AdSense Page Ads

Wednesday, April 8, 2015

The Passionate Death, The Passionate Life

When I read the news about a mayor who wants to make her town a long living 'blue zone', I can't help thinking, "Does living really matter?"

Now, don't get me wrong. I am all for life. I am all about life, actually. Being alive, being able to breathe the air and living your days is to me the ultimate blessing. You can have bad days and good days, and it is still worth living. But what about people who don't have the luxury to realize that life is indeed worth living? There are people like that, trust me. Those who come to the realization that life sucks, and those who live life indifferently like a soulless puppet, I can't help thinking what life meant for them.

As a daughter, I saw my parents coped with their mental illness. It wasn't described like that at first, but when I started my own family I can finally see them the way they really are, their struggles and defeats. To some, they are actually pretty normal. After all, there are many people out there who are incapable of dealing with their emotions and illusions, or to break free from the vicious cycle that they created. My parents are not special in that matter. But here, thousands of miles away from my parents I spend my days knowing that one day I will receive the phone call from home that tells me one of them is dead. That one of them (or both of them) couldn't cope with life any longer and succumb to death. 

Dramatic isn't it? And some of you might think that I secretly wanted it to be that way. If they are dead, it will be one less burden that I have to carry for life. Yet the fact of the matter is, they will eventually die just like the rest of us mortal humans. When my grandmother died, I was filled with remorse. I was not sad because I could not see her anymore, I was sad for all the things I could have done for her. I was sad because I can't treat her better. And that is another thing about death: death is not about the deceased. It never was, and it never will be. Death is about the ones that got left behind. So the question is, who or what are you living for?

A friend and I had a discussions the other day. She was telling me about her new-found passion in dancing and we discussed about how it's like to have passion, to have something that you love (doing) so much that make life worth living. A couple of friends of mine love to travel. I know that they are passionate about it because they will go unannounced to many places and only post a few pics (if any) in their Facebook. But those posts, man oh man, you can tell that they are there because they wanted to be there, because they wanted that experience and live that life and not for a mere photo-op or bragging rights. Another one loves to write, and another one is a die-hard grunge-style lover. As you can see, I am passionate about human and writing. Regardless how bad a day is, knowing that I can write anything, anytime, makes me eager to start another day anew.

Yet there are people who seemed to live life just as it is. And we, my friend and I, discussed at length of how is it like to live a life without passion. People who (from their social media feed) seemed to live their life consumptively just like thousands of others: work, shop, drink, eat, etc, how do they feel with life? Are they looking forward for the next day in life? And should that lifestyle be taken away from them, would it brings them down or would they happily switch to something else, something other that could bring them the superior feeling of acknowledgement again, that they are 'doing it right' and 'in the group'? Is doing what other did simply because society told you to is the only way to live?

We stopped there and laughed. We chided ourselves and each other for being so nosy with other people's business. The fact of the matter is, what other people do with their life is absolutely none of our business. They might be passionate about things but we didn't realize it. What we do with our life, on the other hand, is completely our business. It is our responsibility even. We talk about how we want to use our passion to help other, to heal ourselves and the people that we could reach. And that is when we realize: The main question is never about "I don't want to die", the main question is "How can I live this life". That's where passion came through. That moment when you are doing something with all your might that the world seemed to stop or even not exist anymore, that's what passion could do for you. It defines you, shapes you, distracting you from unhappiness and providing you a brief respite in the otherwise cruel life as well as a reason to wake up the next day.

To some, this is an easy feat. Some people possessed such a strong passion inside them that living is such a tumultuous feat. And yes, some of the passions can be misguided. Passion for power, for instance, or any kind of passion that involves hurting others. This is the sad reality of our human world, where some of us have such weak self-restraint and would prey on others for their own benefit. And there are also some of us, many of us as a matter of fact, that live this life without even knowing why we live this life. Which is peculiar if you think about it. Science have proved to us that the world is in a constant balance. One thing leads to another, one event will affect another, that is how the world works. Therefore, not even a single human is in this world for no reason at all. Everybody has a role to play, everybody has to work their part.

