AdSense Page Ads

Friday, November 22, 2019

This Thanksgiving



So Thankgiving's coming up and you brace yourself for the slew of relatives that you can't be sure about.

You know the older loud-mouth Trumpsters love food, so you set aside a mountain of pies for them to put their thumb in and pulled out a plum and say "What a good boy am I".

You setup a chill corner at the end of your backyard filled with craft beers so the younger die-hard Democrats can sit and enjoy themselves with tales and plans to fix the world.

But what about Lisa and her new girlfriend Angelina? What about Janice that's now called James? What would Ron and Rupert's children say to the other children? Questions will be asked and awkward glances will be thrown. Oh dear oh dear oh dear.

And it is so not fair to expect us to 'just roll with it'. This is an era we don't quite understand. You can't think of how it would feel to exchange long kisses with same gender partner. Won't the boobs awkwardly touch each other? Or the penis? Oh lord.

We don't understand it the same way we don't understand the allure of Sriracha or turkey bacon. Our body shudders when we tasted the weird texture and flavor of Rosie's roast and was told it was fake meat. We don't get why everyone needs to show their asses and boobs in social media.

We were told it was good. We were told it was for the better future. We were told it was personal right and empowerment. We were told we are old and backwards for not understanding that. They are right. We don't understand that. This is not who we are.

That doesn't stop us from asking Lisa does Angelina prefer red or white wine. That doesn't stop us from offering James (who lives the furthest) our guest room to crash the day before as we always did. And we have a month before Christmas to sort out the angry questions about what Rupert and Ron's kids say about their dads because kids will be kids.

We will still flinch when we see Angelina and Lisa holding hand. We will still take a deep breath when Rupert and Ron's kids run from the playroom and called out, "Where's our Daddy and Papa??" We will keep mistaking Janice, I mean James', gender pronouns and heartbroken over the long luscious locks of her, I mean him, that was cut to military crew cut.

We will still do that and more. But we will also carefully deflect the conversation when we deemed someone was going to be mean on others. We will also engage those who are excluded to assist us in menial tasks to make them feel less alone. We will stand true to our guests, come what may.

Because even though we don't understand, that doesn't mean we love them less. We may need to adapt and learn to love the newly shared version just like we love the version we've known for years, but we will get there someday. We may miss and grieve for the version we've known for years, but we will overcome that eventually.

Thanksgiving is about being thankful, and we are hosting/ coming to the celebration because we are thankful for the friends and family we have. We are thankful or the sweet and wonderful people they are, even though the packaging might be new and unfamiliar. Here's to abundance to thank for. Here's to love.

 
* Dedicated to my ex-stepmother-in-law, who despite the shock of having this weird specimen in her conventional and conservative abode still gone the extra length to make my visit there welcomed and perfect. Love you lots, Linda.

Monday, November 18, 2019

Kawin Kosong



Teman saya bilang dia akan membiarkan calon istrinya mendekor apartemen baru mereka saat si mbak ini datang dari Meksiko. Pas mau kawin dulu saya juga dijanjikan hal yang sama. Nggak kejadian tapi hahaha.

Kalau inget itu suka sebal sendiri. Ya elu kan lelaki. Kalau mau cari yang bisa modal sendiri ya jangan cari mbak-mbak ga berduit dari negara terpencil. Terus kalau gue yang modal faedah loe apa?

Tapi mau argumen apapun, faktanya memang kita perempuan nggak boleh kawin kosong. Uang itu bargaining power banget. Kalau orang tua nggak mampu, kitanya yang mesti mampu.

Berapa dari kita yang disinisin keluarga calon karena finansial dibawah mereka? Ayo ngacung. Atau yang dianggap pekerjaannya kurang menjanjikan? Atau yang terus 'diingatkan': "Kamu jangan membebani suami".

Idealnya sih saling bantu. Suami mencari nafkah dan istri mengasuh anak. Jangan hitung-hitungan sama istri dan jangan cuek sama suami. Suami menopang keluarga dan istri memastikan rumah nyaman untuk suami. Idealnya.

