-related experience. Is it still bad even when I don't get the adverse reaction?

My feelings are valid. In a world where (some) women are still treated like objects, where sexual assaults and oppressions still happen to the weak, my feelings may sound like an insult to those who suffer. But it is still valid. 

I have the right to feel elated. I have the right to enjoy myself. I have the right to understand more about my feeling, to choose who I want to be with, to develop the connection that I want.

The problem with sex is, it shouldn't be a problem. Just as other things in life, it should be done with proper consent and equality on both side, and obtained without inflicting harm or manipulating other people.  

I, for one, am not ashamed for wanting it; nor will I be okay to be shamed for wanting it. There's nothing and there shouldn't be anything shameful about sex as long as it's done with consent and respect on both side. 

Hey, if it fits, I sits.

Friday, December 8, 2017

Self-Love dan Transformasi Impian

Foto transformasi saya dari tahun 2013 ke 2017 itu lumayan mencengangkan lho. Sekarang sih lebih ndut paling ga 5 kg, tapi yang mukanya jauh lebih segar, lebih ceria, lebih pede. Saat kita tahu bagaimana menghargai diri kita, akan terlihat bedanya.

Saya yang di 2013 penuh keraguan. Suami ganteng (uhuk-uhuk), tinggal di Amerika, kisah cinta yang seperti di dongeng, tapi tetap nggak pede. Kebahagiaan saya saat itu tergantung kebahagiaan pasangan saya. Kalau dia nggak bahagia, berabe saya.

Konyol? Banget. Kita kan nggak bisa membuat orang lain bahagia. Kalau dirinya sendiri pundung/bete atau nggak mau hepi, bukan tugas kita untuk membuatnya, apalagi memaksanya bahagia. Bodohnya saya percaya kalau dia nggak bahagia, saya yang 'kurang'.

Ini ketidakpedean yang berakar sejak lama. Di Indonesia, diledek kumel, gendut, hitam, dan segala ejekan lainnya dianggap biasa. Diskriminasi kalau kita nggak sesuai 'standar' pun biasa, padahal siapa sih yang bisa terus tampil seperti model, apalagi yang ga bermodal?

Sekalinya kita dapat pasangan, kadang keluarga pasangan masih yang: "emang ga bisa cari yang putihan?" Padahal cuma sanggup ngemodalin motor, gimana mau terus putih. Kita negara tropis juga kali, wajar kulit gelap badan bohai.

Pas dapat bule, lagi dihina: "Ish wajar, muka pembantu. Bule kan demen muka pembantu." Yeah, tapi kalo jadi 'pembantu' yang disayang dan dihargai seperti perhiasan berlian kan lebih mending daripada jadi istri 'terhormat' tapi diperlakukan sebagai pembantu beneran.

Sayangnya, walau logika tahu dan bisa membantah diskriminasi dengan lancar, hati lain cerita. Dapat akang yang lumayan ganteng ga membantu kepedean saya. "Gimana kalau dia tahu saya nggak sebagus itu?" "Gimana kalau dia kenal yang lebih cantik?"

Akhirnya ya itu: muka penuh keraguan yang sama sekali nggak menarik. Saat kebahagiaan saya tergantung orang lain, tanpa sadar saya menjadi terpenjara. Dunia saya adalah dia. Walaupun ini terdengar romantik, namun ini sebenarnya nggak sehat.

Di buku "Dear, Mantan tersayang" saya menjelaskan tentang pentingnya self-love, mencintai diri sendiri. Saya belajar ini dengan kepahitan hahaha. Saat ketidakcocokan saya dan pasangan semakin membesar, saya dipaksa belajar untuk berinteraksi dengan diri saya sendiri.

Jangan ditanya perihnya saat itu, segala "Kenapa sih dia nggak sesayang dulu?" dan semua perasaan bersalah saat saya tahu saya bisa bahagia tanpanya. Tapi perlahan tapi pasti, bukan dia dan kenegatifan yang mendefinisikan saya, namun sikap positif saya dan tanggapan lingkungan yang positif. 

Saya nggak perlu lagi berharap dia perduli, karena ada banyak orang yang perduli. Saya nggak perlu lagi takut dia pergi, karena saya tahu saya sudah memberi yang terbaik, jadi kalau dia pergi ga ada lagi yang bisa saya lakukan. Saya tidak lagi harus hanya bahagia bila ia bahagia. 

Semua diskriminasi yang membuat saya trauma pun tak lagi melukai saya, karena saya belajar untuk nggak ambil pusing. Bawaan lahir begini, mau diapain? Saya tahu apa yang bisa saya berikan untuk pasangan saya, kalau ditolak karena mencari fisik sempurna ya sudah.

Kedengarannya egois, tapi ini masuk akal. Seperti yang saya jelaskan di buku saya, saat kita menyayangi seseorang kita pastinya ingin memberikan yang terbaik; nah kalau kita sendiri nggak merasa kita yang terbaik, berarti kita memberikan barang cacat dong?

Saat kita merasa bahagia dan nyaman dengan diri kita sendiri, saat itulah kecantikan alami kita bersinar. Kenali diri kita sendiri, berdamai dengan diri kita sendiri, sehingga apapun yang terjadi kita tahu dan mampu tetap teguh berdiri, bukannya terpuruk menangis di lantai.

Bayangkan memberikan pasangan sekeren ini ke pasangan kita, top banget nggak sih? Seseorang yang bisa ia andalkan, yang bisa ia kasihi dan puja. Seseorang yang mampu membuatnya bangga dan merasa sebagai manusia yang utuh dan sangat beruntung. Whoa…

Hubungan saya saat itu sayangnya tidak terselamatkan. Ketidakcocokan semakin membara, yang membawa ke perselingkuhan dan akhirnya perceraian kami. Kalau mau jujur, tanpa selingkuh pun sebenarnya kami sudah tamat, sebagaimana kisah perselingkuhan lainnya.

Apakah saat itu saya menangis? Banget. Satu-satunya saat dimana saya merasa benar-benar ingin hidup saya berakhir. Tapi hidup saya nggak berakhir disitu. Pengetahuan akan kelebihan dan kekurangan saya, kepercayaan diri yang saya pupuk, sayangnya saya pada diri saya dan kesadaran bahwa saya berhak mendapat perlakuan yang baik, semua ini membuat saya tetap teguh berdiri.

4 tahun setelah foto itu diambil, saya berfoto sekali lagi di depan pohon natal. Senyum lebar penuh percaya diri, kebahagiaan dan rasa tak sabar untuk memulai petualangan baru, itu saya. Saya yang percaya dunia penuh kebaikan dan kebahagiaan, saya yang siap membagikan kebaikan dan kebahagiaan pula, apa lagi yang kurang?

Bagi yang saat ini masih terpuruk, apapun alasannya, tegakkan punggung anda dan angkat dagu anda. Percayalah, semua yang buruk akan berakhir. Lihat kedalam diri anda dan jadilah teman terbaik diri anda sendiri. Ingat, teman yang baik akan memberitahu kelebihan dan kekurangan anda, menjadikan anda 'penuh'.

Karena pada akhirnya, hanya diri kita yang bisa kita andalkan, bukan orang lain. Karena mencintai dan menghargai diri sendiri membuat kita terlihat begitu berharga, dan jelas sangat menarik. Karena kita berhak bahagia tanpa merebut kebahagiaan orang lain, atau tanpa kebahagiaan kita direbut.

12,800 km jauhnya dari rumah, dan saya masih bisa tertawa lepas. Semua yang pernah saya miliki, semua impian saya, semua hilang, namun saya tetap tersenyum. Karena saya sekarang memiliki impian baru, saya memiliki pengalaman baru, dan yang lebih penting: saya memiliki diri saya sendiri.

Angkat dagumu dan tersenyumlah, teman terkasih. Kita masih punya Tuhan, dan kita masih punya diri kita sendiri. Jangan terhempas dan terserak. Kita lebih kuat dan lebih berharga dari yang kita kira. Salam sayang dari Los Angeles.

Btw, jangan lupa beli bukunya ya hihihi. "Dear Mantan Tersayang" tersedia di toko buku besar atau via Gramedia Online. Lumayan banget untuk yang mau belajar self-love dan membina hubungan yang sehat. Stay strong! I

Thursday, December 7, 2017

Hello Boy

I wrote, read, delete, then wrote that damn text again for so many times. I paused for more than I should before hitting the send button. I reread the text again, deleting it, revising it again, and still paused. This is too hard.

I have always been lucky in love. It was never hard or a chore for me. Dates that matter, the ones worth remembering, those were always swift. Often times it only took a week or so of intense texting before we met and sort of hit it off. 

And we will hit it off. I am the epitome of Taylor Swift's "Blank Space", minus the crazy part. Well, some say that too. It's easy either because the people I dated know what they want, or because I know what they want. Maybe even both.

I look at the phone again, frustrated and unsure what to do. This is a child's play, I cuss. I ain't got time for things like this. I told my friend: "This is not normal! Why does it take so long?!" She gave me a weird look, "What are you talking about? This is the normal dating procedure."

Apparently 'normal' is the courting period where each will exchange text now and then, trying to look like we're not too desperate for each other. Normal is probing each other gently, to gauge interest so to speak. Normal is actually getting to know each other before committing to anything.

As someone who was in a relationship after 2 weeks of talking, and pretty much confirmed to get married by the end of the 3rd month, I was shooked. I have no idea that that's how dating work. For real. Apparently, this is 'normal', and my speedy relationships were not. 

All of them were pretty darn impressive, mind you. I learned a lot from each of them. I have had a fiery love that will burn the world down, a loving love that will shield it, and even a trusted love whom I feel I can take over the world with. 

