AdSense Page Ads

Wednesday, February 21, 2018

When The System Failed



I remember standing in front of the police station, shaking and crying. In my hand was printed pages from a threatening e-mail my ex-husband sent me. It was so bad my office fear for my safety.

But the officers told me there was no red flag there, only inappropriate words. That I should move out ASAP and get a restraining order. I told them he has a gun. They replied: "Everybody has a gun."

A few months later I was back, with a printed screenshot of his message and a friend, saying he dreamt of ways to kill my boyfriend and my family.

It's enough threat for County Sheriff in AZ. Enough threat to warrant a restraining order in OC. Not enough for me in LA, despite the fact I am pretty much the target.

But the authorities are not the only one who failed me. Even before the emails or the divorce I have told his family about him, begged them to intervene.

The result? When I called his father to please stop him from threatening my family in Indonesia, I was told to go back home and protect them myself.

When I read the news about how the students have tried to report the shooter for threatening behavior, the memories came flooding back.

Sometimes authorities are swamped and unable to differentiate which is important and which is a mere petty matter, especially in a high-demand area.

Sometimes, though, all it takes is neglect and reluctance to see the danger a person pose, an insistence to not see evil in order to keep the mirage of 'peaceful life'.

My ex was a middle-class well-respected white male, which you can hardly think capable of doing harm. As he chillingly told me: "Of course they didn't find red flags. I am smart enough to do so."

"He is just all talk." "He won't do anything." "I can't see him having enough balls to hurt you." Guess what? Even with a small percent risk him hurting me when he hurt me I will 100% get hurt.

But nobody did anything. After all the threats, including revenge porn, I hoped he would actually come and attack me. A broken bone or two, or even my naked pics on the web, means nothing if he can be safe behind bars.

I was lucky. Nothing happened to me. The kids in Florida? Not so much. 

Maybe it is time we stop being so desensitized to violence. Maybe it is time we stop making excuses for violence. The poor "Troubled" or "Anguished" individuals still have the potency to hurt people. 

This doesn't mean shunning them. This means being more aware of them, more alert to possible altercation or emotion rush. This means getting them the help they need.

This means protecting people around you. For someone who got hurt or even killed, why the other person did it doesn't really mean much. It still hurts. They are still dead.

This means standing up for others. This means letting other people know that it is not cool to hurt others. This means not looking the other way because you don't want your perfect world to be tainted.

Even with all of these, a rogue crazy dude or dudette will still find a way or two to do some craziness, to hurt others. But please, please don't stop trying.

In this world full of confusion and fear, are we not our brothers' and sisters' keeper? Are we really willing to strip our humanity by refusing to act just because we can't be bothered with 'crazy people'?

The system failed me. The system failed the kids in Florida. Let's make sure it doesn't fail again. Let's make sure everyone, everywhere, can be safe.

We can do this. It takes a lot of courage and personal strength, but we can do this. We have to do this.

Rest in peace, young souls. Change is coming.

Tuesday, February 20, 2018

Kapan Kawin?



"Yah, aku sih berharap bisa punya keluarga kecil, dengan suami yang menyayangi aku dan mampu menghidupi aku dan anak-anak, dan aku pun bisa kerja untuk membantu orangtuaku."

Saya terhenyak mendengar harapan teman saya. Itu impian saya dulu, yang saya kejar hingga ke Amerika. Yang saya pertahankan mati-matian. Biar lengkap hidup saya. Biar saya nggak dicap 'gagal'.

3 tahun saya menjadi istri, saya bahagia lahir batin. Ceritanya. Seharusnya. Tapi menikah itu kan nggak cuma soal 'berhasil' membina keluarga dan membesarkan anak. Hidup lebih hanya dari sekedar itu.

Masih ada pesta dansa dan kumpul bareng teman. Masih ada berpetualang melihat dunia, baik yang dekat rumah maupun entah dimana. Masih ada pencapaian diri yang bisa diraih, untuk diri sendiri atau dunia.

Saat saya menjadi istri dan ibu tiri, saya merasa komplit. Stress sedikit pasti ada, tapi pelukan hangat anak tiri saat bertemu atau senyuman suami saat sedang mesra membuat segala masalah seolah taka da artinya. Ini hidup saya. Saya bahagia.