It may sounds too complicated, too much spiritual/self-motivation mumbo jumbo not unlike the quotes that one could find in Facebook: "You are the world" or things like that. But even if you can't spark a specific passion for something in you, at least be passionate about living. Enjoy life today as it is: the present. Yes, another cliche, but true nonetheless. Death is not something to be afraid of. The scariest thing of all is to stuck for a long lifetime in a life that you do not enjoy, regardless how comfortable it is. There are people who walks in the shadow of death, forever wanting to be freed from their harsh cruel life; and there are people who walks living but like dead, forever not knowing what to do with their life. Life is good, life is fun. Be passionate about it.

Monday, April 6, 2015

Berdamai Dengan Si Mbak Didalam Cermin

Pelajaran paling berharga dari mengikuti berita politik di Indonesia dan Amerika adalah menyadari kalau haters gonna hate. Orang kalau sudah tidak suka ada saja alasannya untuk melihat apa yang salah dari kita, kalau perlu pakai ilmu cucoklogi yang nyambung nggak nyambung harus nyambung.

Dulu saya nggak pedean karena saya terbilang montok dan muka saya tradisional sekali. Nggak jelek, cuma beda saja. Disaat teman-teman SMA saya terlihat begitu manis dan rapuh, saya kayanya sudah solid luar dalam. Gimana mau punya pacar coba. Akhirnya saya masuk ke persona cool sexy grunge. Yah, paling nggak saya mencoba sih. Walau persona itu lumayan berhasil, tapi saya tetap saja tidak pede. Masuk kuliah tidak pedenya malah makin nambah karena tahu diri tidak punya uang lebih untuk jjs ke mall atau beli baju baru yang modis sering-sering. Tambah lagi nggak becus pake makeup. Klop sudah penderitaan. Persona nya jadi agak berubah, kali ini menjadi sexy cuek. Sengaja memanfaatkan kemontokan badan saya untuk menarik perhatian lawan jenis, juga untuk membungkam pendapat yang tidak diundang, "Kalau loe kurusan pasti tambah cantik deh!". Saya sebal sekali dengan orang-orang yang komentar seperti itu. Memangnya ada yang salah ya kalau badan dan penampilan saya begini? Nggak bisa ya liat siapa saya dari dalam dan bukan dari luarnya saja?

Jawabannya ya seperti apa yang bisa anda duga: nggak bisa. Saya melewati masa kuliah tanpa ada satu cowok pun menembak saya. Saya punya pacar, tapi saya selalu berpikir kalau saya harus jadi wanita super untuk menutupi kekurangan saya di bidang fisik. Padahal saya tahu saya nggak jelek-jelek amat, tapi saya juga percaya sebagian besar orang tidak menganggap saya menarik. Waktu saya pindah ke Bali keyakinan ini makin kuat. Mana dasarnya saya sudah seperti bebek di kandang ayam, kelihatan sekali bedanya. Gaya dan pola pikir saya tidak seperti orang Bali pada umumnya, dan saya pun tidak bisa bahasa Bali. Seribu satu nasehat diberikan kepada saya, termasuk (lagi-lagi) kurangi berat badan, pakai makeup, dan jangan terlihat terlalu pintar. Rasanya tidak ada satupun yang benar dari saya.

Ini yang bikin saya akhirnya menyerah dan mencoba peruntungan di kencan online. Masalahnya saya yakin sekali dengan diri saya di bidang pekerjaan, dan saya tidak rela harus 'merunduk' demi seseorang yang lebih jeblok daripada saya dan tidak bisa/mau menghormati saya sebagai manusia seutuhnya. Kalau sudah basah, mandi sekalian saja. Padahal saya nggak suka kencan model begitu. Saya lebih nyaman dengan sesuatu yang solid dan bukannya sibuk bermanis-manja dengan beberapa orang sekaligus. Capek lho berpura-pura seperti itu. Untungnya kondisi ini tidak berlangsung lama. Belum genap 2 bulan saya ikut online dating saya sudah ketemu akang saya, dan disinilah saya sekarang.

