AdSense Page Ads

Wednesday, September 19, 2018

Bahasa Kita Bahasa Kalbu



"Hi Ms. Ida," begitu pembukaan si oom dari kantor cabang Filipina di Skype, yang dilanjutkan dengan penjelasan berbunga. Kepala saya langsung pening membacanya. Formal to the max.

Dengan kisruh Bahasa Inggris ala anak Jaksel (padahal yang di pelosok juga suka gitu hahaha), Bahasa Inggris seolah menjadi momok, menjadi simbol penindasan dan pengerdilan masyarakat yang status social rendah (*uhuk uhuk* pakde *uhuk uhuk*). Bahasa Inggris juga jadi tolok ukur ke hebring-an seseorang. Yang bisa Bahasa Inggris lebih berkelas, konon.

Kalau saya bisa ya, semua orang yang saya kenal akan saya wajibkan becus berbahasa Inggris. Saat kita bicara soal kesempatan kerja dan penjejakan karir, kemampuan berkomunikasi itu asset yang luar biasa. Tambah lagi, penerjemah baik yang manusia maupun mesin nggak selalu benar/bisa menyampaikan apa yang dimaksud.

Bahasa Inggris juga melatih pikiran kita dan membiasakan kita mengekspresikan diri kita. Konon ada hampir satu juta kosakata Bahasa Inggris. Ada yang bilang *hanya* sekitar 750 ribu, tapi tetap lebih banyak dari Bahasa Perancis, misalnya, yang hanya 100 ribu kata.  

Contoh lain: padanan kata 'Happy' itu ada 48 lho, dengan berbagai tingkat ke-hepi-an. Sebagai penulis, walau grammar saya belepotan saya tetap suka menulis dalam Bahasa Inggris karena saya bisa bercerita dengan lebih tepat. Perasaan dan pemikiran saya bisa sampai dan lebih 'kena' ke pangsa pasar saya.

Dan tentunya yang paling penting: Bahasa Inggris nggak ada hierarki. Nggak seperti Bahasa Indonesia atau kebanyakan Bahasa Asia lainnya, nggak ada kosakata khusus yang ditujukan untuk orang yang lebih terpandang/dihormati. Kita bisa memilih kosakata berbunga, seperti oom Filipina itu, tapi itu lebih ke cara kita merangkai kalimat dan bukan kosakatanya sendiri.

Sebagai contoh, professor saya saat kuliah yang menatap saya dengan bete saat saya menggunakan 'Aku' saat berbicara dengannya dan bukan 'Saya'. Dalam Bahasa Inggris hanya ada 'I'. Ketiadaan hierarki ini membantu membuka pikiran dan bukannya selalu diingatkan bahwa saya bukan siapa-siapa. 

Bukan berarti kalau belajar Bahasa Inggris lalu jadi kurang ajar ya. Karena fleksibilitasnya, Bahasa Inggris bisa lho dipakai untuk merangkai kalimat yang menghormati tapi nggak menghamba. Bisa juga dipakai untuk merangkai kalimat yang kurang ajar tapi kedengarannya terhormat.

"We would like to invite the Honorable XYZ to come on stage to accept the award." Sudah, begini saja. Respectful/sopan dan hormat tapi nggak seperti ala Indonesia yang "Kami memohon dengan sangat Yang Terhormat Bapak XYZ dari ABC untuk berkenan adanya naik ke panggung sederhana ini untuk menerima lalalalala". 

[Sebaliknya bisa juga: "Please be encouraged to depart and proceed with self-help copulation". Terjemahannya: Go f*ck yourself.]

"Baeklah! Semua harus sepik-sepik Inglis kalau begitu!" Ya nggak juga kali. Saya kalau pulang dan ngobrol bareng mama dan saudara-saudara perempuan saya tetap lho Bahasa Indonesia logat Betawi. Kadang malah kita pakai Bahasa Inggris buat nyindir/ngetawain orang. Bahasa Indonesia itu Bahasa kita, jangan sampai lupa.

Kita bisa memaksimalkan Bahasa Inggris dengan cara lain: rajin membaca artikel berbahasa Inggris, atau melatih diri untuk berbicara/menulis dalam Bahasa Inggris. Nggak ada salahnya berusaha bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar, apalagi demi masa depan. Nggak perlu malu kalau belepotan.