Tapi sekarang single/jomblo, saya juga merasa komplit. Saya bebas bertualang kemana saja. Saya bisa melangkah penuh percaya diri di restoran dan konser musik. Saya bisa tertawa lepas dan menjadi diri saya sendiri. Ini juga hidup saya.

Walau kita punya Kartini dan Sri Mulyani dan Susi Pudjiastuti dan Megawati, di Indonesia kebanyakan masih melihat tujuan hidup (baca: kodrat) wanita adalah keluarga. Nggak banyak orangtua yang bilang: "Anakku, jadilah orang hebat. Temukan kebahagiaanmu."

Karena yang hebat adalah membina keluarga, menjadi istri teladan dan ibu idaman. Bahagia adalah saat anak-anak sehat dan tidak terjerumus, saat kehidupan dengan suami harmonis, keluarga nan sempurna.

Lalu bagaimana saat badai melanda? Apa yang wanita teladan ini bisa lakukan demi melindungi keluarganya? Apa yang bisa ia lakukan untuk melindungi dirinya sendiri agar tak jatuh dalam jurang keputus-asaan?

Kalau saya nggak punya passion/dedikasi untuk kerjaan saya, atau untuk tulisan saya, saya bisa gila saat bercerai dengan suami saya. Jauh-jauh ke Amerika, bukannya diperjuangkan eh malah dipersalahkan. Harus hidup sendiri pula.

Begitu pula saat saya masih di Indonesia. Digosipin bahwa saya nggak laku? Nggak kenapa. Klien saya bahagia dengan hasil kerja saya. Dihina karena jelek? Nggak kenapa. Angka penjualan saya lumayan oke syalala. Pencapaian saya adalah pegangan saya.

Wanita yang utuh adalah asset bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun juga untuk keluarga dan orang-orang disekelilingnya. Saat Suami/Ayah nggak ada, kepada Ibulah tempat kita bergantung. Iya nggak sih??

Tapi bagaimana saat sang wanita tidak bahagia? Saat sang wanita tidak siap? Saat sang wanita justru membutuhkan pertolongan dan bukannya memberikan pertolongan? Apa jadinya ia dan orang disekelilingnya?

Sayangnya banyak orang yang dengan enteng berkata: "Kapan kawin?" Seolah nilai wanita dilihat dari laku atau nggaknya, dan bukan dari siapa dia dan pencapaiannya. Wanita yang mendengar pun merasa harus secepatnya kawin.

Bukan demi cinta. Bukan karena percaya ini pasangan hidup yang terbaik. Bukan karena yakin bisa setia selamanya. Tapi karena "Ya sudahlah". Karena capek diomongin. Karena sudah 'umur'. Karena percaya dengan menikah semua akan menjadi indah.

Lalu kalau tidak cocok bagaimana? Kalau salah satu menemukan pasangan baru bagaimana? Kalau akhirnya malah hidup serasa di neraka karena terus bertengkar bagaimana? Kalau salah satu (atau keduanya) tersakiti bagaimana?

"Kapan nikah" akan menjadi "Kapan punya anak", yang akan menjadi "Kapan punya anak (laki/perempuan)", lalu "Kapan punya rumah", dan "Kapan punya mobil", dan seterusnya. Nggak akan berhenti pertanyaan itu.

Bukan kita yang harus membuktikan diri pada orang ini agar kita 'komplit'. Orang seperti ini hanya melontarkan ketidakpercayaan dirinya, melontarkan apa yang ia pikir benar tanpa peduli perasaan kita. Bukan demi kita, tapi demi dia.

Seringkali, orang yang sibuk menggunjingkan kita adalah orang yang sibuk digunjingkan di sekelilingnya. Lingkaran setannya komplit deh. Apa faedahnya bagi mereka? Mereka merasa 'benar'. Apa faedahnya bagi kita? Nggak ada.

Dunia sudah berubah. Wanita bukan lagi mahluk lemah yang perlu perlindungan lelaki. Pernikahan bukan lagi satu-satunya jalan wanita bisa 'dinafkahi'. Kebahagiaan wanita dan pasangannya lebih penting dari sekedar 'menikah'.