Balik lagi ke berita politik tadi, akhirnya saya sadar kalau haters gonna hate dan saya nggak bisa menyenangkan semua orang. Ya itu tadi, tahunya dari berita-berita dan komentar-komentar sinis tentang Jokowi dan (kalaudi Amrik sini) Obama. Ibaratnya kalau besok hujan salju di Jakarta pun pasti salah Jokowi, atau kalau hujan kodok di LA sini pasti salah Obama. Yang semua detail kehidupannya dikaitkan dengan kemampuannya memimpin negara, terlepas benar atau nggaknya. Yang apapun yang dilakukan akan selalu salah di mata hatersnya. Hidup ya memang begitu adanya.

Sewaktu saya beranjak dewasa (baca: akhir umur 20an) saya akhirnya menyadari kalau saya nggak perlu berusaha jadi orang yang diinginkan orang lain. Saya nggak perlu mengubah diri saya hanya agar diterima orang lain. Tapi saya tidak bisa menjelaskan kenapa. Baru belakangan inilah, setelah saya pindah jauh dan bersama orang yang mencintai saya apa adanya (taelah..) plus rajin mengikuti berita politik, akhirnya saya mengerti dan bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Entah berapa banyak cerita-cerita motivational yang saya baca (dan tulis) yang bilang "have faith in yourself" atau "you are beautiful the way you are", tapi tetap saja di hati kecil saya terselip "Tapi bagaimana kalau saya yang salah? Bagaimana kalau mereka benar dan saya harus berubah?". Sekarang saya mengerti. Saya tidak bisa berubah untuk memuaskan orang lain karena bila mereka tidak bisa menerima saya apa adanya mereka pun tidak akan puas dengan apapun yang saya lakukan. Seperti mencoba mengeringkan lautan, nggak ada habisnya.

Mungkin saya baru ngeh soal ini karena saya (akhirnya) siap dan cukup matang untuk menerimanya. Tapi terbayang tidak kalau saya menyadari hal ini jauh sebelumnya? Kepercayaan diri saya pastinya meningkat yang justru akan meningkatkan keatraktifan saya, karena percaya diri itu sangat menarik lho. Hidup saya pastinya tidak sesulit yang saya alami. Manusia itu lucu ya, kita tertarik dengan orang yang tidak perduli (amat) dengan keberadaan kita; semakin kita bersikap EGP (Emangnya Gue Pikirin) justru semakin tertantang orang untuk membuat kita memikirkan mereka. Tapi ilmu/pengetahuan ini juga harus dipakai dengan bijak. Kita harus bisa membedakan mana masukan yang memang bertujuan membantu kita (alasan kesehatan misalnya), dan mana yang diutarakan hanya agar kita bisa fit/masuk ke kondisi ideal yang ia inginkan. Repot? Banget. Tapi ini demi kedamaian dalam diri anda.

Pagi ini saya melihat diri saya di cermin. Masih banyak ini-itu yang saya tahu masih bisa saya perbaiki, tapi setidaknya saya bahagia melihat siapa saya di dalam cermin tersebut. Dulu saya pernah merasakan kebahagiaan ini, waktu saya merasa diterima oleh si Akang ganteng saya. Sekarang saya merasakan kebahagiaan ini, karena saya merasa diterima oleh diri saya sendiri. Perang saya sudah usai. Akan ada pertarungan-pertarungan kecil lainnya dimana saya merasa sebal dan tidak suka dengan diri saya sendiri karena, yah, begitulah sifat manusia; tapi perang saya sudah usai. Saya sudah berdamai dengan si Mbak di dalam cermin. Dan anda tahu, dia lumayan menyenangkan lho :).

Friday, April 3, 2015

Buka Hati, Buka Mata, Karena Knowledge is Power!

"StaN akan membuat lulusannya menggawangi system pajak yang jelas2 menyelisihi ajaran Islam."
Begitu komen yang saya baca pagi-pagi di sebuah artikel tentang sekolah-sekolah unggulan di Indonesia. Sibuklah saya mengelus-elus dada. Hari gini coba, hari gini.