Yang jangan sih menggunakan Bahasa Inggris untuk berasa eksis dan merendahkan yang nggak bisa. Buat saya, Bahasa Inggris belepotan atau beraksen kental itu jadi bermasalah hanya kalau si pelaku dengan ga sopan menghina orang lain yang lebih nggak bisa. Tapi yang Bahasa Inggris lancar kalau menghina yang nggak bisa juga tetap saya lihat dengan hina: Jelek banget sih hati loe.

Intinya sih itu ya. Kelakuan. Nggak perduli bahasa apapun yang dipakai, kalau hati nya jelek ya tercermin dari omongan dan sikap kita. Beda lho yang sibuk membumbui pake Bahasa Inggris biar kelihatan 'beradab' dan yang memang nyangkut/terbiasa karena sehari-hari bilingual. Kitanya juga jangan asal emosi jiwa karena diam-diam sirik tanda tak mampu. 

Asal tahu ya, Bahasa Indonesia yang beradab tanpa menghamba itu lebih susah dari Bahasa Inggris hahaha. Jadi yang bisa membawa diri dengan sempurna dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu emejing banget deh…. Luar biasa. Maksud saya, Luar biasa. Bahasa nista apa itu Emejing? :p

Hidup Indonesia lah pokoknya. Yuk kita maju tanpa melupakan siapa kita. Karena, ehem, kita keren banget lho.

Friday, September 14, 2018

May We Found Peace


"Good morning [coworker 1] and [coworker 2]!" said coworker 3 cheerily as she walked past our cubicles, conveniently acting as if I wasn't there. Another day as usual.

I get it. She didn't like me. I do not know why, yet I am unwilling to implore. Hey, we're not in high school anymore. I don't do this "You can't sit with us" tomfoolery. If you have an issue with me, go and solve it like adults instead.

The sad part is, if she's thinking it hurts me, it actually hurts her more. Her giving me the "you don't exist" treatment only show people at work how spiteful she is. I can assure you not many giving me the dirty look of "Heck yeah she totally deserves it!". 

It's sad because, well, it's sad. We'd be together in the office dining room and a solid silence will be between us, a tension exacerbated with strong dislike and disgust with each other. At least from her to me, I am mainly just feeling sad and sorry for her.

Imagine having to go to work every day and meet this f*cking little a**hole that you totally despise. Imagine hearing her voice and her laughter, as if she doesn't have a care in this world. Imagine listening to her name being called with excitement and joy. That sucks. Really bad.

This is what hate gives you. You got trapped in your own negativity and couldn't break free. In return, the world pays you back with negativity and life becomes even shittier. It ended up not only hurting your mind but possibly your physical self too. You get sick more easily, tired more often, and just oh so angry all the time.

If there is one thing I can ask to the universe, I wish every being can be happy or understand the way to happiness. Of course pure unbridled happiness is a joke because as a social being our state of mind, including happiness, will impact other people's. You can be unhappy because of other people's happiness, so to speak.

But what if, what if each human can find at the very least peace and content? What if each human can be free from the anger and pain they feel inside, and avoid inflicting anger and pain on others? Can that peaceful respite become a small source of happiness?

The world is ailing. It screams in agony as the nature torn apart and slowly destroyed. It writhes in pain as the uncountable negative emotions flood its system. It cries in terror as the countless lost souls getting lost even further. The world is sick. The world is dying.

May we all found peace in ourselves. May we sleep well at night, away from night terrors and nightmare. May day brings us the hope we all need. May we look at ourselves with love, and in others with affection. May we, and all beings, found our sustainable happiness.

Wednesday, September 12, 2018

Buzz Buzz Buzzer



Semakin dekat ke pemilu, semakin kencang suara para buzzer politik di timeline fesbuk saya. Berhubung banyak para buzzer yang #GantiPresiden sudah saya unfollow karena mainnya kasar saat pilkada Jakarta, jadilah kebanyakan di timeline saya tinggal #DuaPeriode.

Lega? Nggak. Sudah gatal rasanya ingin meng-unfollow biar nggak melihat yang beginian.

Jangan salah. Saya aktif dalam urusan politik atau menyuarakan kabar benar. Saya yakin grup alumni saya sudah ingin menendang saya saking seringnya saya mempertanyakan berita hoax yang di broadcast. Tapi kan itu kelihatan ada faedahnya. Nah buzzer faedahnya apa?