Karena dunia yang sekarang itu kejam. Dunia yang sekarang penuh kebencian dan keputusasaan. Dan darimana kita bisa mendapatkan kasih? Ya dari wanita. Bukan berarti lelaki nggak penuh cinta, tapi faktanya mereka lebih terbatas mengekspresikannya.

Kalau kamu wanita dan membaca ini, kamu yang mencari kebahagiaanmu dan apa yang membuatmu sempurna bukanlah sebuah tindakan egois. Lihat itu sebagai investasi untuk masa depanmu dan keluargamu. Ingat, pencapaianmu adalah peganganmu saat badai melanda.

Kalau kamu lelaki dan membaca ini, biarkan pasanganmu mekar sempurna. Jangan petik dia semasih kuncup dan menaruhnya dalam pajangan, terbelenggu oleh ketidakpercayaan dirimu. Bukankah lelaki hebat berhak mendapat pasangan yang tak kalah hebat?

Kalau kamu yang hobi bertanya: "Kapan nikah?" Sudah ya, jangan sensi begitu. Dunia dan dirimu nggak akan jadi lebih baik dengan kamu mencampuri urusan orang. Lihat dan terima orang lain apa adanya, berbahagialah akan kebahagiannya walau berbeda dengan 'standar'mu.

Karena pernikahan bukanlah suatu akhir. Pernikahan adalah sebuah perjalanan baru yang seharusnya membuat kedua pihak berkembang dan menjadi lebih baik. Taman yang indah dimulai dari bibit yang baik, bukan?

Kapan nikah? Kapan-kapan. Saat saya siap. Saat pasangan saya siap. Saat saya dan pasangan merasa sudah saatnya kami melebarkan sayap kami, bagai merger/gabungan dua perusahaan besar. Saat ini biarkan saya mengembangkan diri saya sendiri.

Percaya diri ya para pembaca. Anda berhak berbahagia dan mencintai diri anda sendiri. Salam sayang dari Los Angeles.

Saturday, February 17, 2018

The Ugly Gal Valentine

I am the ugly kid who never got a Valentine. Seriously. I am ugly AF. The kind-hearted nerdy sassy gal that is fun to hang with but not attractive enough to date or to keep.

And here I am. With a Valentine.

Granted, it is only a "You are an awesome friend!" Valentine, but it is much, much better than what I ever had, which ranged from me asking for it to my toddler stepson that insisted: "Daddy, let's get something for her!"

It's a capitalism holiday, I told myself. Indonesian don't celebrate Valentine anyway. But it wasn't the holiday itself that I longed for. It was the feeling of appreciated, wanted, or even loved.

Low self confidence is not a physical trait. You can't see it with naked eyes. You might catch a glimpse in the nervous look or insecure quips, just barely visible. Yet inside, it chained the person down.

For me, it is the constant reminder from my society that I am not good enough. That I don't fit the mold. That I am a weird, a freak, an embarassment. Day in, day out, rejection all around.

The current me realized it was just their own insecurity, projected towards people who are different than standard. Giving themselves a false sense of security by dragging others down.

Still it hurts. Still it breaks me. Still I asked anyone who say I am attractive: "What do you want from me?" Because attractive me just doesn't sound right.

I have a slew of people who'll say I am wrong. And a handful who'll give me the "not again" eye roll. Which is why I started to accept the compliment as, well, compliment. 

See how greatly the words we say affect others? It can destroy others or it can build others. This is why it is important for us to think through our words before we speak it.

I am chubby. I am not fair-skinned. I don't have a regal face. I am not tall, nor petite. I am not rich. I don't have a fancy job. I am a non-standard standard Jane, that is unorthodox enough to be considered 'the wrong kind'.

But I got a Valentine this year. A solid proof at least one person thinks I am ok. I think. So you know what? Screw other people's insecure condescending criticism. I am good the way I am.

And yeah, do good things to others, and say encouraging things. Make somebody feel they are worth it. It helps. It really helps. Happy Valentine, lovelies.

Search This Blog