AdSense Page Ads

Showing posts with label tinggal di LA. Show all posts
Showing posts with label tinggal di LA. Show all posts

Friday, April 3, 2015

Buka Hati, Buka Mata, Karena Knowledge is Power!

"StaN akan membuat lulusannya menggawangi system pajak yang jelas2 menyelisihi ajaran Islam."
Begitu komen yang saya baca pagi-pagi di sebuah artikel tentang sekolah-sekolah unggulan di Indonesia. Sibuklah saya mengelus-elus dada. Hari gini coba, hari gini.

Kata orang Amrik sini, "Knowledge is power". Ini benar lho dalam artian sesungguhnya, siapa yang punya ilmu/pengetahuan pasti akan punya kuasa. Makanya wikileaks dan kasus hack-menghack marak, makanya mata-mata sudah ada dari jaman baheula. Kalau kita tahu sesuatu yang berharga, otomatis nilai tukar/bargaining power kita juga bertambah. Anda yang jago Bahasa Inggris pasti bisa minta dibayar lebih oleh bos anda bukan? Begitupula anda yang jago akuntansi/komputer, bila dibandingkan dengan orang yang masih cuma mampu mengetik 11 jari (a.k.a 2 jari telunjuk). 

Punya banyak pengetahuan juga membantu otak anda berpikir dan melapangkan hati anda. Ibaratnya seperti merambah hutan dan membuka lahan pertanian baru. Seberapa banyak pengetahuan yang anda dapatkan tergantung dari seberapa jauh anda berani mencari pengetahuan. Sayangnya, di era keterbukaan informasi ini makin mudah juga terjebak dalam pengumpulan pengetahuan yang kita maui, jadi bukannya membuka diri malah justru menutup diri. Kalau tidak sesuai dengan paham kita maka kita anggap tidak benar. 

Misalnya saja anda membuat teori bahwa mawar merah itu bunga yang paling indah, tapi bukannya berusaha mengerti lebih lanjut tentang mawar merah itu sendiri (bagaimana warnanya bisa merah, jenis apa yang paling banyak ditemui, peran mawar merah dalam kehidupan manusia etc) anda malah cuma mengumpulkan data siapa-siapa saja yang setuju kalau mawar merah yang paling indah dan menganggap siapa yang tidak suka mawar merah sebagai musuh anda. Nggak berkembang kan jadinya?

Hal ini banyak terjadi terutama dalam pengamalan agama. Contohnya ya seperti diatas tadi. Padahal menurut Wikipedia semua negara di dunia ada pajaknya juga kok. Arab Saudi memakai sistem zakat, tapi wajar sekali bila negara-negara yang kaya tapi memiliki wilayah kecil dan penduduk minim mampu membiayai kehidupan penduduknya tanpa menarik pajak. Nggak perlu jauh-jauh, lihat saja sekeliling anda. Orang yang sosio-ekonominya rendah dengan jumlah anggota keluarga yang berlimpah pasti harus bekerja lebih giat untuk membantu keluarganya, tapi yang sosio-ekonomi tinggi dan jumlah keluarga minim bisa jjs dan pelesir karena anggota keluarga mereka tidak ada yang perlu dibantu. Pajak ya itu, usaha untuk membantu 'keluarga' anda.

Sayangnya logika sesederhana ini nggak akan bisa masuk atau dimengerti kalau kita menolak membuka diri. Apalagi kalau hubungannya dengan Tuhan, dengan agama, langsung deh kita jadi binatang buas yang siap menerkam siapapun yang berusaha menggoyahkan kedaulatan Tuhan kita. Sensitif gitu deh ceritanya. Saya sudah melihat orang dari berbagai agama melakukan hal ini, saya sendiri pernah kok. Pokoknya agama itu saklek, harus sesuai apa yang tertulis di kitab suci. Padahal kalau iya repot banget lho. Saya yang Hindu dari Bali misalnya, kalau disuruh sembahyang pakai Ghee dan susu seperti di India bisa bangkrut saya. Tapi walaupun ritual Hindu Bali sedikit berbeda dengan Hindu India, saat membaca Kitab Suci saya masih bisa menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 

