AdSense Page Ads

Thursday, October 17, 2013

Seorang Diri di Amerika

Nongkrong di pelabuhan/marina ngeliat kucing jalan-jalan

Apa rasanya tinggal di Amerika? Konon keren, apalagi kalau tinggal ga jauh dari Hollywood. Konon beradab juga, dan semua-mua terjamin dan aman. Konon katanya.

Hampir 4 bulan saya tinggal di Amerika, dan saya hampir-hampir ga ngeh kalau saya sudah bukan di Indonesia. Mungkin saya saja yang katro, yang alam bawah sadarnya menolak mengakui kalau sekarang saya di negeri orang dan butuh nyaris 24 jam untuk terbang pulang ke Indonesia, tapi buat saya benar-benar ga ada bedanya. Siang hari (dan terkadang malam) saya mendengar orang lewat berbicara dalam bahasa Inggris atau bahasa Spanyolnya Meksiko, dan rasanya itu wajar banget. Ga parno atau bingung, ibaratnya saya cuma lagi di daerah di Indonesia yang bahasanya beda. Kadang saat saya belanja ke supermarket dan ketemu orang kulit putih di parkiran mobil atau di area supermarket yang kosong/sepi saya bakalan bingung dan berpikir: ini bule ngapain disini? Atau saat-saat saya sibuk berceloteh atau bersms dengan suami saya, dan saya jadi eneg sendiri: ngapain sih gue sok bule sms an/ngomong pakai bahasa Inggris??

Saya paling sering tersadar bahwa saya bukan di Indonesia lagi kalau berhadapan dengan makanan. Saat suami memasak pasta atau sandwich untuk makan malam misalnya, atau menu barat lainnya yang isinya hampir semua karbohidrat dan daging, saya akan terbengong sedih dan meratap dalam hati: mana sayurnya? Atau saat saya menyadari saya ga bisa seenaknya menghabiskan indomie yang ada di lemari dapur, karena kalau habis susah nyarinya. Harga Indomie disini ga mahal, cuma sekitar 39 sen atawa Rp 4000 perbungkus, tapi nyari toko Indonesia disini yang susah. Atau saat menyadari kalau disini ga bisa pagi-pagi pergi ke dagang sayur dan beli bumbu masak plus daging etc, karena disini yang jual sayur tiap hari cuma di supermarket. Ibaratnya kalau mau belanja pilihannya cuma Giant Carrefour dan kawan kawan. Dan bumbu rempahnya? Jangan tanya... botolan semua.

Banyak hal yang disini lebih cihui daripada di Indonesia. Perpustakaannya, misalnya. Saya tinggal tidak jauh dari perpustakaan yang cukup besar, dan rasanya puas banget bisa kesana dan membaca berbagai buku. Selesai sudah petualangan saya nyolong-nyolong baca buku di Gramedia dan Gunung Agung. Museum-museum dan taman-tamannya juga keren habis, dan terjaga plus tertata rapi. Suami saya suka bingung kalau saya takjub melihat mainan anak-anak (ayunan, jungkat-jungkit, seluncuran, etc) yang tertata rapi di taman, modelnya seperti istana mainan di McDonald atau KFC, dan hampir tiap taman punya benda ini, kadang 2 set sekaligus atau lebih. Saya cuma terharu membayangkan apa kata keponakan kecil saya kalau melihat tempat bermain sekeren dan selengkap ini, karena di Jakarta atau Bali cuma sekolah-sekolah yang super oke saja yang punya benda-benda seperti ini. Air minum juga mudah didapat, karena hampir semua tempat publik termasuk supermarket punya pancuran air minum dan air keran disini aman untuk diminum. Selesai sudah bolak-balik mengangkat galon air ke toko atau tempat air isi ulang. Polisi disini bisa dipanggil dengan mudah via 911, dan semua lalu lintas disini tandanya jelas dan mudah dimengerti. Semua serba teratur dan nyaman.

Si Akang mo ngejar speedboat ceritanya. Yup, ini foto nikah kita :D

Tapi tidak selalu semua aman dan nyaman. Ada daerah-daerah disini yang dianggap rawan dan berbahaya, dan kecintaan orang sini terhadap senjata api juga bikin was-was. Kemarin kami melihat seorang ABG menakut-nakuti ABG lainnya dengan senapan dari jendela kamarnya. Saya dengan cueknya berjalan terus, karena kalau di Indonesia benda itu pastinya palsu; lagipula siapa pula yang berani menembak secara random, mau rumahnya dibakar massa apa? Suami saya langsung menarik saya dan menelpon 911, saat itu saya baru tersadar kalau saya bukan di Indonesia, disini orang-orang berhak menembak dengan alasan "membela diri" dan bahkan tidak ragu menembak di muka umum. 2 menit kemudia dua mobil polisi datang dengan kecepatan tinggi, plus sebuah helikopter yang berputar-putar diatas lokasi. Serasa GTA euy. Malamnya saat kami mengunjungi restoran Meksiko kami melihat segerombolan anak muda dengan Porsche kuning mereka, dan suami saya memutuskan untuk mencari tempat lain karena ia khawatir gerombolan anak muda ini anggota geng dan kita bisa terlibat baku tembak disitu. Waduh. 