Ada teman yang bilang "Penting lho orang tahu prestasinya pak presiden!" Saya sih setuju ya. Biar gimana, Indonesia memang ada peningkatan. Tapi kalau memberitahunya dengan cara nyinyir atau dengan mentertawakan lawan, yang ada malah bikin musuh bukan?

Tambah lagi segala puja-puji yang bertebaran tidak mampu menjawab pertanyaan saya: kalau bukan beliau, lalu siapa? Ini pertanyaan valid baik bagi yang mau tetap atau yang mau ganti. Kan Pakde nggak bisa seumur hidup jadi presiden, dan 5 tahun itu singkat lho untuk mempersiapkan pengganti.

Jadi apa yang saya lakukan? Ya unfollow. Capek dengar nyinyiran dan joke yang menjatuhkan. Capek dengar puja-puji seolah Pakde nggak pernah salah. Takut membayangkan apa yang terjadi saat Pakde nggak ada lagi, karena semua seolah berfokus pada beliau.

Pakde adalah bukti bahwa pemimpin yang baik bisa membawa Indonesia maju. Pakde juga bukti bahwa Indonesia bisa maju. Kan yang kerja juga bawahannya, para menteri dan pejabat dan orang-orang kecil. Bisa lho ternyata kita bersatupadu membangun negeri, seperti yang diinginkan pahlawan dahulu.

Tapi gimana mau bersatupadu kalau kita saling serang dan saling menjatuhkan? Nggak jarang saya melihat teman yang biasanya santun jadi begitu garang dan kasar. Yang dijual pun saat ini masih berkutat antara presidenkini dan presidenganti. Ini sama sekali nggak menjual masa depan.

Amerika mengalami masa ini di pemilu 2015-2016, saat semua sibuk mengumbar kebencian terhadap satu sama lain. Yang menang adalah orang yang dipikir nggak bakal menang, si bapak Trump. Padahal yang kencang suaranya adalah orang-orang yang anti Trump, sampai sekarang lho.

Saat kita berbicara dengan sekencang-kencangnya, yang kita dengar hanya suara kita sendiri dan bukan suara orang lain. Tanpa kita sadari, orang yang memilih diam sebenarnya mayoritas dan belum tentu mereka sependapat dengan kita.

Kembali ke Trump, doi dianggap rasis, nggak berkelas, brengsek, pokoknya nggak banget. Nggak ada yang akan memilih dia. Tapi banyak yang memilih dia karena males lho mendengarkan cacian melulu dari lawannya. Banyak yang memilih dia karena merasa biar dia brengsek, program yang ditawarkan beneran bisa membantu rakyat Amerika.

Kita sudah melihat fenomena ini saat Pilkada Jakarta, bahwa suara 'orang waras' yang luar biasa kencangnya itu kalah akan suara bisik-bisik mayoritas yang konon nggak ngerti apa-apa. Sama seperti pemilih Trump, anda mungkin bilang mereka bodoh, mereka nggak berpendidikan dan sebagainya. Kenyataannya adalah, mereka merasa terpinggirkan dengan suara toa kencang anda.

Kita nggak perlu suara toa kencang, kita perlu rangkulan hangat dan kepedulian terhadap sesama. Jangan berjuang demi satu orang, baik mendukung atau menjatuhkan; berjuanglah demi Indonesia. Pikirkan apa yang Indonesia perlukan dengan langkah konkrit menuju itu, bukan cuma "Pasti Indonesia jadi hebat kalau Presidennya…"

Lain padang lain ilalang katanya, dan jelas pendekatan mesti berbeda untuk tiap tipe orang. Akan ada orang yang ndableg, akan ada orang yang troll/emang niat bikin marah. Tapi tetap lho, terus pegangan bahwa niat kita untuk Indonesia, bukan cuma sekedar "Tuh kan gue benerrrrr!!!"

Niat baik kan nggak kemana. Apalagi yang selain niat kita juga memikirkan bagaimana niat itu tercapai, nggak hanya asbun dan cuap-cuap lalala. Bisa ya kita pada beradab dikit? Please? FYI Trump yang tiap hari dicaci media kemungkinan bakal menang lagi lho 2020. So yeah, main cantik kalau nge-buzz.

Search This Blog