Kata orang Amrik sini, "Knowledge is power". Ini benar lho dalam artian sesungguhnya, siapa yang punya ilmu/pengetahuan pasti akan punya kuasa. Makanya wikileaks dan kasus hack-menghack marak, makanya mata-mata sudah ada dari jaman baheula. Kalau kita tahu sesuatu yang berharga, otomatis nilai tukar/bargaining power kita juga bertambah. Anda yang jago Bahasa Inggris pasti bisa minta dibayar lebih oleh bos anda bukan? Begitupula anda yang jago akuntansi/komputer, bila dibandingkan dengan orang yang masih cuma mampu mengetik 11 jari (a.k.a 2 jari telunjuk). 

Punya banyak pengetahuan juga membantu otak anda berpikir dan melapangkan hati anda. Ibaratnya seperti merambah hutan dan membuka lahan pertanian baru. Seberapa banyak pengetahuan yang anda dapatkan tergantung dari seberapa jauh anda berani mencari pengetahuan. Sayangnya, di era keterbukaan informasi ini makin mudah juga terjebak dalam pengumpulan pengetahuan yang kita maui, jadi bukannya membuka diri malah justru menutup diri. Kalau tidak sesuai dengan paham kita maka kita anggap tidak benar. 

Misalnya saja anda membuat teori bahwa mawar merah itu bunga yang paling indah, tapi bukannya berusaha mengerti lebih lanjut tentang mawar merah itu sendiri (bagaimana warnanya bisa merah, jenis apa yang paling banyak ditemui, peran mawar merah dalam kehidupan manusia etc) anda malah cuma mengumpulkan data siapa-siapa saja yang setuju kalau mawar merah yang paling indah dan menganggap siapa yang tidak suka mawar merah sebagai musuh anda. Nggak berkembang kan jadinya?

Hal ini banyak terjadi terutama dalam pengamalan agama. Contohnya ya seperti diatas tadi. Padahal menurut Wikipedia semua negara di dunia ada pajaknya juga kok. Arab Saudi memakai sistem zakat, tapi wajar sekali bila negara-negara yang kaya tapi memiliki wilayah kecil dan penduduk minim mampu membiayai kehidupan penduduknya tanpa menarik pajak. Nggak perlu jauh-jauh, lihat saja sekeliling anda. Orang yang sosio-ekonominya rendah dengan jumlah anggota keluarga yang berlimpah pasti harus bekerja lebih giat untuk membantu keluarganya, tapi yang sosio-ekonomi tinggi dan jumlah keluarga minim bisa jjs dan pelesir karena anggota keluarga mereka tidak ada yang perlu dibantu. Pajak ya itu, usaha untuk membantu 'keluarga' anda.

Sayangnya logika sesederhana ini nggak akan bisa masuk atau dimengerti kalau kita menolak membuka diri. Apalagi kalau hubungannya dengan Tuhan, dengan agama, langsung deh kita jadi binatang buas yang siap menerkam siapapun yang berusaha menggoyahkan kedaulatan Tuhan kita. Sensitif gitu deh ceritanya. Saya sudah melihat orang dari berbagai agama melakukan hal ini, saya sendiri pernah kok. Pokoknya agama itu saklek, harus sesuai apa yang tertulis di kitab suci. Padahal kalau iya repot banget lho. Saya yang Hindu dari Bali misalnya, kalau disuruh sembahyang pakai Ghee dan susu seperti di India bisa bangkrut saya. Tapi walaupun ritual Hindu Bali sedikit berbeda dengan Hindu India, saat membaca Kitab Suci saya masih bisa menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 

Idealnya, inilah yang harus terjadi. Agama itu adalah tuntunan hidup, bukan kerangkeng hidup. Pajak menyelisihi ajaran agama Islam dalam hal apa? Apajah bisa disiasati agar negara tetap berjalan tanpa pajak? Apakah dijaman dulu pun tidak ada pajak? Begitu banyak yang bisa dipertimbangkan dan bukannya sekedar bilang "Menurut kitab suci itu salah!" tanpa berusaha mengerti lebih dalam. Kitab suci harusnya dimasukkan kedalam hati dan menjadi nyawa dalam kehidupan keseharian kita, seperti layaknya software/perangkat lunak yang 'menjalankan' kita agar kita menjadi manusia yang lebih baik, menuju dunia yang lebih baik; dan bukan sebaliknya, kita yang berusaha memasukkan diri kita kedalam kitab suci dan hanya hidup disana.