Within the last 12 months, I have learned a whole lot more. I learn that I am attractive. I learn how to divorce and how to dump a guy. I learn how to have preferences and how to stand by my standards. I learn how to love myself. And now, I am learning how to do 'normal dating'. 

Which, apparently doesn't involve getting proposed by the first week. Or have daily texts at least once a day. I finally understand why my friend was all aglow when she talked about having a two-hour phone conversation with her crush. Back then I was like, "Wait, that's not normal? I did that every day with [insert name here]…."

I checked my phone again. No reply. This is frustrating. Yet at the same time, this is exciting. Does he like me? Does he not like me? Is he playing hard to get? Do I come across as too desperate? It feels like standing on the dance floor with a stranger, not knowing what song will be played next. And dammit, it feels so good.

I have had the luxury of experiencing loves that were pretty much straight out of novels or storybooks; not only once, but several times. Heck, one was made into two books. By this time, I am not looking or worry about happily ever after because I know can always make my own happiness. This is yet another adventure, which I am thrilled to go through.

An Instagram message popped up. I repressed a smile, which inadvertently turned into a silly grin. We're dancing in the dark, full of expectation, threading with caution, with invisible butterflies around us. Come what may, I will remember this feeling. Come what may, I will cherish this experience. 

Hello boy, wanna dance?

Tuesday, December 5, 2017

The Lonely Heart

The dapper girl looked blankly at the room around her. The slight rosy tinge that colored her cheek was a stark contrast to her pale skin. Her heavily-lined eyes and the red, red lipstick added even more shock of color. Yet she still looked so fragile, so innocent.

The glittering hairpiece on her thin blond hair, the glamorous curls that accentuate her face and leaving her neck bare opened, all carefully put together to enhance her features and tantalized her audience. She was a masterpiece, a diva, a star. 

Yet she pulled her thick fur coat even tighter around her, hiding the shiny expensive dress she wore underneath it. One arm beneath the coat, and another grasping the opening of the coat desperately, as if it was a shield that protects her from the evil outside.

The crowd was there, she knew it. She could hear them calling out her name, feel their energy and excitement. Even in the most hushed parties, she could still see them eyeing her, approving her, adoring her. She's seen it all. She knows it all. 

But the coldness was still there, the hole that no one understands. The chance meeting with her long-gone ex-lover opened up the abyss inside her. What if she could pull it through? What if they didn't separate? Why won't, can't, he loved her back?

Deep inside the shards of the knife still exist, the cold sharp blade that turned her heart into ice. At times her heart will be filled with glow and warmth that she'd forget that the shards existed, and other times she was struck down by them, sent to the debilitating coldness.

Guilty till proven innocence, she whispered. A grimace ran across her face, a painful reminder of the abyss inside. The beautiful eyes tainted with a wild, desperate expression. Trust no one, she chanted. Trust no one. Beneath the exquisite look a beast ready to spring.

"Miss Daisy!" someone called, "Are you ready??" The door opened and a gentleman walked in, arms covered in fiery orange roses, her favorite. Her assistant scrambled to gather the roses from him, and her makeup artist run inside to gave her the finishing touch.

Her gentleman bent over and kissed her cheek ever so slightly, sending a shiver down her spines. "You look lovely," he murmured. She blushed prettily and smiled with excitement, and one can barely notice the wildness in her eyes or the cold empty abyss inside.

"Miss Daisy!" They called her again. She touched his cheek gently with her gloved hand and saw passion sparked in his eyes. She smiled. He too, shall pass. She rose from her sofa, letting her fur coat fall, and stood with grace. It's time. The world is her stage, and she'll take it by storm.

"Will you still love me
When I'm no longer young and beautiful?
Will you still love me
When I got nothing but my aching soul?"

Monday, November 27, 2017

At The Edge Of The World

I am standing at the edge of the world
Brimming with happiness
Lit with satisfaction
Filled with life

My eyes are glowing with passion
Mouth curved into a wicked smile
Body taut, prepare to pounce
Soul wide open and ready to fly

I have lost, I have found
I have wept, I have laughed
I have loved, I have hated
I have kept, I have let go

And this is me right now
Standing strong
The river of events flowing fast
Still I stood tall

I am the little witch in the night
I am the perfect girl next door
I am the faery beneath the stars
I am the flower under the sun

Yet the feeling won't ebb away
It grew stronger and deeper
The love for life
This passion inside

Look at me and behold
The creature that God created
Forged in trials and tribulations
Honed with love and affection

Here I am standing at the edge of the world
A final leap, a final jump
Immersed myself into the real world
And be lost in all its glory

So long, mediocre life
Goodbye dissatisfaction and unhappiness
I won't look back to the emptiness I felt
Instead fix my gaze on the wonder it promises

See my radiance with the fire of expectation
Watch my cool with the water of acceptance
Observe my stand with the deep root of my faith
Witness my beauty with the preciousness of life

For I am life itself, and death as well
Walked in the light, rest in the darkness
Balancing between the law and chaos
Forever tempted between good and evil

Look at me and rejoice
Join me and set yourself free too
The promise of life lies not in the words
But in the courage of the heart

For I am the fire that burns
I am the water that flows
I am the plant that provides
I am the metal that strengthens

Here I am standing at the edge of the world
Won't you come, won't you play?
One brave jump to a whole new world
Come love, take my hand.

Saturday, November 25, 2017

Pelaku Dan Bukan Pelakor

Celotehan saya soal pelakor di fesbuk mendapat reaksi keras dari berbagai pihak, baik yang pro maupun kontra.

Pelakor itu apa sih? Apakah semua yang 'merebut' laki orang? Apakah semua selingkuhan seperti itu, yang menggoda dan merayu demi harta belaka, demi status sosial dan rasa "Gue menang!"? Apakah alasan menjadi selingkuhan itu bisa digeneralisir?

Saat tulisan saya viral, saya mendengar sekian banyak cerita perselingkuhan. Banyak diantaranya cocok dengan deskripsi diatas. Saya menyebutnya pelakor profesi, karena ya mereka mencari nafkah atau kepuasan diri dengan cara seperti itu.

Para pelakor profesi inilah yang biasanya dihujani hadiah dan kemewahan lainnya. Sekarang saja baru pada bersuara, padahal dari jaman saya kecil cerita tentang (istri) simpanan itu sudah jamak. Gosip artis jadi tentengan pejabat pun sudah biasa.

Sementara ada yang saya sebut pelakor kondisi, yang mereka menjadi selingkuhan karena kondisi, biasanya karena cinta. Si lelaki menjanjikan dunia, dan akhirnya dia pun luluh. Lucunya orang dengan cepat berpikir pasti seks terlibat, padahal belum tentu. Kadang hanya cinta yang bermain.

Sebagai seseorang yang dua kali menjalin hubungan 'terlarang' ala Romeo Juliet, saya tahu apa rasanya jatuh cinta hingga halangan apapun akan saya jalani demi orang ini. Atau perasaan putus asa: "Nggak apa-apa saya cuma dibalik bayangan dan tak terlihat, asal saya bisa tetap bersamamu". Cinta itu buta dan tak kenal akal sehat.

"Harusnya tahu diri, begitu tahu itu suami orang ya pergi dong!" Tapi bagaimana kalau lelaki itu datang terus? Bagaimana bila rasa itu tak bisa berhenti? Ada banyak alasan untuk menjadi selingkuhan, bagaimana kalau ini bukan tentang harta, tapi tentang cinta? Akankah kita terus menghujat dan memaki?

Kalau bukan dengan si Mbak, suami saya akan menemukan seseorang yang lain. Hubungan kami saat itu memang sudah tidak terselamatkan. Saya pergi pun bukan karena perselingkuhan itu, tapi karena saat ditanya, ia menolak berpisah dengan si mbak. Saya tahu yang saya mau, dan saya tidak mau berbagi cinta. Jadi saya pergi.

Apakah si mbak seharusnya tidak melakukan itu? Oh iya. Jelas. Bukan karena 'terlarang' etc, tapi demi keamanan diri sendiri, demi harga diri. Akan ada pihak yang terluka, pasangan asli atau dirinya sendiri, atau keduanya. Apakah cinta tersebut cukup berharga untuk dibayar dengan kepedihan itu?

Tapi saya saat ini berada di posisi yang jauh lebih baik dari saat saya bersama suami saya. Saya lebih percaya diri, lebih menarik, lebih menikmati hidup. Jadi untuk apa semua cacian dan persekusi terhadap si mbak ini? Yang tiap ada berita pelakor pasti ada 'serangan' baru terhadapnya? Yang sampai sekarang nggak bisa punya akun sosial media karena terus dikejar. Kalian itu membully untuk 'membela' siapa sih? Saya saja yang mengalami sudah memaafkan dan merelakan.

Dan pertanyaan ini terus berulang di kepala saya tiap orang ramai-ramai membully pelakor, tiap orang memposting nama dan data lengkap sang pelakor. Terus lu pikir abis itu laki lu mo balik lagi sama lu? You are hideous, darlin'. Elu horor banget. Dan yang lain yang nggak ada urusannya ikut menyerang, konon "agar tahu rasa", konon "memberi pelajaran", konon "biar lain kali nggak diulangin".

Berfungsi nggak? Ada juga nambah dosa karena melukai orang lain tanpa alasan. Yang "pelakor profesi" dapat iklan gratis, besok-besok bapak-bapak gatal tahu kontak siapa. Yang "pelakor kondisi" teraniaya, dan walau dia mundur pun, kalau dasarnya si suami gatal atau hubungan suami-istri sudah tidak harmonis, si suami akan menemukan pelakor lainnya dan siklus ini terus berulang. Buat apa terus kita membully?