Idealnya, inilah yang harus terjadi. Agama itu adalah tuntunan hidup, bukan kerangkeng hidup. Pajak menyelisihi ajaran agama Islam dalam hal apa? Apajah bisa disiasati agar negara tetap berjalan tanpa pajak? Apakah dijaman dulu pun tidak ada pajak? Begitu banyak yang bisa dipertimbangkan dan bukannya sekedar bilang "Menurut kitab suci itu salah!" tanpa berusaha mengerti lebih dalam. Kitab suci harusnya dimasukkan kedalam hati dan menjadi nyawa dalam kehidupan keseharian kita, seperti layaknya software/perangkat lunak yang 'menjalankan' kita agar kita menjadi manusia yang lebih baik, menuju dunia yang lebih baik; dan bukan sebaliknya, kita yang berusaha memasukkan diri kita kedalam kitab suci dan hanya hidup disana.

Lagi-lagi kembali ke diri kita sendiri, seberapa jauh kita mau mencari pengetahuan dan seberapa lebar kita mau membuka diri. Saya baca postingan di Facebook yang bilang pendidikan di Indonesia jelek karena gurunya tidak menjelaskan kenapa pengetahuan itu berguna. Padahal di Amerika sini juga sama, banyak banget saya lihat postingan yang komplain bilang pelajaran yang mereka dapatkan tidak berguna di kehidupan nyata. Masalahnya nggak mungkin satu-persatu dijelaskan kenapa ini/itu berguna. Selain keterbatasan waktu manusia, juga ada faktor ke-ndableg-an manusia, alias sudah diinfo tapi masih tidak mau mengerti. Yang bisa kita lakukan adalah menganggap semua pengetahuan (dan orang) itu punya potensi untuk berguna, jadi kita lebih melapangkan diri untuk menerimanya. Mau dipakai atau tidak ya urusan nanti.

Mungkin banyak dari anda heran kenapa saya sibuk ngurusin agama orang. Saya tidak ngurusin agama orang, catet, saya ngurusin saudara sebangsa setanah air saya. Dari sebelum saya diboyong ke Amerika saya sudah percaya kalau Indonesia punya potensi besar. Sekarang saya di Amerika saya tambah yakin kalau Indonesia (dan orang-orangnya) bisa jadi jauh lebih besar dan lebih berjaya daripada negara lain. Dari segi jumlah manusianya saja, kita bisa dengan mudah melibas negara lain. Bagaimana tidak, Indonesia yang internetnya lelet dan jaringannya amat sangat terbatas bisa punya pengguna Facebook terbanyak nomor 4 di dunia. Padahal dari sebanyak itu mungkin cuma sepersekian yang mengerti bahwa untuk menggunakan Facebook mereka sebenarnya terhubung dengan internet. Nggak, saya nggak bercanda. Banyak pengguna Facebook di Indonesia yang disurvey bilangnya nggak pernah 'menyentuh' internet padahal mereka selalu online di Facebook BBM dan sebagainya. Bukan karena mereka bohong, tapi karena mereka memang tidak mengerti. Terbayang tidak kalau orang Indonesia bisa 'melek' internet dan sinyal internet di Indonesia lebih bagus dan merata? Belum lagi sifat dasar orang Indonesia yang dasarnya tidak manja dan pantang menyerah, dan kemampuan kita menyerap bahasa asing yang sangat cepat. Orang Indonesia itu pejuang tangguh banget deh. Makanya kalau dengar orang Indonesia yang berpikiran sempit rasanya gimana gitu.