Disini hukum kuat, tapi bisa dicari celahnya dengan pengacara yang pintar. Ada pengacara yang beragumen bahwa kliennya terlalu mabuk untuk menyadari dia menabrak mobil lain dan menewaskan pengendara mobil tersebut, jadi ia tidak bisa dijerat pasal pembunuhan. Ada juga yang bilang kliennya memiliki ADHD jadi tidak tahu konsekuensi jangka panjang bahwa menembak orang lain itu salah. Yang paling mengherankan: seorang pria yang mengupload pengakuan diri bahwa ia menabrak orang sampai mati saat mabuk, lalu menyatakan "tidak bersalah" di pengadilan karena secara legal ia bisa melakukan itu. Disini juga ada untouchable model di Indonesia, misalnya saja kasus perkosaan di kota Maryville yang konon tidak diusut karena pelakunya anak pejabat. Atau perkosaan oleh atlit football di Steubenville (secara garis besar atlit football mereka dianggap setengah dewa). Ada juga orang-orang buangan, yang kalau di Indonesia modelnya pengemis dan pemulung, misalnya saja kasus anak muda ini yang ditemukan mati dengan kondisi mencurigakan dan setelah otopsi organ dalamnya terbuang dan diganti dengan koran bekas. 

Apapun ras, kebangsaan, atau agamanya, saya menemukan kalau orang ya tetep orang. Sama saja semua: ada yang baik, ada yang rese, ada yang bodoh, ada yang pintar, ada yang egois, ada yang pengertian, ga ada bedanya antara orang sini dan di Indonesia. Kalaupun ada bedanya, yang paling terasa adalah kemandirian orang Indonesia secara umum. Orang sini yang mampu (dan ceritanya sadar kesehatan) lebih memilih membeli air botolan yang mahal, karena minum air keran itu ga keren. Yang kurang mampu hobi minum soda karena harganya lebih murah dari air botolan. Saya beli botol minum dan mengisinya dengan air keran, habis perkara. Air ya air menurut saya, bisa diminum saja sudah bagus. Petugas di konter daging di supermarket langganan saya terbengong saat saya membeli daging potongan besar, dia bilang jarang ada orang yang membeli daging seperti itu dan kebanyakan memilih yang sudah terpotong rapi dan dipaketkan. FYI, harga daging potongan besar dan yang terpotong siap masak itu bedanya bisa $5-$7 per pon nya (1 pon kurang lebih 1/2 kg), lebih baik repot sedikit memotong daging besar jadi beberapa bagian dan menyimpannya di freezer. Saya tidak perlu pusing lagi memkikirkan beli daging seminggu kedepan. Hal-hal kecil ini yang seringkali tidak disadari orang sini, karena terbiasa dimanja dengan berbagai kemudahan. Bayangkan saja, satu kali saya menemukan bawang putih halus yang dibekukan, benda ini disimpan dalam kotak-kotak kecil seperti dalam kotak es batu, jadi kalau mau masak tinggal dipencet keluar saja. Ya ampun, bikin pake blender juga bisa kaleee.....!!!

Menulis ini membuat saya kangen rumah saya di Indonesia. Kangen masakan ibu saya, kangen jajan di pasar atau di kaki lima saat malam hari, kangen hidup tanpa aturan yang mengekang. Disini sampai main bola saat istirahat saja dilarang di sekolah, dan beribu aturan lainnya yang konon membuat hidup orang sini lebih baik, tapi tetap saja terjadi tuntut-menuntut dimana-mana. Orang bilang saya disini adalah kesempatan hebat untuk membuat hidup saya lebih baik. Mungkin. Saya harus mengakui bahwa walau biaya hidup disini tinggi, kemungkinan saya bisa menabung lebih besar daripada saat saya tinggal dan bekerja di Indonesia. Tapi buat orang yang bilang saya hebat karena bisa tinggal di Amerika karena ini negara hebat, sori sori ya mas/mbak. Indonesia tidak kalah hebat kok dengan Amerika. Banyak hal yang Amerika lebih maju dari kita, tapi banyak juga kebijakan dan kebajikan Indonesia yang bikin kita lebih hebat daripada mereka. Indonesia tetap tanah air saya, tetap tempat yang saya cintai, sampai kapanpun jua. Yaaaaaaaaaay, Hidup Indonesia!!!

3 comments:

  1. Ternyata emang bener org indonesia klo di luar negeri pst survive soalnya lbh mandiri yak dibanding org asli sana yg selama hidupnyabudah terlanjur enak2 hihihii

    ReplyDelete
  2. Syukurilah apa yang ada hari ini. Saya merasakan sendiri setelah tinggal di luar Indonesia 2-3 tahun, lalu pulang ke Jakarta saya merasa kurang nyaman. Tapi hidup harus terus berjalan dan suatu saat pasti ada keindahan di masa depan.

    ReplyDelete
  3. saya doakan sukses di amerika,jangan lupa dengan tanah kelahiran NKRI tercinta.Mohon bantuannya untuk mengunjungi blogku ya...http://learningislamwith.blogspot.com/ terimakasih

    ReplyDelete

Search This Blog