Saya mengerti. Sudah terlalu banyak yang terluka. Entah sejak kapan kita dipaksa nrimo soal selingkuhan, istri muda, simpanan, dan segala bentuk ketidaksetiaan lelaki. Tapi jaman sudah berubah. Mobilitas sosial wanita tidak lagi tergantung pada siapa yang dikawini atau ditiduri. Kita tidak perlu lagi melihat sesama wanita sebagai saingan yang akan merebut kebahagiaan kita.

Ini bukan berarti kita tutup mata atas perselingkuhan ya. Yang paling menyakitkan bagi saya adalah janji pernikahan yang ia ingkari. Dan inilah esensi perselingkuhan, bahwa si pasangan memutuskan mengingkari kontrak pernikahan yang kalian sepakati bersama. Apapun andil pelakor, yang membohongi anda dan mengingkari janji adalah pasangan anda.

Anda ingin perselingkuhan berhenti terjadi? Bisa lho. Benar-benar hilang dari muka bumi sih nggak mungkin, tapi kita bisa membuatnya sebegitu nista dan memalukan sehingga orang pikir-pikir untuk melakukannya. Kita bisa memberi hukuman sosial untuk orang-orang yang memutuskan berselingkuh, bukan hanya untuk orang-orang yang menjadi selingkuhan.

Di Amerika yang konon free sex dan sebagainya, perselingkuhan itu hukuman sosialnya berat. Gini lho, saya kalau sekarang saat ini juga mau seks, saya bisa langsung dapat tanpa usaha dan tanpa dihakimi. Suka-suka saya mau ngapain. Segini bebasnya Amerika. Tapi seandainya kemarin saya cerai minta tunjangan atau gono-gini, pasti saya dapat karena si suami yang selingkuh, bukan saya. Makanya saya diancam mau dicabut Green Card nya pun saya cuek, karena tahu hukum berpihak pada saya. Dia yang melanggar janji, bukan saya.

"Tapi itu kan Amerika, beda sama Indonesia..." Kenapa kita nggak bikin sama? Kenapa kita nggak bikin norma dimana orang yang ketahuan selingkuh itu dianggap lemah dan memalukan, nggak bisa dipercaya? CEO perusahaan dan pejabat yang harus mundur saat ketahuan punya cem-ceman, bukannya malah memangsa artis muda dan memamerkan 'tentengan' baru? Rekan kerja/teman yang harusnya kita jauhi dan bukannya kita kagumi karena gonta-ganti wanita? Janji suci ke Tuhan saja diingkari, apalagi ke elu yang cuma teman/rekan kerja.

Dunia nggak akan berubah dalam semalam. Anda mau perselingkuhan tidak terjadi lagi, anda harus berani mengubahnya. Anda harus berani berkata dan bersikap "Brengsek loe!" pada orang-orang yang anda tahu berselingkuh. Anda harus berani menjadi Solange Knowles yang konon menyerang Jay Z di lift saat dia dengar Jay Z selingkuh/tidak setia pada Beyoncé. Anda harus mampu melihat dan mengerti bahwa yang salah adalah orang yang mengingkari janji.

Apakah anda harus selalu aktif? Ya nggak ya. Jangan ikut campur urusan yang bukan urusan anda. Banyak juga orang yang curhat sama saya membuat saya berpikir nggak heran pasangan mereka kabur, saya saja yang dicurhatin mau kabur. Anda nggak akan tahu cerita lengkapnya kecuali anda memang terlibat. Nggak banget kan anda sudah dosa membully orang, padahal mungkin salah si 'korban' juga?

Tapi perubahan itu mungkin. Amerika yang dulunya terkenal dengan 'Marlboro Man', sekarang lumayan anti rokok. Orang yang merokok dianggap nggak sehat dan menjijikkan, nggak menarik. Sekali lagi, ini nggak terjadi hanya semalam, ini butuh waktu, butuh penjelasan dan pemahaman terus menerus. Semua pihak dan berbagai lapisan masyarakat harus terjangkau dan harus sepaham agar perubahan bisa terjadi.Tapi apakah mungkin? Mungkin banget.

Kalau anda masih terjebak dalam perangkap jender, "harusnya kan sebagai wanita.." dan "namanya juga lelaki...", mari kita lihat ini dari segi bisnis. Ada pihak yang mengingkari isi kontrak. Ada pihak yang memanipulasi keuangan 'perusahaan' untuk pemakaian pribadinya. Ada pihak yang melakukan 'kerja sampingan' sehingga menelantarkan kerja dan tanggung jawab utamanya di 'perusahaan'.

Kalau anda rekan kerja atau bahkan rekanan milik dalam perusahaan itu, apa yang akan anda lakukan? Kalau anda hendak mempekerjakan orang ini atau menjadi rekanan milik dengan orang ini, tidakkah anda merasa ragu dengan track recordnya yang terlihat tidak memiliki loyalitas di tempatnya 'bekerja'?

Inilah wajah perselingkuhan yang sebenarnya. Bukan sekedar drama sinetron dimana si istri teraniaya karena tokoh antagonis yang menor. Kalau anda didalamnya, silakan lho kalau masih mau marah sama pelakor. Saya tahu sakitnya. Tapi jangan sampai menolak melihat bahwa ini sebenarnya tentang hubungan anda dan pasangan anda, bukan tentang pasangan anda dan orang lain. Setelah dia memutuskan selingkuhannya, anda masih berjuang untuk memaafkan dan mempercayainya kembali, bukan?

Buat yang nggak terlibat dan nggak tahu cerita lengkapnya, huss jangan ikut-ikutan. Seperti anda-anda yang sibuk mencaci si mbak saya, padahal bisa jadi saya dan dia sudah best pren poreper, sms an dan ngobrol tiap hari. Apa ini benar atau tidak hanya saya dan dia yang tahu, jadi jangan ikut-ikutan. Bersikap boleh, tapi jangan menyerang yang anda nggak tahu. Jangan ikut-ikutan memukuli orang hanya karena semua orang terlihat melakukannya.

Saya benar-benar berharap lebih banyak orang membaca dan membeli buku saya "Dear, Mantan Tersayang" terbitan Grasindo. Membaca saja sudah bagus, tapi memiliki lebih bagus lagi karena karena ibarat text book, buku ini bisa terus dibaca dan dibaca ulang. Buku itu menjelaskan tentang bagaimana mencintai diri sendiri, mencintai pasangan secara realistis, dan apa yang harus dilakukan saat perselingkuhan terjadi. Buku ini bisa menjadi pegangan untuk tetap rasional saat yang terburuk terjadi.

Bagi saya, mengerti apa yang terjadi itu lebih sehat daripada balas dendam mempersekusi pelakor. Mimpi anda sudah hancur, kenapa terus menghancurkan hidup anda juga dengan amarah yang tak terkontrol? You deserve better. Anda berhak mendapat yang lebih baik.

Mari kita memberikan porsi amarah yang sepantasnya pada yang memutuskan selingkuh. Orang pikir-pikir untuk tergoda narkoba dan alkohol karena mereka tahu resikonya, kenapa kita tidak berpikir yang sama dengan ketidaksetiaan? Bahwa ketidaksetiaan tidak bisa diterima secara norma dan resiko pribadinya terlalu berat. Ini yang akan meredam tingkat ketidaksetiaan. Ingat, pelacuran yang profesi tertua belum punah dari muka bumi ini, jangan berharap "pelakor profesi" akan hilang dengan supresi para pelakor.

Perselingkuhan bukan tentang pelakor, tapi tentang hubungan yang sudah tidak harmonis, tentang pasangan yang memutuskan tidak setia, tentang dinamika kedua orang ini. Mari kita memberikan porsi yang seharusnya, dan terutama 'menghukum' orang yang berulang kali tidak setia. Lu bolak balik menyakiti orang lain dan lu berharap gue percaya dan respek sama elu? Jangan harap bo'.

Tuesday, November 21, 2017

What Ifs

The beauty danced and smiled
Yet frozen inside
"What if he knew I am poor
And doesn't even have a gown of my own?
Let alone the glass slipper
Or the ashes that I have to clean?"

The sweetheart lowered her eyes shyly
Yet gripped inside
"What if he learned of my scaly legs
That I can't partake of seafood dine
Or that I don't know human manners
Because I am not even one?"

The alluring tilted her head innocently
Yet crushed inside
"What if he realized my fear for human
And for everything else under the sun
Which is why I am so pale
That I am no beauty, just a coward?"

The lovely blinked her eyes beautifully
Yet nauseated inside
"What if he found out about my depression
So crippling I can't force myself to work
Motivation and ambition means nothing to me
Caught in it too deep I resort to sleep?"

The enchanting giggles behind her book
Yet horrified inside
"What if he found out my low self-esteem
Thus my books and my loneliness
That I am a reject of the society
And I am absolutely nobody?"

The fairytale continues
And happily ever after is guaranteed
But states of mind are untold
Restlessness inside is unspoken
A thousand "I love you" is possible
But a million "What if" is definite

The true fairy tale is to live without the "What if"
Find the perfect setting
Find the perfect character
Slay the Monster of Doubt
Then live happily ever after
The end.

But who has such luck?
Who has such strength?
Life is not a 10-page storybook
So here we are with our "what if"
Looking for the closure and acceptance
Looking for the happily ever after

For every "What if" we need someone
Who smile and say "It's alright"
For every "But, really, what if" we need someone
Who holds our hand and say "It's ok"
For every "No, you don't understand. What if?" we need someone
Who look into our eyes and calmly say, "I am here."

That would be my fairy tale
That would be my happily ever after
Because doubt is a thousand-headed Hydra
You chopped off one and another one sprung
Till it renders you cripple
Till it eats you alive

Stay with me and have faith in me
And remind me to have faith in myself
Be the lighthouse of my stormy life
Be the anchor that tied me safe in your harbor
This is my fairytale
This is my happily ever after

Till then I will dance with the beauty
I will swim with the sweetheart
I will stay inside with the alluring
I will cuddle with the lovely
I will read with the enchanting
And together we'll say to each other, "But what if..?"