Tapi terlepas untuk apa saya mengurusi orang lain, punya pengetahuan luas itu sangat menyenangkan lho. Yang paling 'berasa' sih saat saya bisa membandingkan kondisi saya dengan orang lain, dan merasa bersyukur karenanya. Kalau saya tidak repot-repot baca berita tentang negara lain atau berusaha mengerti orang lain, mungkin saya tidak tahu seberapa beruntungnya diri saya dibandingkan sekian banyak orang lain di dunia ini. Kalau saya tidak buka mata dan buka hati saat tinggal di Amerika sini, mungkin saya tidak tahu seberapa indah dan nyamannya sebenarnya Indonesia. Atau ya itu tadi, seberapa hebatnya orang Indonesia sebenarnya. Baca berita dan tahu tentang negara lain juga menumbuhkan empati dan simpati saya terhadap manusia keseluruhan. There are so many bad person in this world, but there are many good person as well; and we will never know which one's which without opening our mind and our heart. Di dunia ini ada begitu banyak orang yang tidak baik, namun ada begitu banyak orang baik juga; dan kita tidak akan tahu yang mana yang baik dan yang mana yang buruk kalau kita tidak mau membuka mata dan hati kita. Dunia itu indah lho. Sumpah.

Tuesday, March 17, 2015

Indonesia: Kedigdayaan dan Pengaruh Barat

Yang terhormat Mbak Kitty,

Saya membaca 'surat' Mbak Kitty untuk masyarakat Indonesia, dan hati saya merasa gundah gulana. Yah, tepatnya sirik sih. Saya tidak tahu mbak tinggal dimana di negara barat, tapi pastinya mbak tinggal di tempat yang lumayan berada kalau sampai mbak bisa bilang: "People in the western side of the world, they don’t need a rule to line up. They don’t need a punishment so that they would throw their trash in a trashcan. And they don’t smoke in public, with or without a sign telling them to do so." Mbak pasti tinggal di kawasan mewah ya, yang semua aman damai tentram. Bandingannya kaya di Disneyland gitu deh mbak, yang kalau mbak buang sampah sembarangan langsung muncul pegawainya untuk memungut sampah itu. Tapi yah, masuk Disneyland kan hampir Rp 1,3 juta rupiah perorang sekarang.

Soal sampah, tempat tinggal saya di LA itu sebenarnya cuma sekitar 5 menit naik mobil ke Staples Center, Downtown LA, dan kawasan 'tenar' lainnya. Tapi di kawasan saya setiap paginya di'dekorasi' dengan (maaf) kotoran dan air kencing manusia. Sampah berserakan dan begitu pula 'benda-benda' antah berantah yang amat sangat mungkin keluar dari tubuh manusia. Kalau mbak pikir itu mengerikan, mbak mesti jalan-jalan ke kawasan Skidrow di LA. Skidrow dan Art District (namanya keren kan??) itu bisa dibilang berseberangan, tapi sementara Art District itu seni banget (ceritanya), Skidrow isinya tenda-tenda orang-orang homeless dan (lagi-lagi) segala jenis sampah. Nggak banget kan? Mungkin mbak akan bilang, "Oh itu Skidrow, yang isinya memang orang kulit hitam nggak jelas." Tapi saya jalan-jalan ke Arizona juga ada kok orang-orang seperti itu, daerah-daerah yang lumayan 'lawless' alias nggak berhukum bahkan di kawasan yang dominan kulit putih sekalipun.

Soal nggak taat peraturan pun semua orang pernah melakukannya, bahkan yang kalangan menengah keatas sekalipun. Kalau mbak baca Yahoo misalnya, atau Huffington Post di internet, ada kok cerita-cerita misalnya saja soal orang yang ngaku-ngaku anjingnya service dog/anjing khusus orang sakit biar dia bisa bawa anjingnya kemana-mana. Ini hal kecil memang, tapi tetap saja mentalitas "pokoknya saya senang!". Korupsi/bribe juga marak di Amerika sini, misalnya saja NRA yang melobi terus-terusan agar mereka bisa terus jualan senjata api, padahal senjata api mereka biang kerok segala gun accident/kecelakaan senpi di Amerika. Di Amerika saya tidak pernah tahu peraturan mana yang dibuat untuk menguntungkan produsen/perusahaan besar dan peraturan mana yang dibuat demi masyarakat. Paling tidak kalau ketilang polisi di Indonesia ketahuan itu uangnya kemana saja.

