AdSense Page Ads

Sunday, December 9, 2018

The Ignorance of PC



I know for sure that I was an edgy, angry girl before and I have write and say things that not only stupid, but also insensitive. Not unlike Kevin Hart.

Do I regret it? No. I am sad about it, but I can't regret it. There is virtually no way the younger me have the empathy and knowledge that I have now, harshly earned from my experiences.

Am I a bad person for how I think back then? Yes, if you are so inclined to think so. I know I am not. You can choose to see what I did for others now and how I deal with life, or you can hang on to that moment where I have no knowledge and doesn't understand empathy. Your choice.

I just wish your choice is not cherry picking other people's (old) opinion for the one that suits your agenda the most. 

There are bigger assholes in Hollywood that are still assholes to this day but got the pass because they are anti-Trump, for instance. Abusers, predators, liars. Go hold them accountable.

By cherry picking who to put on the stake you also ensure that people will not change. Why change for the better if what you said in your younger, unknowledgeable days will be held against you? Might as well stay ignorant.

You have the power to make the world a better place and that can be achieved through empathy and encouragement, not through whiplash and stone throwing. Celebrate the growth, not dwell on the mistake.

PS: Before you call me homophobic for defending Kevin Hart, do know that as a published author in Indonesia I pretty much keep my DM open in all social media account for people who wants to come out. Abused women, lesbians, mistresses, sexual harassment victims, they can tell me everything and it will stay safe with me. 

I also have a very visible pro-LGBTQ stance, embracing my sexual side, and an avid advocate for women's empowerment and equal rights. All which will land me in trouble if I ever have to go back to Indonesia for good, and pretty much a stain on my family's name right now.

You can use my credentials as consideration and think "She might have a point." Or you can stubbornly call me homophobic simply because I do not share your sentiment about Kevin Hart. Ignorance is something that we can grow out of, but only if we choose so.

Saturday, December 8, 2018

Foto Impian



Mungkin pelajaran paling berharga dalam hidup itu saya dapatkan saat 5 tahun bekerja jadi sales untuk wedding/event photography di Bali. Saya diajar untuk melihat cerita dibalik sebuah foto sempurna.

Saat teman saya mengirimkan video pernikahan Priyanka Chopra, yang saya bayangkan ribetnya kru kamera dan foto plus kru WO/EO yang harus memastikan semuanya serba sempurna. Lalu setelahnya para editor yang harus membuat foto dan film terlihat ciamik dan dramatis.

Dari pihak mempelai pun, nggak kebayang pressure untuk memastikan semua seperti di jadwal/script. Asal tahu saja, satu wedding foto 'natural/alami' itu bisa entah berapa kali diambil dan diulang gayanya agar bisa dapat yang pas.

Dan setelahnya, masih ada mempelai yang tidak bahagia dengan hasil fotonya walau bagus banget. Atau yang fotonya sebenarnya biasa saja tapi si editor mampu memilih dan menempatkan foto-foto yang tepat di wedding albumnya sehingga terlihat wah.

Saya belajar nggak semua yang terlihat sempurna itu benar-benar sempurna. Saya belajar kalau foto impian nan menawan itu hasil kerja keras dan modal yang nggak sedikit.   Saya jadi nggak bisa merasa sirik pada orang yang terlihat lebih sempurna dari saya. Ya udah sih, belum tentu saya mau bekerja sekeras dia.

Foto IG misalnya. Foto bagus perlu kamera/hape bagus. Perlu makeup/prop yang bagus. Perlu diambil berkali-kali sampai dapat yang pas. Perlu nenteng orang lain sebagai fotografer terpercaya. Perlu diedit dan diberi tagar yang tepat.

Saya melihat foto IG yang sempurna malah pegal karena tahu saya nggak bisa investasi waktu, tenaga, dan uang sampai sebegitunya. Realistis sih. Saya suka lihatnya tapi saya tahu saya nggak akan sanggup, jadi saya nggak bisa sirik. Kagum iya, sirik nggak.

Di era dimana semua diedit untuk terlihat wah dan sempurna, bagi saya ini pelajaran tak ternilai. Saya seolah mampu melihat dibalik topeng yang dikenakan orang-orang. Dan disaat orang lain terjual impian diatas awan, saya bisa tetap menginjak bumi.

Karena dibalik indahnya suara seruling bambu ada tangisan bambu yang disayat, dan sekian tahun latihan si pemain seruling. Karena dibalik halusnya batik sutra ada sekian ulat sutra yang mati, dan sekian lama waktu menenun dan membatik.