Saturday, November 18, 2017

Dare to Love

I cleaned out my computer files today, and I found a picture of me and an ex-boyfriend. That beaming smile, that confident eyes, that certainty that he was the one, that for once my life will be alright. I was so pretty. Even prettier than when I was with my ex-husband, and back then I thought he was the one too.

Just like my marriage, it didn't work out.

Why do we love, anyway? Nothing lasts forever. Human is too finicky for our own good. Mind changes faster than politicians taking sides. That, or us blinding ourselves of the truth, only seeing what we want to see and refuse to accept the whole package. Either way, disappointment is bound to happen.

When that one moment arrives, it is that special feeling as if everything falls right into place and for a brief moment you can see the whole completed jigsaw, or you'd like to think so. You are Disney's Cinderella, transfixed to your Prince(ss) Charming, quietly and dazedly mumbled: "So this is love… So this is what makes life divine..." Nothing, nothing can go wrong.

At least for a minute or two. Then the world starts to go crashing down, or stagnation crept in. Then it's like a bad series of franchise movies, where it gets worse and boring with every new production but you don't have the heart to stop watching it because you are already committed to it.

And when it is all over, you sat there and weep. You walk around acting like nothing happened, other than how the world seemed so dead to you. You flinched every time someone smiled at you, or when they showed the slightest interest in you. Not again. Not so soon, anyway. That last one was special, therefore it shouldn't be forgotten that soon, right?

Yet even after that, your heart will give way again. And then you'll be in love again. You'll forget how awful it will make you feel, or the amount of hard work you have to put to make it work. It doesn't matter. The fun right now is what matter. You are going to be drunk on love, and it feels so damn good. Come what may, you'll be careful anyway. Or so you say.

Then the morning comes, along with regrets and 'hangovers'. And you swore never, never again. You closed your eyes and heart. No more, you promised yourself. Until the next person arrived, and you fell in love yet again.

Was it worth it? I don't know. For me it was. I make a name by writing about romance and such, which almost all stemmed from my own romantic escapades. For some, it wasn't. They'll guard their heart carefully and even rejecting the notion of happiness, devoid of all emotions. It's akin to choosing to eat minimally spiced food to protect yourself from adverse health risk, as opposed to getting all crazy with explosive spices and exotic herbs. Nothing wrong with either.

I live for those moments. I live for those tender touch and hungry eyes, for the nervous smiles and warm embraces. I live for love. Whose love, I cannot tell, as I observe my locked soul. The fires that burn outside has nothing on the icy cold soul inside. 'The one' might never arrive, and honestly, I kinda hope he won't arrive. I am good with where I am right now.

The fear of love debilitates me, the same love that gave me wings. "You'll heal," they say, "you'll love again." Maybe. Not really counting on it, but maybe. When the time is right. When the grief has ebbed. When the heart is strong again. When I finally dare to love again. For now, I am my own friend, my own companion, my own lover. Honestly, it's been great so far 😉 .

Thursday, November 16, 2017

Berpindah Haluan

Kemarin saya ke Universal Studio lagi. Akhirnya menyerah beli Annual Pass (tiket setahun), dengan alasan untuk menemani teman SMA yang sedang main ke LA. Ini epic banget lho, karena sebelumnya saya males banget pergi ke taman hiburan. 

Saya selalu berpikir pergi ke taman hiburan itu garing, apalagi saya jomblo. Saya juga nggak fanatik banget sama film dan sebagainya. 3 tahun lebih tinggal di LA, nggak pernah sekalipun pergi ke Disneyland atau Universal Studio yang notabene sejengkal dari rumah. Yah, nggak sejengkal amat sih. "Mahal," alasan saya yang lainnya, padahal Annual Pass Universal Studio itu lebih murah dari budget jajan saya sebulan. Pokoknya nggak deh.

Perasaan saya berubah saat dapat kesempatan masuk ke Universal Studio secara gratis. Siapa sih yang nggak suka gratisan? Orang-orang yang bersama saya itu menyenangkan. Saya masuk atraksi nggak pakai mengantri karena kebetulan teman saya punya Fast Pass. Pokoknya semua menyenangkan deh. Segala iming-iming yang saya dengar sebelumnya mendadak masuk akal. Dunia terasa indah. Saya nggak mikir dua kali untuk beli Annual Pass dan minta cuti dengan alasan 'menemani teman'. 

Kenapa sih agama nggak seperti ini?

Seriusan lho. Kalau saya pertama kali ke Universal Studio ini dengan paksaan, baik karena ancaman, karena diledek, atau karena dibuat merasa tak nyaman dengan diri saya, pasti saya yang nggak lagi-lagi deh main kesana. Males banget kan. Nggak butuh-butuh amat juga. Tapi pengalaman saya dengan Universal Studio ini sangat positif, sangat menyenangkan, dan saya merasa sangat bermanfaat untuk diri saya. Seperti saya bilang, malah saya yang antusias untuk menjadi 'warga' Universal Studio.

Kebayang nggak kalau ini agama dan/atau kepercayaan? Saya sih nggak mengerti ya kenapa orang suka repot mengajak orang masuk agama/kepercayaan lain. Apakah karena merasa benar sendiri? Apakah karena mengharap pahala (baca: recruitment bonus) bagai pekerja MLM? Apakah karena memang ingin membantu orang? Tapi kalau mau membantu orang, berlaku agresif dan memaksakan pendapat kayanya malah bikin orang kabur, bukan?

Soal rekomendasi, saya pakarnya. Kalau ada orang yang duduk ngobrol sama saya, pasti saya akan memberikan rekomendasi ABC. "Coba deh jalan-jalan naik kereta, asik lho!" "Nonton opera itu bisa cuma seharga $16 lho!" "Naik blue line ke Santa Monica itu paling top deh…" Kenapa? Karena hal-hal yang saya rekomendasikan itu membuat saya bahagia, dan saya ingin membagikan kebahagiaan saya kepada orang lain. 

Namun kalau terlihat orangnya nggak nyaman atau nggak tertarik rekomendasi saya, ya sudah, nggak apa-apa. Saya harus menghormati perasaan lawan bicara saya. Lagipula, yang cocok buat saya belum tentu cocok dengan orang lain. Ada orang yang nggak suka pedas, ada orang yang takut ketinggian, ada orang yang nggak suka bergaul. 

Nggak ada satupun rekomendasi yang semua orang pasti cocok. Kalau buat saya itu memang cocok buat orang tersebut, pendekatannya yang saya ubah agar sesuai dengan kebutuhannya. Kalau masih nggak cocok ya nggak apa-apa. Mungkin belum saatnya. Nggak usah dipaksa.

Adem kan kalau begini? Seperti saya dan Universal Studio tadi. Yang mengajak saya pertama kali (dengan gratis) itu orangnya baiiiik banget, dan saya percaya sama dia. Kalaupun saya harus bayar setengah harga mungkin saya masih mau bela-belain, karena ya itu, orangnya yang suuuper baik dan sudah menunjukkan dia bisa saya percayai. 

'Trust is earned, respect is given, and loyalty is demonstrated.' Kepercayaan itu didapatkan (dari usaha), rasa hormat itu diberikan, dan kesetiaan itu ditunjukkan. Teman saya telah memperoleh kepercayaan saya, telah memperoleh rasa hormat saya, dan telah menunjukkan kesetiaannya. Jangankan disuruh datang main (gratis) ke Universal Studio, disuruh menemani main ke kuburan pun mungkin saya mau.

Dikala riuhnya kesinisan soal artis yang lepas jilbab, atau cerita teman berjilbab yang dibentak ibu-ibu yang juga berjilbab saat mencari tahu lebih lanjut tentang pendaftaran di sekolah Kristen, saatnya kita bertanya, apa sih yang kita cari dari agama kita? Jangan salah, semua agama dan kepercayaan memiliki orang-orang yang seperti ini, para ekstrimis yang menggunakan agama untuk menjustifikasi tindakan dan hasrat mereka. Baca deh soal ekstrimis Hindu di India, ekstrimis Katolik di Irlandia, ekstrimis Kristen, Buddha, semua lengkap kok. 

Kalau memang niatnya baik, sampaikanlah dengan baik. Nggak ada lho ceritanya Tuhan menilai dan menghakimi: "Ih jijay deh eike sama yu," Ada juga bertebaran cerita betapa pengasih dan pemaafnya Tuhan, yang bahkan mahluk terkecil dan terhina pun dikasihi. Siapa kita sih yang dengan pedenya takut ketularan jelek, makanya sibuk menghakimi? Bila iya, apakah itu nilai agama bagi kita, sekedar pembenaran diri bahwa kita lebih baik dari yang lain?

Kita mencari kebaikan di dunia ini, dan kita ingin membagikan kebaikan itu, ingin membagikan hal-hal yang membuat kita bahagia agar orang lain ikut bahagia. Wajar banget kok, dan terimakasih banyak sudah menjadi seseorang yang super dengan mau berpikir tentang kebahagiaan orang lain. Ini yang harus ada dalam tiap langkah kita: ketulusan hati ingin membuat orang lain bahagia.

Kalau dia nggak bahagia dengan rekomendasi kita, ya pendekatannya yang kita ubah, atau bahkan diri kita sendiri. Sudahkah kita menunjukkan kita layak mendapat kepercayaannya dan membuatnya percaya kita memikirkan kebahagiaannya? Kalau masih tidak bisa, biarkan dia dengan pilihannya. Ingat, nggak semua orang cocok dengan apa yang cocok untuk kita. Pilihanmu pilihanmu, pilihanku pilihanku.