Faktanya susu formula mahal cuy. Kontrakan juga ga murah. Belum lagi cicilan kartu kredit plus pinjaman lunak untuk biaya kawin gedong. Suami yang stres istri ga bisa bantu keuangan dan istri yang stres karena tangan terikat/ga mampu membantu.

Wanita yang mapan adalah wanita yang siap. Saat suami dipanggil, baik ke HadiratNya ataupun ke rumah perempuan lain, kesiapan finansial sang istri akan sangat berperan dalam menentukan ia hancur atau tegar.

Kita bisa lebih mudah pergi dari situasi yang menyakitkan saat kita tahu kita punya/mampu berdiri sendiri. Dan walau dunia serasa berakhir, tapi oh man steak ini enak banget dan baju baru gue juga keren abis.

Punya anak pun harus kita wanita yang siap membiayai kalau-kalau mendadak jadi yatim. Men are not a backup plan. Lelaki itu bukanlah rencana cadangan. Apalagi rencana utama.

Bahkan para istri karir pun harus cerdas mengelola uang. Walau sebagai istri karir yang kerjaannya mutlak menjadi istri/pacar/simpanan orang, tapi saat sudah nggak bisa berkarir lagi sebisa mungkin penghasilan tetap ada. Dari properti atau reksa dana misalnya.

Lalu setelah kita mapan nanti kita bisa beli lelaki. Hore!!! Ya nggaklah, dudul. Ngapain juga beli lelaki? Ada juga kita cari yang selevel. Rugi bandar turun derajat. Kasihan calon anak gue lah.

Ingat lho, pria yang mapan dan mampu menghargai wanita pasti mencari yang selevel, apalagi yang benar memikirkan yang terbaik untuk calon anaknya. [Lirikan maut pada Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan].

Enak sih bilang "Atas nama cinta!" atau "Kita berjuang bersama, sayang!" tapi kenyataannya cinta nggak berpengaruh banyak saat kontrakan telat 2 bulan. Rasa benci dan muak pun semakin mengikis cinta itu. Life is hard when you are broke. Hidup itu susah saat elu bokek.

Ini bukan ajakan untuk jadi matre. Ini ajakan untuk memikirkan apa yang terbaik bagi diri kita wanita dan calon anak-anak kita. Kita wajib mapan bukan demi menjatuhkan patriarki, tapi mengamankan masa depan kita dan calon anak-anak kita.

Dan kalau si calon menganggap kita tidak menarik karena mapan dan berdikari, derita loe lah tong. Sana cari kerja yang benar. Jangan tarikan bajaj elu bandingin sama tarikan BMW.

Friday, November 8, 2019

Aku Disini Untukmu



Teman saya anak perempuannya besok akan menikah. Keduanya akan mengenakan gaun pengantin. Menurut cerita teman saya, anak perempuannya sebenarnya akan mengenakan tuxedo, tapi saat ia ikut pacarnya mencoba baju pengantin, ia pun ingin mengenakan gaun. 

Mereka berdua perempuan, kalau sampai sejauh ini anda nggak ngeh.

Sama dengan teman saya yang lain yang anak perempuannya transisi ke menjadi lelaki, mereka berdua termasuk generasi tua yang tidak mengerti soal begini. Walau demikian, mereka tetap menyayangi anak-anak mereka.

Buat saya menyebalkan saat mendengar orang: "Yah gue sih nggak kenapa selama bukan (anak) gue". Baik soal LGBTQ, soal poligami, soal apapun yang kontroversial, omongan begini justru nggak menunjukkan toleransi. Gpp selama bukan gue, kan?

Sebaliknya, saat teman saya yang anaknya akan kawin ini diserang dan dicap buruk karena menyatakan ia tidak setuju perkawinan sesama jenis disahkan saya juga marah. Hak dia dong berpendapat. Yang nggak boleh itu saat dia mendiskriminasi orang-orang yang nggak dia sukai.