Hidup ini nggak seindah dan sesempurna foto impian, jadi nggak perlu kita merasa kurang atau sirik melihat sekilas kesempurnaan orang lain. Kita nggak tahu cerita mereka. Bukan berarti lalu kita sibuk sensi ya. Nggak ada salahnya ber-Wow ria dan menghargai gegap gempita hidup.

Karena manusia begitu indah. Bahkan dikala mereka terpuruk pun ada keindahan yang bisa kita lihat, dalam kedukaan nan tragis sekalipun.  Lihat segalanya lebih dekat dan penuh rasa cinta, tanpa rasa cemburu dan keserakahan. Kita manusia itu hebat lho.

Wednesday, December 5, 2018

Tuhan, Ary Pulang



"Gue tuh bukan wanita baik-baik," kata saya. Saya bahkan nggak berani melihat matanya. Duduk di mobil bersama teman kencan saya, saya memutuskan bercerita tentang emotional abuse/siksaan emosional yang saya alami saat masih menikah.

Saya bercerita tentang bagaimana saya dikata-katain, bagaimana saya dibuat merasa rendah dan nggak berharga. "Walaupun gue tahu itu nggak benar, tapi ada bagian dari gue yang percaya. Mau gimana lagi. Itu ya gue. Gue udah terima kalau gue bukan wanita baik-baik."

"Ary," kata teman kencan saya sambil mengelus rambut saya perlahan, "You are created in the image of God. Kamu diciptakan dalam imaji Tuhan." Saya terdiam. Terhenyak. Walau saya tahu dia Kristen taat, saya nggak menduga itu responnya. 

Ternyata begini rasanya bertemu dengan orang yang taat beragama karena memang mencintai agama dan Tuhannya. Adem. Hangat. Lega. Rasanya saat itu seperti Tuhan sendiri yang mengelus rambut saya dan mengingatkan saya: "Kamu nggak kenapa, Nduk. Saya tetap menyayangimu."

Padahal dia bisa memperlakukan saya dengan buruk. Saya yang berangasan dan sangat seksual sangat berhak diperlakukan tanpa hormat oleh orang beriman sepertinya. Apa sih saya? Hanya seorang pendosa, seorang wanita murahan kalau menurut mantan suami saya.

Nggak lho. Diantara semua lelaki yang saya kencani, mungkin dia yang memperlakukan saya benar-benar dengan penuh hormat dan bukan hanya karena ingin meniduri saya. Yang lain sih baik dan hormat juga, tapi orang ini bisa banget bertingkah karena dia orang baik-baik dan saya bukan. Tapi nggak.

Dicurhatin sekian banyak wanita, banyak sekali yang bilang: "Walau selingkuh, suami saya itu orang baik-baik, taat beribadah, doanya lancar dan nggak putus." Saya sering juga mendengar teman 'disergap' dan dihakimi gengnya karena dianggap kurang agamanya. Jangan ditanya di medsos, yang ganas banget jadi pejuang keyboard konon demi membela agamanya.

Saya nggak mengerti. Agama apapun harusnya membuat diri kita dan sekeliling kita merasa aman dan damai. Ini yang kita bela dan kita pamerkan ke dunia itu ego kita atau agama kita? Nggak heran banyak orang yang kelihatan beragama sekadarnya. Males juga kali kalau jadinya malah deg-degan dan dipersekusi oleh orang yang konon lebih beragama.

Padahal harusnya enggak. Nggak perlu pamer dekatnya kita sama Tuhan kalau kelakuan kita nggak mendukung. Nggak perlu sombong merendahkan orang lain karena Tuhan juga nggak sombong. Nggak perlu mencari surga kalau nggak mau menciptakan surga di bumi ini.

Kami bertiga di mobil itu: saya, dia, dan Tuhan. Tuhan mengingatkan saya berharga lewat dirinya. Saya pun melihat jumawanya, kuatnya manusia lewat dia. Inilah kenapa agama dan kepercayaan itu ada, karena kita manusia mampu menjadi lebih baik, karena Tuhan ingin kita kembali kepadaNya.

Sesampainya di depan apartemen saya kami berpelukan. "Terimakasih," kata saya, "Terima kasih sudah menyelamatkanku." Saya tahu ia bahagia mendengarnya. Saya tahu Tuhan bahagia mendengarnya. Tuhan, Ary pulang.

Search This Blog