Nah sekarang, kalau ada pembaca yang main ke Los Angeles kasi tahu ya, kita main ke Universal Studios bareng hihihi.

Monday, November 13, 2017

Narasi Hidup

Kemarin saya diajak masuk ke Universal Studio gratis. Karena dadakan, saya hanya sempat berada disana 3 jam saja, tapi itu sudah lumayan banget, mana teman punya fast-pass pula jadi nggak usah mengantri. Rejeki anak baik.

Lho, memangnya saya anak baik? Nggak tahu ya. Mungkin bagi banyak orang saya biasa saja, mungkin bagi beberapa orang saya horror dan tidak baik. Tapi bukti berbicara, rejeki saya lancar jaya dan orang-orang baik sama saya.

Sering kita melihat postingan: "Nggak bisa kalah kalau bersama Tuhan". Ya ini maksudnya. Kalau ada yang kita percayai, apapun sebutannya, kita nggak akan kalah atau bertekuk lutut. Begitu dapat masalah nggak gentar, karena percaya Tuhan (atau kosmos atau apapun) akan membantu kita dan menguatkan kita. Masalah tetap berlangsung, kita berpikir itu ujian dan makin pede menjalaninya. Masalah membuat kita terkapar, kita berpikir kalau sedang dicoba oleh Tuhan. Bagaimana energi negatif mau menang kalau begini caranya?

Begitupula saat mendapat anugerah. Biarpun kita pantas mendapatkannya, tetap merasa bersyukur dan nggak pantas karena kan Tuhan (atau kosmos atau apapun) itu keren banget, sementara siapa pula kita? Kita yang merasa perlu membagi anugerah ini pada sesama karena mungkin hanya numpang lewat/titipan saja, atau yang ingin orang lain merasakan nikmatnya anugrah Tuhan juga. Lagi-lagi, bagaimana energi negatif mau menang?

Kelihatannya enak ya hidup saya, nggak kurang satu apapun. Tapi kalau saya mau protes dan merasa hidup saya itu berat, bisa banget kok. Narasi hidup kita, kan kita yang atur. Ada orang yang hidupnya terlihat berkecukupan tapi hati merasa kurang, ada orang yang hidupnya nggak banget tapi hati merasa cukup. Kurang-lebihnya kita, kita yang mengatur.

Kalau soal kecukupan kebutuhan hidup, itu sudah jelas. Kita butuh dan harus berusaha agar setidaknya kebutuhan dasar seperti sandang pangan papan itu terpenuhi, begitupula dengan akses pendidikan dan kesehatan. Bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain, untuk semua orang.

Dan disinilah kita terpaku: semua orang. Hidup kita bukanlah melulu tentang diri kita sendiri. Hidup bukanlah sebuah perjalanan mengejar 'surga', apapun definisi 'surga' itu, entah kenikmatan setelah mati atau kenikmatan duniawi. Hidup bukanlah seperti game yang pelaku utamanya maju terus pantang mundur mengejar garis finish. 

Hidup itu bagaikan sebuah mosaik yang indah, yang tiap bagian yang berbeda bersatu membuat sebuah karya seni yang indah. Hidup itu bagaikan film atau novel yang tiap orang memiliki peranan tertentu dan di akhir cerita kita berkata, "Whoa…". Hidup itu bagaikan pohon, yang setiap bagiannya tumbuh dan berkembang dan menjadi tempat hidup/habitat mahluk lain.

Kita yang sibuk melihat kedalam, seringkali tidak sadar dampak apa yang kita berikan pada orang lain disekitar kita, pada dunia yang kita tinggali. Senyuman kita, keramahan kita, kepedulian kita, semua ini berdampak bagi orang disekeliling kita, baik yang terkena imbas langsung atau tidak. Entah berapa kali kesedihan saya lenyap saat melihat dua orang yang tidak saling mengenal sibuk berbincang dan tertawa lepas. Atau saat melihat seseorang yang tampak begitu bahagia, walau saya tak mengenalnya.

Sebaliknya, saat berada di dekat orang yang marah-marah, saat berada di dekat orang yang tampak membenci dunia, rasanya dunia menjadi ikut kelam. Tidak ada yang lebih menular daripada energi negatif, yang bagaikan awan gelap menutupi matahari membuat semua orang menggigil dan tak nyaman. Dan terkadang, orang dengan sengaja menularkan energi negatif ini untuk membuat dirinya sendiri merasa lebih baik.

Tapi itu gunanya kita punya Tuhan, kita punya sesuatu yang kita percayai. Kita belajar rendah hati, bahwa ada yang lebih 'besar' daripada kita. Kita belajar tahu diri, bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita belajar percaya, belajar memberi, belajar berbagi, karena bukankan Tuhan yang kita percayai telah memberi, membagi, mempercayai kita?

Terkadang kita sibuk meng-secure tempat kita di kerajaan Tuhan, kita lupa kitalah perpanjangan tanganNya. Kalau pas bagian menghukum orang lain, langsung mengaku-ngaku utusan Tuhan, pede banget gitu ah hahahah. Padahal ya, Tuhan kan konon maha pengasih dan penyayang, kok bukan bagian itu yang kita berjuang untuk sebarkan di dunia ini?

Kita nggak pernah perlu alasan untuk baik pada seseorang, untuk menyapa hangat atau tersenyum ramah. Satu-satunya alasan yang valid adalah kalau orang tersebut terlihat dalam kesulitan, kehangatan hati menjadi sebuah keharusan dan bukan hanya pilihan. Kita nggak perlu pilih-pilih siapa yang akan kita perlakukan dengan baik, karena Tuhan juga nggak pilih-pilih saat membagi anugerah kan? 

Mungkin hidup saya nggak enak-enak banget, tapi saya saja yang berdelusi ria. Tapi rasanya enak lho. Saya pernah hidup terbakar amarah. Saya pernah hidup beranggapan semua harus seperti apa yang saya percayai, dan orang-orang yang tidak sesuai standar saya adalah warga negara kelas dua, nggak level dan nggak penting. Terus dan terus api itu membakar sampai tak ada lagi yang tersisa kecuali arang yang menghitam didalam jiwa.

Namun perlahan tunas baru muncul, pucuk hijau yang menjanjikan kehidupan. "Sudah ah marahnya," "Nggak apa-apa kalau mereka beda," "Emangnya loe siapa?" "Tiap orang punya cerita sendiri," "Dunia itu… indah ya." Satu demi satu mereka muncul dari arang yang menghitam itu, menutupi kelam yang tersisa dan melahirkan jiwa yang baru: Jiwa yang percaya, jiwa yang welas asih, jiwa yang berperasaan.

Dan sekarang, hidup saya indah. Kulit saya berseri dan rambut saya tergerai indah. Senyuman saya membuat orang merasa hangat, dan keberadaan saya membuat ruangan terasa terang. Hampir tiap kali saya selfie saya harus meng-sms teman saya setelahnya: "Gilak, kok gue cakep banget ya??" Bukan pamer, tapi beneran nggak percaya. Soal rejeki… jangan ditanya. Indahnya hati akan tercermin pada indahnya diri, dan secara kolektif akan terlihat pada indahnya dunia.

Hidup kita adalah narasi yang kita buat sendiri, yang kita pilih dan terapkan dalam hidup saya. Narasi saya adalah senyuman dan iman, gelak tawa dan petualangan, hangatnya hati manusia dan indahnya kasih Tuhan. Apa narasi hidup anda?

Thursday, November 9, 2017

Indonesia Berbenah

Ngebaca keluhan orang soal nggak bisa sms banking di luar negeri karena kartu SIM Indonesianya nggak bisa di registrasi. Antara kasihan dan pengen tepok jidat rasanya hahaha.

Jadi gini yaaaa.... Sistem bank di Indonesia itu minta diurek-urek rasanya. Makanya saya nggak pulang-pulang 😅. Jangankan yang SMS banking, saya yang murni pakai online banking saja ingin nangis dayak tiap kali harus transfer uang antar bank di Indonesia. Repooooot.

Asal tahu, lebih cepat saya transfer uang dari bank saya disini ke akun saya di Indonesia daripada dari sesama akun Indonesia hahaha. Dan SMS "Mama minta pulsa" itu ga ngefek buat saya, karena untuk tiap belanja/transfer online mesti pakai pinpad itu, sementara pinpad saya biasanya saya tinggal dirumah hahaha.

Disini transfer etc itu sih nggak perlu pinpad etc. Mau transfer antar bank kalau sesama teman/saudara tinggal pakai PayPal atau Venmo, bebas biaya. Mobile banking sebegitu canggihnya sampai mau deposit cek tinggal foto dan unggah di aplikasi hape bank tersebut. Saya terakhir ketemu teller itu cuma pas buka tabungan.

Keamanan kartu pun terjamin. Jarang banget saya pegang tunai, karena semua tinggal gesek. Mau pakai kartu debit atau kredit, bisaaaaa. Kalau tempatnya mencurigakan saya pakai kartu kredit, karena nanti bisa dicancel transaksinya kalau kenapa-kenapa. Bank pun aktif membatalkan transaksi yang mencurigakan. Saya pernah lho ditelp bank karena tumben beli Sephora (titipan teman) dengan jumlah besar. Ketahuan nggak pernah dandan xixixi.

Sementara itu di Indonesia... Pulkam tahun lalu saya nggak berani pakai kartu kredit saya, takut dibobol. Pake kartu debit akun bank Indonesia takut dicolong, dan tiap narik duit yang sibuk parno lihat kanan kiri. Belanja pakai kartu pada nggak ada mesinnya/nggak aman, bayar tunai yang "Wah ga ada kembalian mbak". Urgghhhhhh!!!