Toleransi itu bukan berarti harus menerima buta. Bukan pula menerima tapi dengan catatan. Toleransi itu adalah walau kita nggak setuju, kita tetap menghargai pihak lain dan bukannya menyerang. Bahkan kalau, sori, apalagi kalau pihak lain itu kebetulan orang terdekat kita.

Susah sih. Bahkan imigran Indonesia yang sudah berapa dekade disini pun sering saya lihat bersikap takut atau jijik terhadap para LGBTQ. Orang asli sini yang di daerah desa juga begitu. Mitos-mitos seperti bahwa ini menular atau pelaku dengan aktif menularkan pun masih marak.

Faktanya nggak semua cowok gay itu melambai dan nggak semua cewek lesbian itu tomboy. Nggak juga yang gay itu bakal langsung mepetin anda yang lelaki dan yang lesbian cari mangsa perempuan. Mereka juga punya standar kaleee.

Apakah lingkungan berpengaruh? Jelas. Tapi nggak seperti yang anda pikir. Saya, misalnya, disini bisa lebih vokal mengapresiasi perempuan cantik karena nggak ada yang protes. Bukan berarti saat di Indonesia saya nggak mengapresiasi, saya cuma nggak bersuara.

Mungkin saya yang pemikirannya terlalu radikal dan terlalu cuek. Buat saya semua orang sama. Mau elu pelacur atau pendeta, mau elu suka sama siapa itu bukan masalah gue selama elu nggak ngincer pasangan gue. I don't share.

Buat saya orang yang selingkuh dan/atau nelantarin keluarganya apalagi anak-anaknya lebih berdosa. Buat saya yang korupsi/mencuri hak orang lain itu lebih berbahaya. Buat saya yang memperlakukan pembantu/bawahannya seperti budak itu lebih biadab.

Bukan berarti mas mbak bisa langsung pamer kemesraan depan umum ya. Yang beda jenis saja jadi gosip lolo. Aturan sosial kita masih ketat lho. Netijen yang ganas membicarakan seleb pakai bikini, misalnya. Atau sejuta grup Julid yang masih mencap Janda = gatal.

Saya nggak tahu banyak soal ayat agama atau apa maunya Tuhan. Saya masih belum bertemu dengan Beliau. Yang saya tahu sih nggak ada orang yang berhak dihina atau dicaci, atau dianggap najis dan nista karena siapa dirinya.

Yang saya tahu, kalau mereka main ayat disini saya nggak bisa kawin/pacaran sama bule kulit putih. Saya bahkan nggak boleh sharing air minum sama mereka. Dan ya, mereka berhak memperlakukan saya seperti warga kelas dua atau bahkan seperti binatang.

Saya nggak bisa memaksa yang nggak setuju jadi setuju. Itu hak anda untuk nggak setuju dan saya mengerti ketakutan anda. Sesuatu yang baru dan dirasa tidak seharusnya itu bukan hal yang mudah untuk diterima. Nggak kenapa kok. Yang penting ayo kita coba jangan menyerang atau mendiskriminasi.

Semua orang berhak dicintai dan mencintai. Saya nggak bisa merubah perasaan orang lain, saya nggak bisa membuat mereka menerima anda. Tapi saya bisa tetap ada untuk anda. Sebagaimana saya ada bagi sekian banyak orang yang butuh tempat bercerita tentang hubungan mereka.

Saya disini ya, mas mbak. Peluk hangat bagi yang tersembunyi. Kecup sayang bagi yang kesepian. Saya disini untuk kalian.

Monday, November 4, 2019

Si Madu



Apa rasanya jadi istri kedua? Saya nggak pernah merasakan jadi istri madu sih, tapi tiga hubungan serius saya adalah dimana saya menjadi pengganti seseorang. Itu butuh mental yang kuat lho.