Lagi-lagi kembali ke diri kita sendiri, seberapa jauh kita mau mencari pengetahuan dan seberapa lebar kita mau membuka diri. Saya baca postingan di Facebook yang bilang pendidikan di Indonesia jelek karena gurunya tidak menjelaskan kenapa pengetahuan itu berguna. Padahal di Amerika sini juga sama, banyak banget saya lihat postingan yang komplain bilang pelajaran yang mereka dapatkan tidak berguna di kehidupan nyata. Masalahnya nggak mungkin satu-persatu dijelaskan kenapa ini/itu berguna. Selain keterbatasan waktu manusia, juga ada faktor ke-ndableg-an manusia, alias sudah diinfo tapi masih tidak mau mengerti. Yang bisa kita lakukan adalah menganggap semua pengetahuan (dan orang) itu punya potensi untuk berguna, jadi kita lebih melapangkan diri untuk menerimanya. Mau dipakai atau tidak ya urusan nanti.

Mungkin banyak dari anda heran kenapa saya sibuk ngurusin agama orang. Saya tidak ngurusin agama orang, catet, saya ngurusin saudara sebangsa setanah air saya. Dari sebelum saya diboyong ke Amerika saya sudah percaya kalau Indonesia punya potensi besar. Sekarang saya di Amerika saya tambah yakin kalau Indonesia (dan orang-orangnya) bisa jadi jauh lebih besar dan lebih berjaya daripada negara lain. Dari segi jumlah manusianya saja, kita bisa dengan mudah melibas negara lain. Bagaimana tidak, Indonesia yang internetnya lelet dan jaringannya amat sangat terbatas bisa punya pengguna Facebook terbanyak nomor 4 di dunia. Padahal dari sebanyak itu mungkin cuma sepersekian yang mengerti bahwa untuk menggunakan Facebook mereka sebenarnya terhubung dengan internet. Nggak, saya nggak bercanda. Banyak pengguna Facebook di Indonesia yang disurvey bilangnya nggak pernah 'menyentuh' internet padahal mereka selalu online di Facebook BBM dan sebagainya. Bukan karena mereka bohong, tapi karena mereka memang tidak mengerti. Terbayang tidak kalau orang Indonesia bisa 'melek' internet dan sinyal internet di Indonesia lebih bagus dan merata? Belum lagi sifat dasar orang Indonesia yang dasarnya tidak manja dan pantang menyerah, dan kemampuan kita menyerap bahasa asing yang sangat cepat. Orang Indonesia itu pejuang tangguh banget deh. Makanya kalau dengar orang Indonesia yang berpikiran sempit rasanya gimana gitu.

Tapi terlepas untuk apa saya mengurusi orang lain, punya pengetahuan luas itu sangat menyenangkan lho. Yang paling 'berasa' sih saat saya bisa membandingkan kondisi saya dengan orang lain, dan merasa bersyukur karenanya. Kalau saya tidak repot-repot baca berita tentang negara lain atau berusaha mengerti orang lain, mungkin saya tidak tahu seberapa beruntungnya diri saya dibandingkan sekian banyak orang lain di dunia ini. Kalau saya tidak buka mata dan buka hati saat tinggal di Amerika sini, mungkin saya tidak tahu seberapa indah dan nyamannya sebenarnya Indonesia. Atau ya itu tadi, seberapa hebatnya orang Indonesia sebenarnya. Baca berita dan tahu tentang negara lain juga menumbuhkan empati dan simpati saya terhadap manusia keseluruhan. There are so many bad person in this world, but there are many good person as well; and we will never know which one's which without opening our mind and our heart. Di dunia ini ada begitu banyak orang yang tidak baik, namun ada begitu banyak orang baik juga; dan kita tidak akan tahu yang mana yang baik dan yang mana yang buruk kalau kita tidak mau membuka mata dan hati kita. Dunia itu indah lho. Sumpah.

Search This Blog