Mulailah anda mengangguk-angguk. "Tul, tul. Emang Indon itu yah...." Bentar bentar. Jangan salah. Di Amerika bisa gampang begini karena... Eng ing eng... Semua terdata! Yup. Karena semua punya nomor induk penduduk yang disini sebutannya Social Security Number (SSN). SSN ini juga yang dipakai untuk perpajakan, data gaji, buka usaha, semua deh.

Saya sampai disini nggak bisa begitu saja buka rekening bank, harus punya SSN baru bisa buka rekening. Waktu ingin buka rekening saat green card lagi diperpanjang, ditolak oleh bank, disuruh datang lagi saat kartu saya jadi. Dampaknya jelas, saya nggak bisa macam-macam. Nggak ada tuh cerita rekening dicuekin sampai mati sendiri karena proses menutup rekening terlalu berbelit. Selain karena prosesnya gampang, saya juga bisa masuk daftar hitam.

Sekali lagi kuncinya: terdata! Makanya saya yang sorak sorai bergembira saat program e-ktp mulai, atau sekarang saat registrasi kartu prabayar. Langkah bayi banget ini, tapi kedepannya semoga semua akan jadi lebih baik dan lebih mudah bagi rakyat Indonesia. Kalau dari awal sudah terdata, verifikasi dan proses apapun nggak perlu berbelit.

Apakah ada dampaknya? Jelas ada. Pencurian identitas adalah masalah besar disini. Karena semua tersambung dengan SSN itu, kalau ada yang bisa mendapatkan SSN plus data pribadi (tanggal lahir etc), orang bisa 'menjadi' kita: cari utangan, melakukan penipuan etc; dan kita yang bisa jadi tersangka. Oh noooo....

Karena semua terlacak, kita juga tidak bisa tipu-tipu disini. Nggak bisa punya rekening siluman dimana-mana atau money laundering. Mau urusan ilegal atau esek esek pun dana bisa terlacak. Transaksi tunai diatas $3000 itu wajib dilaporkan lho. Sementara di Indonesia banyak banget yang dengan santai jual tas/barang mewah sekian milyar di sosmed hahaha.

Jadi mending nggak usah dong. Ngapain bikin repot dan mengekang? Kita kan senang bebas bo'. Kita kan maunya bisa hura-hura tapi semua lancar jayahh. Idealnya tetap nggak repot daftar diri kanan kiri, tapi hidup teratur terjamin dan aman kayak di luar negeri. Err... Situ mengigau?

Penduduk yang terdata = turunnya tingkat kejahatan. Lho iya dong, kalau gampang kelacak males banget kan tipu menipu ria.

Penduduk yang terdata = mudahnya meningkatkan perekonomian. Pajak ketahuan siapa yang mesti bayar, dan duit pajak bisa dipakai untuk infrastruktur etc. Bukan buat pelesir ya sodara-sodara...

Penduduk yang terdata = penduduk yang terjamin. Karena jelas berapa banyak orang yang ada, tingkat pendapatan etc. Mau hitung subsidi silang orang ga mampu itu lebih mungkin. Kalau ada institusi yang menipu orang juga ketahuan, ada buktinya kan siapa setor ke apa.

Apa iya pendataan itu nyusahin? Iya bangeeeet. Apa iya pendataan itu perlu? Perlu bangeeeeeeet. Untuk alasan-alasan yang saya sebut diatas. Lagian, kalau kita iya-iya saja dengan pendataan dan pengecekan saat kita keluar negeri, yang kemana-mana harus siap nunjukin paspor, kenapa di dalam negeri malah sensi sendiri?

Apa iya proses ini bakal babak belur seperti BPJS? Pastinyaaaaa. (Ngumpet sebelum disambit sama temen temen yang orang DepKeu). Tapi siapa sih dari kita yang nggak pernah nyungsep cium tanah saat baru belajar jalan? Atau yang lahir langsung berjalan anggun ala model runway? Semua pada awalnya memang harus babak belur dulu sebelum terkoodinir. Awesome took effort. Keren itu butuh usaha.

Yang khawatir ini bakal balik lagi ke semrawut dot com begitu ganti pemerintahan, jangan dong ah. Berhenti berharap pejabat pemerintah mendadak jadi X-Men atau Justice League atau Ksatria Piningit. Kan kita negara demokrasi. Orang-orang yang baik, bersih, jujur di pemerintahan datangnya dari orang-orang yang baik, bersih, jujur di masyarakat. Jadi siapa yang mesti mulai berbenah sodara-sodara??

Colek juga oom tante encang encing mas mbak yang pernah merasakan atau sedang di luar negeri. Bantu mencerahkan yang di Indonesia gitu, dibagi pengetahuan dan pengamatannya kenapa disana lebih teratur, dan dibantu dipraktekkan disini juga. Jangan jauh-jauh melanglang buana eh pulang-pulang cuma nyebar hoax di watsap n fesbuk.

Jangan takut repot saat disuruh berbenah, saat dipaksa rapi. Nantinya demi kita juga kok. Kamar berantakan dan kamar yang rapi, mana yang lebih membuat anda bahagia dan ingin pulang? Yang kenal saya pasti tahu banget maksud saya hahahaha. #nggakbisarapi . Jadi jangan putus asa ya. Ingat, demi Indonesia yang lebih baik!

Saturday, November 4, 2017

Welcome To The New America

Imagine waking up in the morning, and reaching out to your phone. "Hello world," you said with a smile, or maybe with a grumpy tone. After all, like it or not, social media *is* a part of your world.

You unlocked it. You hit the button. Nothing happened. That's weird.

You tried pressing the button again. And again. And again. It keeps showing the message that your account was inactive. Maybe if you log out. And log in. And log out. And log in.

It takes a while to realize that somebody, somehow, deactivate your social media. You got tingle all over your body. If 'they' can deactivate it, what else can 'they' do with it?

Somebody told you your account was deactivated because it is nasty. Because you are a horrible, horrible person. And you just don't get it.

You are not a horrible person. You tried to bring people to their sense. You are speaking the truth. You are protecting what you think is important. And it is your right to speak. First amendment, right?

Maybe people take it the wrong way. But it is their business, their problem, not yours. You have the right to voice your opinion, and nobody has the right to silence it as long as it still within the acceptable scope. You are not breaking the law.

And for that reason, you do not deserve one-sidedly cut off like this. If you are not breaking the rule, nobody has the right to block your social media account. Just like nobody has the right to refuse you service in restaurants or other business. It will be discrimination.

But you still got blocked. And it is scary. It is scary because it shows rules doesn't matter. People can disagree with you and silence you. Your right to voice your opinion was taken away from you. What's next?

You remember the stories told by that Indonesian girl, how in her country people can get in trouble by saying something against the grain. You remember the teen in Singapore who got jailed for proclaiming he was an atheist. You remember the 'disappearances' of people who speak out against tyrans in other countries. It makes you shiver to the bones.

You absent-mindedly check your social media again. It was on now. You are back on track. It should made you leap with joy, right? Instead, it made you even feel colder and scared. No purpose, just because *they* disagree with with what you said, or who you are. Is this even America?

You check the statuses, likes, and such, and *they* are congratulating whoever did this. You don't break the rules, but people take matter in their own hand. Does that mean next time a majority decide on something and you are against it, they have the right to take corrective action towards you, regardless on what rules that has been laid out?

A lynch mob is a lynch mob. Just because *they* think it is right doesn't mean they can go at it, regardless whether the person who is prosecuted is right or wrong. That's why there is law, there are rules, so people don't infringe on other people's right just because they think they are the *good side*.

So people wont hurt others with different race.
So people wont hurt others with different belief.
So people wont hurt others in the name of "Truth".
So people wont hurt others (innocently) because they think they are doing the world a favor.

Yet people think what happen to you is ok, because they don't like you. Don't *they* understand this could work against them? That next time *they* are against bigger voices, *they* will get silenced too?

Your social media is back on again, but your rights are forever infringed. You will forever feel insecure, unsafe. Your safety net, the laws and rules around you, has been violated. You have been judged and prosecuted even though you are not breaking any rules.

All because you are not what majority wants you to be. All because you say things that doesn't corespond to 'the spirit' even though many silent ones might feel the same way you do. But you got prosecuted nevertheless.

Welcome, my dear, to the new America.

Thursday, October 19, 2017

Bukan Salah Anda

Saat disuit-suitin…
"Kamu sih, pakai baju begitu."
"Kamu sih, jalan sendiri disana."
"Kamu sih, keluar jam sekian."
"Lebay ah, bagus nggak dicolek."
"Makanya, jalan jangan menggoda."

Saat dicolek atau digrepe di bis…
"Kamu sih, bukan bawa kendaraan sendiri."
"Kamu sih, nggak waspada."
"Emangnya kamu nggak bisa teriak gitu, kan punya mulut."
"Kenapa mesti keluar sih?"
"Mungkin kamu terlihat 'Minta'."

Saat 'ditawar' atau dilecehkan…
"Udah, pergi aja. Jangan didengarkan."
"Ngapain juga diladenin, orang gila."
"Siapa suruh lewat sana, kamu memang cari masalah."
"Tapi dia kan berduit. Masalah loe apa?"
"Elu keliatan perek kali hahaha." 

Saat diperkosa…
"Ih, jijik melihatnya."
"Pasti dia yang kelihatan ngasi ijin, emang nggak bener."
"Jadi perempuan jangan kegatelan makanya."
"Nggak mungkin kejadian kalau dia cewek bener."
"Kok pasangannya masih mau ya?"