Karena butuh mental yang kuat untuk melihat dinding rumah orangtuanya dipenuhi foto si pasangan dan mantan istrinya bersama anak mereka. Buat si kakek nenek foto cucu paling penting dong, jadi istri baru ya tinggal elus dada saja.

Karena butuh kulit badak untuk nggak emosi saat melihat pasangan lama sinis terhadap kita. Butuh kelegowoan juga untuk mengerti perasaan mereka dan turut sedih akan kekecewaan mereka. Siapa sih yang ingin dilupakan dan tergantikan?

Karena butuh kedewasaan untuk memilih diam di mobil saat pasangan menjemput si anak dirumah mamanya agar sang ibu tidak merasa terancam. Berat lho melepas anak untuk bersama si pengganti. Kenapa juga mesti kita perparah?

Karena butuh hati yang lapang untuk mampu menyayangi anak pasangan dari hubungan sebelumnya dan bukan malah cemburu buta. Untuk mampu menempatkan kebahagiaan mereka sebagai prioritas karena kan mereka nggak memilih kondisi keluarga begini.

Saya nggak tahu rasanya dimadu atau jadi madu karena saya harus selalu nomor satu. Tapi bukan berarti saya nggak perduli perasaan orang lain. Bahkan dengan pacar saya yang anaknya sudah kuliah saya masih bertanya: "anakmu nggak kenapa aku sama kamu terus?" "Mantan istrimu nggak kenapa aku datang ke acara kalian?"

Bukan karena saya nggak berhak. Saya berhak jadi wanita nomor satu dalam hidupnya. Tapi dia kan perannya paling utama sebagai seorang bapak. Dan saya yang baru sekian bulan bersamanya nggak berhak menyuruh dia melupakan seseorang yang dulu sekian tahun bersamanya.

Kita menaruh tekanan akan keridhoan istri tua, dan ruang diskusi seolah tentang kesiapan si wanita dimadu. Nggak banyak kita berdiskusi soal kesiapan istri muda membantu si istri tua, apalagi kesiapan si bapak memastikan kesejahteraan secara adil untuk semua anak dan istrinya.

Berapa banyak dari kita yang berani bilang, "Kalau abang mau kawinin saya, apa jaminannya anak dan (mantan) istri abang tetap ternafkahi?" Berapa banyak dari kita yang rela menjalin hubungan dengan resiko nafkah kita sedikit karena sadar nafkah utama adalah jatah keluarga pertama?

Seperti cerita teman saya yang menuntut mantan suaminya membayar biaya asuh anak mereka. Si mantan suami berargumen di pengadilan bahwa ia punya istri dan tanggungan baru, jadi biaya asuh harus dikurangi. Hakim menjawab: "Siapa suruh kamu menikah lagi?"

Bagi kebanyakan orang sini, mangkir dari menafkahi anak itu pertanda orang ini nggak benar. Jauh-jauhlah pokoknya. Ini standar yang saya harapkan ada di Indonesia. Kalau doyan bikinnya, nafkahinnya juga mesti getol dong?

Ini juga yang harusnya jadi standar untuk menjadi/memilih istri baru. Kalau si lelaki nggak perduli ada yang terluka karena kehadiran yang baru, apa iya anda bisa merasa aman menjalin kasih dengannya? Kalau si perempuan yang nggak perduli, apa ini orang yang anda inginkan menjadi ibu dari anak-anak anda?

Tapi kan kita nggak mikir sejauh itu ya. Karena percaya deh, kalau baik si lelaki maupun perempuan berpikir keras akan apa kewajiban dan sumbangsih istri/pacar muda/baru untuk menyejahterakan keluarga, jumlah orang yang punya/jadi istri/pacar muda/baru pasti berkurang drastis.

Belum terlambat untuk berpikir lho. Karena bukan yang lama saja yang mesti terima nasib. Kita yang baru pun harus bisa kuat dan welas asih. Kalau bukan kita yang wanita membantu sesama wanita, siapa lagi?

Search This Blog