AdSense Page Ads

Thursday, August 16, 2018

Pejuang dan Penjajah



Saya lagi ketagihan langganan beauty box. Dengan kurang lebih seharga 2 paket MakDe per bulannya saya dapat kiriman beragam sample makeup. Jadilah saya punya sejuta eyeliner mini, lipstick mini, parfum mini, dan lainnya.

Saya tahu saya jelek. Saya tahu saya berlemak mengerikan. Mending dibilang kayak paus, paling nggak paus itu kenceng bodinya. Ini kayak Jabba the Hut, monster siput raksasa di film Star Wars. Horor banger ga sih.

Mau makeup gimana pun kayanya udah ga terselamatkan, ato mau pakai baju dalam seseksi apapun. Ato high heel setinggi pencakar langit. Jadi ngapain saya hobi beli makeup ato dalaman seksi atau sepatu hak yang semua saya pakai juga jarang-jarang?

Karena saya pengen hahaha. Toh mampu. Dan karena saya merasa pantas + berhak untuk tampil sebagaimana saya inginkan. Dulu mah kepikiran banget, tapi sekarang ya persetan yaaa...

Bagi saya, yang penting saat saya bercermin saya suka dengan tampilan si mbak di cermin. Saat ini saya sudah mengerti, mau bagaimanapun orang bisa selalu mengkritik atau ga suka. Daripada mikirin orang yang ga akan pernah puas, mending fokus ke diri saya.

Ada berbagai cara memandang kemerdekaan. Bagi saya, ini salah satunya. Bebas merdeka euy nggak perlu dirantai omongan orang. Saya bisa berkembang sepenuhnya dan memberikan yang terbaik bagi dunia. 

Saya tahu saya beruntung. Saya sekarang tinggal di lingkungan yang menerima saya apa adanya. Tapi dulu di Indonesia pun saya menolak untuk tunduk pada cercaan orang. Menyakitkan, tapi sori ya bo' I am still awesome.

Nggak ada yang bisa mengambil itu dari kita. Mau kita dihina atau disiksa, diancam atau diintimidasi, pikiran kita adalah milik kita semata. Kita hanya terjajah saat kita memutuskan kita terjajah. 

Jadi para pembaca yang dibilang nggak berguna, yang dibilang jelek dan nggak laku, yang dimanipulasi oleh orang dekat sehingga percaya anda gak ada harganya, yang ditekan hingga merasa nggak pantas jadi manusia, anda semua lebih berharga daripada omongan itu.

Sekali lagi. Anda semua lebih berharga daripada semua versi "loe apa sih?" negatif itu. Ingat, orang lain ga bisa mendadak kurus hanya dengan ngatain anda gendut.

Susah sih, apalagi kalau seumur hidup dengarnya yang negatif. Saya nggak kurang cowok yang pdkt tapi tetap lho kalau dipuji "Menarik" langsung berpikir: "Buta ye lo mas???" Rantai mental ini susah lepasnya.

Makanya penting untuk kita menjadi pahlawan-pahlawan untuk memerdekakan orang-orang di sekeliling kita. Kata-kata baik dan penyemangat yang memberikan mereka sayap untuk terbang, dan bukannya rantai cacian yang membelenggu. Semua dimulai dari diri kita.

Akan tetap ada orang yang menjustifikasi 'kritikan' (baca: cemoohan) ini. Mas/Mbak, maaf ya hidupmu sengsara. Maaf kamu segitu nggak bahagianya sampai orang lain harus ikut nggak bahagia. Saya turut berdukacita.

Percaya deh mas/mbak, hidup lebih enteng saat kita saling mengangkat dan menolong dan bukannya menghempas dan menjatuhkan. Kemalangan saya nggak akan bikin kamu lebih berarti lho.

Sebelum berucap, yuk pikirkan apa yang kita rasakan bila kita di posisi orang tersebut, atau yang paling gampang: apakah yang akan kita ucapkan bisa dilakukan/diperbaiki dalam 5 menit. Kalau nggak bisa ya diam.

Makanan nyangkut di gigi? Kancing baju terbuka? Yuk mari kasi tahu. 5 menit bisa diperbaiki, beres. Berat badan, warna kulit, selera berpakaian atau bahkan status hubungan, yuk mingkem mas mbak.

Merayakan kemerdekaan bukanlah semata bawa bendera dan ganti foto profil di FB, karena perjuangan untuk kemerdekaan terus berlanjut. Sekarang pertanyaannya anda sang pejuang kemerdekaan atau si penjajah?

Salam hormat dari Los Angeles!

Monday, August 6, 2018

Rescuing My Past



I spent the weekend worrying about a stranger. As a writer for a self-help book about moving on from your (cheating) ex, I got that kind of message pretty consistently: random strangers messaging me of their woes, looking for comforting words and encouragement. It's part of the trade.

This particular one was different. Her condition reminds me a lot of my own. Emotionally abusive husband, leaving her home to be with her husband far away, having to adapt to a completely different environment, friendless and based on what she told me, loveless.

I immediately went into full gear. I contacted friends I know who might know support groups and churches (She's a Christian) that can help her. I talked lengthily to friends that know a bit or two about the law, on how to stop the husband from abusing her. I was desperate and in complete panic mode.

I know I can't help her. I can tell her I am here for her, but it is up to her to believe me and not chalking me as having a bad intention or having a secret agenda. [That's what my ex-husband told me if I said someone wants to help me, that they are trying to milk me for something.]

I know I can give her as many resources lead I can, but in the end, it is up to her to follow that lead, to break free from the abuse. And it is not easy. I have been there. It is so devastating to realize that it was never Love, that I turn a blind eye and pretend I did not see the obvious.