Saat mengalami kekerasan (seksual) di rumah…
"Itu kan suami, wajib dilayani."
"Bagus pasangannya udah nafkahin, jangan lebay ah."
"Siapa suruh pilih pasangan begitu, dari awal sudah nggak bener."
"Bagus punya pasangan, ga tahu diri sama muka."
"Wanita yang baik itu yang mengalah dan menerima."

Seringkali kita terlalu cepat memberikan pendapat, walau nggak diminta. Dan sangat sering pendapat yang kita berikan itu bukan pendapat, tapi penghakiman. Saat sesuatu yang buruk terjadi, kita seolah paling mengerti dan memberikan masukan "Mestinya kamu…", seolah kita bisa memprediksi apa yang terjadi sebelumnya.

Bagi yang pernah curhat sama saya, pasti tahu kalau saya nggak pernah bilang "Lagian sih kamu…" Buat apa? Sudah kejadian. Padamkan dulu apinya, bukan sibuk cari penyebab saat sekeliling anda terbakar hebat. Ada yang tahu di halaman berapa "Dear Mantan Tersayang" saya tulis ini ? #EhKokJualan . Lagipula, saya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, apa perasaan anda, apa yang menyebabkan semua itu terjadi.

Tapi lebih mudah menghakimi. Lebih mudah sok tahu. Lebih mudah berpikir kalau kita [baca: wanita] jadi orang [baca: wanita] baik-baik, nggak akan ada hal buruk yang terjadi pada kita. Kalau kita menjalankan hidup kita sesuai norma masyarakat, hidup kita akan lurus-lurus saja tanpa dinamika. Dan kalau ada sesuatu yang terjadi, itu salah kita.

Kalau dirampok… Itu salah kita
Kalau dipecat… Itu salah kita
Kalau diputuskan/diceraikan… Itu salah kita
Kalau dilecehkan… Itu salah kita
Kalau diperkosa… Itu salah kita
Kalau mengalami KDRT… Itu salah kita

Lalu kapan salah yang melakukan? Kapan salah orang-orang yang harusnya tahu itu tidak dilakukan, tapi tetap dilakukan? Bukan salah buah terlarang tumbuh di kebun surga, tapi salah Adam dan Hawa yang memakannya. Semua agama dan kepercayaan mengajarkan kita untuk menahan, mengontrol hawa nafsu. Semua agama dan kepercayaan menempatkan manusia sebagai mahluk yang mulia, yang memiliki akal budi diatas ciptaan Tuhan lainnya. Lalu kenapa manusia lain yang disalahkan atas ketidakmampuan kita mengontrol diri kita?

Bagi saya, anugrah terbesar Tuhan untuk manusia adalah empati, kemampuan merasakan apa yang orang lain rasakan. Bukankah Tuhan juga demikian? Bukankah Tuhan mampu merasakan apa yang dirasakan umatnya? Tapi dengan ketidak-tahuan (serta kesok-tahuan) kita, kita menempatkan diri kita 'lebih' dan 'maha tahu'. Kita tidak lagi mampu merasakan apa yang dirasakan seseorang yang berduka, karena "Toh itu salah dia,". Sejak kapan kita sedemikian jauh dari Tuhan?

Bagi anda yang disuit-suitin di jalan, bukan salah anda.
Bagi anda yang disentuh dan dilecehkan, bukan salah anda.
Bagi anda yang dipaksa berhubungan badan, bukan salah anda.
Bagi anda yang di'tawar', bukan salah anda.
Bagi anda yang terpasung dalam KDRT, bukan salah anda.
Bagi anda yang diperkosa, bukan salah anda.

Semua ini membuat diri kita terasa kotor, terasa murah, terasa begitu menjijikkan. Kepercayaan diri kita hilang, dan hidup menjadi kelam penuh ketakutan dan amarah. Walau secara fisik kita terlihat utuh, kekerasan seksual merampas bagian yang penting dari diri kita: Harga diri. Dan saat kita mencari tempat aman, seringkali penolakan yang kita terima, baik karena orang-orang merasa lebih baik dari kita maupun karena mereka tidak tahu harus berbuat apa.

Saya tahu harus berbuat apa. Saya bisa berempati.

Bagi anda yang merasa kotor, nggak. Anda nggak kotor. Anda tetaplah anda. Bagi anda yang merasa takut, masih ada tempat aman di dunia ini, masih ada orang-orang yang mampu mengontrol diri. Bagi anda yang merasa hilang dalam amarah, ada tempat damai menanti anda saat anda siap. Dan satu hal yang pasti, anda tidak sendiri. Tangisanmu adalah tangisan saya. Amarahmu adalah amarah saya. Kepedihanmu adalah kepedihan saya. 

Tidak ada yang berhak mengambil sesuatu yang bukan haknya, bukankah semua kitab suci dan lontar menuliskan seperti itu? Bukankah sepanjang hidup kita kita diajar (dan terkadang dihajar) untuk mampu mengendalikan hawa nafsu? Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang welas asih dan penuh cinta, yang bahkan menghargai kita umatnya yang nista dan penuh dosa? Bukan salah seseorang memiliki harta, salah pencuri yang menganggap itu haknya.

Bukan salah anda. Bukan salah anda. Bukan salah anda.

Tuesday, October 17, 2017

Me, Too

I stood in that dinghy room, trying to put on my clothes as fast as possible. The sun will soon set and my folks will be wondering why I was late from work. Except I wasn't at work. I was in a rendezvous with a guy I met on the internet. A quick meeting where I ended up getting screwed, literally and figuratively speaking.

For years I told myself it was not an assault. We met, we kiss, and then we fuck. I was fully aware that that's what going to happen. After all, was I not the one who obediently agreeing to hang with him? I was a bad, bad girl for saying yes to a date so fast, even though I barely knew him. I got what I deserve. Good girl doesn't wander around meeting strangers off the internet.

I spent the next six months waiting nervously for my HIV test. But I deserve it. I did the walk of shame at the doctor's office, a haughty residence that scorned visibly at me when I told her I was unwed but need STD testing. But I deserve it. My ex-boyfriend said he can't be with me again. But I deserve it. I was told for years by the person I loved what a cheap whore I was. But I deserve it.

I deserved those wretched periods. I deserved that filthy look. I deserved the shock when his wife (whom he said he had none) called me on both of my numbers and cussed me for sleeping with her husband. I deserved the "Oh wow, I didn't know that" by a mutual friend who previously swore he's a good man, and then that friend conveniently disappear after. I deserved that all. After all, am I not just a filthy whore who gets what she deserves?

But I don't deserve all of that. 

It wasn't after my divorce and my life in the US that I started to see things with a different perspective. The male enhancement that I saw in the room. The ease of talking of him and his friend. The phone that kept on vibrating. It was a setup. A trap. They knew what they were after, and I fell in their trap. They want free sex, and many women will give it to them. I didn't know. Even though I talked big and bragged about it afterward, inside I feel so filthy, so low. I feel like something was taken from me.

"But it's your decision. You deserve it." No. No, I don't. Now that I understand myself more, there was no way that man doesn't realize I don't want it. It took an hour or so with heavy hints for me to finally followed him to the room. And in there, it was not voluntarily i.e. I wanted to have him, it was "Oh fuck, I guess I have to follow with the program." It was a "yes" under pressure. It was a "yes" because I don't feel like I have an option. Because I already choose to be the whore when I decided to meet him.

The pattern continues with the next few men I dated. If I decide on meeting up with these strangers, sex is to be expected. My feeling was irrelevant. With the first foreigner I dated, I even went as far as making an excuse: "I exchange sex with good conversation, it's perfectly acceptable". Which speaks volume of my desperation, as my country was a very conservative country. I was already a whore. I was already tainted. Yet I feel so filthy, so dirty.

To many, very many people, assault is physical, violent. That's why when there was no visible violence going on, it is not considered an 'assault'. Being proposed for lewd acts, men showing up their dicks, getting masturbated into in a public place, catcalled or being ogled at, these are all being dismissed by "You have the option to leave," "Nothing's missing from you anyway," "No harm done," "Well maybe if you dressed…"

No. No. No.

1) We do not have the option to leave. A lot of times assault victim is placed in the position where they don't really have the option to leave or even to say, "Fuck off". Me with the predators back home. The authority figures (boss, teacher, partner, etc) whom we just can't say no to without jeopardizing our position. The society who pressed us into submission and made us think it is ok for us to be treated that way.

2) Nothing's missing from us. Well, nothing's missing except our pride and self-esteem. Nothing's missing except the feeling of safety that we have and our trust in people and the world. As for "No harm's done", we are reduced into feeling we're nothing like a slab of meat. Our feelings, our thoughts, our self does not matter. Our self-confidence was destroyed and we saw the world, perhaps forever, as scared as a rabbit might. Is that not enough harm?

3) I already have ample breasts by the time I was in high school, and I'll never forget the way the school guard looked at me in my uniform. What, you expect me to get a breast reduction at that age so people won't ogle me? Or do you want me to cover up from top to bottom as to not rouse the very fragile manhood? But men get raped too. Shall we all get covered then?

I dated a man not long after my divorce. We met, he was fun, I knew panty drop will happen. Because it was expected, right? His words forever change my life: "When you are ready." He could've very easily taken advantage of me, me being confused and hurt at that time, but he didn't. Few more date nights happened, but nothing happened. I asked him then, "Don't you want me?" He shrugged. "When you are ready. I will feel guilty if I take advantage of your emotional state," I cried so hard in his arms his dog started barking, thinking he had somehow hurt me.

Another date asked my permission to possibly have sex once we're home from the club. I looked at him confusedly and asked, "Why? You know I won't mind." He replied, "I don't want to have sex without consent, especially if you get too drunk to give consent later." Another date always asks me ever so nicely, and never once our Netflix and Chill turned into sex flicks and willies. These people know I will always say yes, being the somewhat-nympho I am, but that doesn't mean they won't respect how I feel or what I think. This, this is the standard to live on.