I know I can't do anything. Even if I know her personally, I still can't make the choice of safety for her. I don't know her at all, so all I can do is stand on the sideline, fervently praying she'll be alright. I'm down on my knees begging God to help her and show her the way out, along with the courage she needs.

It's only this morning the sad reality dawned on me. I wasn't trying to help her. I was trying to help the past me. Of course I want her to be safe, and I will be worried and help her still. But the reason I was so frantic about it was because I want to save myself. The past me who has to endure all that.

And I can't. I can't save her. She is long gone.

The questions always loomed. Why did it happen to me? Why did people let it happen to me? Is there any justice in this world? Is there any mercy in this world? Why did I do to deserve this? Why is there no punishment for him? There was no intervention, no help. Why?

What hurts me most from the whole experience was not the realization that he never loved me. What hurts me the most is the realization that people can choose to not care, can choose to look the other way. And they did. So I promise myself I won't. 

The current me is someone strong enough to defend herself. But even I can't defend the shadow of my past. She is long gone. Like a Mecha in a Japanese comic book, pieces of her are upgraded into stronger, better material, with only her heart remaining intact. And that's how I should remember myself.

I did my best to help myself back then, and goddamn I did good with my ill-equipped self. He shouldn't have abused me and people shouldn't have looked the other way, but it happened. I love myself now. I think she is an amazing woman. I think she really should lay her past to rest once and for all.

The world doesn't owe me anything except humanity and empathy. My abuser doesn't owe me anything except self-restraint. But I, I owe myself some peace. I did well. I did really well. I did my best and I should be proud of myself. 

Rest well, tearful soul. You are beyond pain right now. Your new life is a life of songs and dances, a life of night lights and sun rays. Your days are full of embraces and kisses and laughter, walking in the path of light and surrounded by love. Rest well, lovely soul. Rest well and enjoy your afterlife. You deserve this.

Saturday, August 4, 2018

Gue Tunggu Undangannya



Sms-an sama mantan, disindir: "Nggak sabar tunggu undangannya." Saya dengan cuek menjawab: "Meh. Gue ga segoblok itu untuk kawin lagi."

Saya tahu maksudnya apa. Bahwa saya segitu nggak laku, segitu nggak berharganya sampai nggak ada yang mau nikahin saya. Padahal sudah dua tahun lebih kami bercerai, tapi saya punya pacar saja baru-baru ini.

Saya yang dulu pasti emosi jiwa: "Eh kampret! Sori ya gue bukan ga laku, tapi gue yang nggak mau! Kalau gue mau mah ga susah nyari suami! Ada juga gue yang sibuk nolak-nolakin lamaran!!!"

Saya yang sekarang nggak se-insecure itu, nggak perlu validasi dan penegasan itu. Saya tahu dia berusaha menyakiti saya dengan membuat saya merasa ga berharga, tapi nggak ngefek karena saya yakin dengan pilihan saya.

Menikah buat saya bukan lagi soal laku nggak laku. Menikah itu komitmen seumur hidup, dan nggak semua orang mampu melakukannya. Saya nggak mau gegabah menjatuhkan pilihan sama orang yang nggak tepat.

Komitmen pada sumpah setia di hadapan Tuhan. Komitmen pada kewajiban sosial dan hukum sebagai pasangan sah dimata hukum (pajak, tanggungan anak, dsb). Komitmen pada keluarga (besar) dan pada anak. Berat lho.

Saya pribadi juga kalau harus terikat sama seseorang, saya ingin terikat pada yang bisa saya andalkan. Jangankan nanti yang sudah tua, pikun, tidak menarik, banyak yang sekarang sakit demam saja pasangan yang "Kenapa sih loe sakit melulu?!"

Makanya saya hati-hati memilih pasangan. Jangankan menikah, pacaran lagi saja baru sekarang saya luluh mau menjalani. Saya berharga, maka dari itu pasangan saya pun harus yang mampu menghargai saya.

Di Asia pernikahan seolah tolok ukur keberhasilan wanita. Seperti anda baca cerita saya di atas, ada juga bule kampret yang berpikir demikian, bahwa nilai saya 'kurang' karena konon nggak ada yang mau menikahi saya.

Berharap mengubah pola pikir ini percuma ya. Banyak generasi tua yang saklek berpikir demikian. Wajar lho. Jaman dulu suami satu-satunya cara wanita mendapat nafkah dan perlindungan, kalau nggak malah jadi beban keluarga.

Tapi kita yang generasi lebih muda masih mungkin mengubah pola pikir kita. Kita yang sadar bahwa kita mampu mencari nafkah, mampu mandiri. Kita yang cukup cerdas (dan pahit hehe) untuk sadar bahwa pernikahan bukanlah jaminan happily ever after.

Buat apa pernikahan yang kita dibuat merasa tak berharga? Buat apa pernikahan yang salah satu tak mampu untuk setia? Buat apa pernikahan yang tidak adil, yang salah satu harus memanggul sepenuhnya beban hubungan karena pasangan menolak membantu?

Walau suara sumbang komunitas terus bergaung, pada akhirnya kita yang harus menentukan pilihan. Menikahlah dengan orang yang kita rasa tepat untuk kita, bukan semata karena takut dianggap nggak laku atau ditekan masyarakat. Kita berharga lho.

"Gue tunggu undangannya," sindir si mantan. Amin ya Tuhan. Makasih saya didoain untuk ketemu orang yang tepat, yang mampu dan mau berkomitmen dan akan mencintai saya apa adanya. Semoga doanya cepat terkabul. Baik ya mantan saya ;)

Search This Blog