If the current me was placed with that predator a decade back, I know I can say, "Not now, homeboy." Because I know I have options, I know I will not be preyed upon. Not by predators like him, not by society, not by the insecure lovers who beat me emotionally to make them feel good about themselves. But the only way to know you have these options is to learn it from your surroundings, by seeing and learning from others. It falls in our shoulders and our hands to established acceptable boundaries and instilling one's worth.

It's ok to say no.
You need to listen what other's feel.
It's not your fault when you are assaulted.
You should not assault people.
What happened to you does not make you an object.
Do not objectify people.
Treat people like you want to be treated.
Have compassion. Have mercy. Have respect.
Don't let your lust run your head.
There is not a single person that is 'asking for it', unless he/she on his/her own clear conscience come to you and literally asked for it, whatever 'it' was.

Changes don't happen overnight. While it was overwhelming to read so many #MeToo stories, nothing will change if we do not take action. Men and women should work together, should realize that when assault happens, it is a crime. Focus on the victims and make them feel better, punish the perpetrators so people will think twice, but above all, understand that it. is. a. crime. Safety and self-esteem are one of the most precious things a person can have, and nobody has the right to rob a person of it.

I feel like I need a good long shower after this, and I might just do that. As measly as it was, my story still scarred me. The repeated words of how dirty I was, both from myself and from others, were still echoing now and then. But I am getting better. I am getting stronger. And no, I do not 'ask' for it nor do I 'deserve' it. Me, too. Me, too.

Thursday, October 12, 2017

Cinta Dalam Sepotong Beha

Saya tuh paling hobi belanja daleman. Terutama beha, apalagi disini kalau lagi sale bisa cuma $8. Biar saya belanja merk Victoria Secret atau La Senza, nggak pernah seingat saya beli yang harganya diatas $15. Model dan warnanya pun beragam, mulai yang biasa, yang ceria, sampai yang siap tarung (#aww).

Tapi saya nggak selalu seperti ini. Waktu masih di Indonesia punya satu dua jeroan yang seksi, tapi hampir semua 'normal'. Sesuai budget dan sesuai kebutuhan, titik. Setelah di Amerika pun, karena masih bergantung pada si mantan, tahu diri nggak minta macam-macam. Cukup yang ada saja. Toh nggak ada yang lihat.

Namun setelah saya berpisah dengan si mantan, saya memberanikan diri melirik VS. Belanja pertama masih polos, barang yang dibeli nggak diskon-diskon amat dan tampilan masih "normal". Belanja-belanja berikutnya perlahan menggila, renda dan tali saling silang dimana-mana hahaha. Sekali beli cuma 1-2 potong, tapi karena sale nya bisa 2-3 bulan sekali...

Tapi ini lebih dari sekedar beha. Walau nggak terlihat, namun secarik kain ini memberikan rasa nyaman dan kepercayaan diri untuk saya. Ini lho saya. Saya yang kuat. Saya yang seksi. Saya yang menarik. Baju luar boleh cuek, tapi isi dalam sangat 'saya'. Untuk pertama kalinya saya menerima diri saya apa adanya. Dan ya, mulai mencintai diri saya sendiri.

Langkah berikutnya: baju. Mulailah saya membeli baju-baju yang saya sukai. Lalu makeup. Mulailah saya merias diri. Lebih cermat memperharum diri. Seiring dengan perkembangan kepercayaan diri saya, saya terlihat semakin menarik, dan lebih mampu memilih dan memilah calon pasangan. Saya bukan yang dulu lagi. Saya tidak keberatan jomblo sampai mendapat yang sesuai standar saya.

Dan semua ini terjadi karena beha.

Tiap orang punya sesuatu yang mendefinisikan dirinya, sesuatu yang sangat ia sukai sehingga walau besok kiamat pun ia akan oke saja selama ia masih memiliki benda itu. Buat saya, beha. Buat teman saya, karir menarinya. Teman yang lain, meditasinya. Ada yang 'pegangan'nya sepatu atau tas. Ada yang senang gelang atau per-akik-an.

Semua orang punya benda seperti ini, tapi tidak semua orang tahu atau ngeh benda apa yang dimaksud. Kadang nafsu juga disalah artikan sebagai zona nyaman, yang mengkoleksi barang hanya agar bisa berkata: "Gue mampu lohhh..." Atau sebaliknya, menolaknya karena merasa ada yang lebih penting.

Hidup itu... Berat. Kalau ringan namanya gulali. Dalam ketergesaan dan ke-stres-an kita dalam hidup, tak jarang kita menafikan bagian dari diri kita, apalagi ditambah tekanan masyarakat yang "Loe harusnya..." Lalu di penghujung hari kita merasa tersesat, merasa bingung, merasa tak tahu arah. Bagaimana kita bisa menavigasi di dunia yang riuh, bila kita sendiri tak tahu siapa diri kita, tak nyaman dengan siapa kita?

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, dan kita tidak mencari sekedar pelipur lara laksana alkohol dan candu. Yang kita cari adalah sesuatu yang sangat 'anda', sesuatu yang membuat anda nyaman dan mencintai diri anda sendiri, sesuatu yang akan menjadi jangkar kokoh anda disaat lautan mengganas agar anda tak lagi kehilangan diri anda.

Kepercayaan diri dan rasa nyaman dengan diri sendiri adalah investasi yang terbaik yang bisa anda berikan untuk diri anda dan orang-orang disekitar anda. Selama anda mampu, tidak ada salahnya memiliki sesuatu yang membuat anda nyaman dan pede, untuk mengingatkan diri anda: "You are worth it". Nggak ada operasi plastik yang bisa menyamai binar di wajah seseorang yang sadar dirinya berharga.

Hidup ini rumit. Kadang lebih gampang setel mode otomatis dan menurut apa kata orang. Tapi kita kan bukan sapi atau bebek yang tinggal ikut apa kata gembala. Kita manusia yang memiliki naluri untuk maju, untuk berkembang. Kita bukan sekedar bunga dandelion yang terlupakan di halaman rumah, kita adalah mawar yang merona ganas, melati yang harum semerbak, anggrek indah nan eksotis.

Dunia terus berputar, dan perubahan terus terjadi. Apakah yang kita inginkan dari dunia? Apakah yang kita inginkan dari diri kita sendiri? Karena diam bukan lagi sebuah pilihan. Anak cucu kita bergantung pada kita untuk memberikan mereka dunia yang aman dan baik untuk mereka. Kita pun harus berani bertanggung jawab untuk memajukan diri kita sendiri.

Carilah 'cinta' itu didalam diri, carilah jangkar yang akan melabuhkan anda. Pupuk bibit itu lalu rangkullah diri anda sendiri. Dan mekarlah, pembaca tersayang. Mekarlah dengan sempurna dan percantik dunia yang begitu menakutkan ini. Jadilah oasis penyegar di bumi yang panas ini. Bagaimana anda bisa mencintai orang lain dan dunia bila anda tidak mencintai diri anda sendiri? Bersinarlah, pembaca-pembaca saya. Bersinarlah.

Monday, October 9, 2017

On The Altar of God I Kneeled

On the altar of God I kneeled
Eyes wide in horror
Lips slightly opened in desperation
A singular tear fell down my cheek
Too stricken to cry some more
"Please…" I called in a whisper
"Please…" My voice rasped with pain
"Please help us…" I said inaudibly
Too devastated to say it out loud
The anguish of the world rushed upon me
Drowning me, waves after waves
I struggled to breathe, to keep my sanity
Yet there is too much pain
Too much sadness
Too much loss and defeats
"Please…" I whisper again
"I beg you…" The eyes grew wider in fear
"Help us, please… I beg you…"
Then the head hung down
Embarrassed for asking such favor
Rejected for knowing no answer would come
Why would salvation come?
We have forsaken ourselves so far and so thorough
Heaven's doors are barred against us
No help will come
Only pain. Only defeat. Only suffering.
As we walk through this earth devouring others
Quenching our insane appetite for the hole we can't close
Forgetting the beautiful being we are
We're doomed. We're dead.

On the altar of God I kneeled
Forcing myself to smile
Why end things in frown and in ugliness
If you can end it with grace and beauty
The corner of my lips rose slowly
And then the tears run freely
There is beauty everywhere
There is love and kindness and hope
Why did I forget about that
The darkness around me accentuated the light in me
How bright it shone, how pretty it looked
And I don't need help anymore
I don't care about salvation or promises of heaven
This is me, and this is my world
The tears that have fallen
The blood that has shed
The souls that have been lost
The hearts that have been broken
This is my world, this is who I am
Good or wretched, beautiful or ugly
I will live on
I lifted my chin up high
Straighten out my back in defiance
 "Thank you," I said loud and clear
"Thank you for the life You given me"
"Thank you for the world You created"
"Thank you for the lessons and trials"
"Thank you for who I am"
And with that, I bowed deeply

On the altar of God I kneeled
I lost myself but now I've found me back
I was drowned in despair but now I walk on it
I was blinded by pain but now I see clearly
For this is my life
For this is my world
For this is my people
And I won't back down
There will still be pain and anguish
There will still be heartache and misery
There will still be darkness all around
But there will be hope
There will be light flickering in our soul
The little candle that others hold on to
The singular light that guides us through the storm
The promise of safety among the wretchedness
Let there be light in us
Let there be hope
Let there be love in us
Let there be haven
I smiled even bigger
A smile that turned into a grin
A grin that turned into a chuckle
A chuckle that turned into a hearty laughter
This is my life which I will fight for
This is my world which I will protect
These are my people whom I shall love
On the altar of God I kneeled solemnly
And say "Thank you, Lord," with a loving smile

Search This Blog