Saya awalnya menulis ini mau bilang kalau soal taat tidak taat peraturan itu bukan tergantung dari belahan dunia mana anda berasal, tapi tergantung dari tingkat pendidikan anda. Yang pendidikannya rendah ya pastinya nggak terlalu ngerti masalah rumit seperti kemana sampah itu akan berakhir, misalnya saja. Tapi kalau dipikir-pikir nggak juga, karena yang pendidikannya tinggi pun akan dengan senang hati tidak menuruti aturan asal menguntungkan bagi mereka, persetan dengan orang lain. Mungkin yang lebih tepatnya adalah ada orang yang tidak taat peraturan karena tidak mengerti (misalnya saja rakyat kecil di Indonesia), dan ada yang tidak taat peraturan karena, yah, fuck you. Entah karena mereka miskin dan jadi pahit terhadap dunia, atau karena mereka kaya dan jadi sombong terhadap dunia. Saya dan orang-orang lain yang ditengah-tengah mah cuma bisa menonton saja, syukur-syukur tidak jadi pelanduk yang mati ditengah-tengah dua gajah.

Saya tidak tahu berapa lama mbak tinggal di negara barat, tapi mungkin mbak sudah lupa bahwa orang Indonesia itu sebenarnya sangat ketat aturan adatnya. Paling tidak di masa lalu. Misalnya saja di daerah Geringsing di Bali, ada aturannya untuk memanen tumbuhan untuk pewarna alami kain tenun mereka. Efeknya jelas, melestarikan lingkungan dan memberi kesempatan regenerasi alam. Semua aturan-aturan adat yang berkaitan dengan alam sebenarnya jelas alasannya, tapi karena dibumbui 'ancaman-ancaman' mistis jadi malah tidak digubris. Mistis itu bertentangan dengan agama. Mistis itu tidak berdasarkan sains/ilmu pengetahuan. Saya ditertawakan oleh orang Indonesia yang di LA saat saya bilang saya takut diganggu Leak/setan saat merayakan hari raya Nyepi di Bali, dibilang kok saya masih percaya begituan. Mungkin iya, cerita mahluk halus seperti itu cuma karangan leluhur belaka, tapi apa salahnya kalau berkat cerita itu kita bisa memberikan 'time off' untuk dunia semalam saja?

Agama modern jelas salah satu sebab lunturnya kebudayaan dan adat-istiadat di Indonesia. Namun modernisasi juga punya andil yang tidak kalah besar. Percaya takhayul itu 'tidak pintar/terbelakang', padahal dijaman dulu saat kita masih percaya sumber air dijaga oleh siluman dan roh halus mana pernah kita berani buang sampah sembarangan disana. Stigma takhayul sama dengan terbelakang ini ya datangnya dari negara Barat, yang memang tidak percaya begituan. Sekali waktu saya membaca artikel tentang Denmark yang membatalkan rencana pembangunan jalan tol karena dikhawatirkan melewati kerajaan peri. Serius ini tidak bohong. Kalau anda baca komentar-komentar orang (Amerika) soal artikel itu ya, seolah Denmark itu bodoh luar biasa. Negara Barat juga menyumbangkan kapitalisme, yang menyodorkan dunia segala sesuatu yang harus dipunyai dunia. Masalah apakah barang yang disodorkan itu berfaedah atau tidak ya urusan belakangan. Misalnya saja dulu punya kipas angin rasanya sudah surga dunia, sekarang kalau tidak pakai AC merk ternama rasanya miskin tidak karuan. Dulu yang hitam manis itu sudah te-o-pe be-ge-te, sekarang kalau tidak pakai krim pemutih dan anti kerut plus makeup rasanya seperti wanita kelas bawah. Akhirnya ya semua orang harus kerja demi membeli barang-barang yang diiklankan "Must Buy!" oleh para kapitalis. Bahkan para pemuka agama pun tidak mau kalah berjualan buku atau atribut keagamaan lainnya. Walhasil semua orang berlomba mengejar uang dan akhirnya tidak memperdulikan orang lain. Inilah western influence yang sebenarnya. Di Indonesia, sialnya, yang terjadi adalah gabungan ketidaktahuan dan ketidakpedulian. Klop.

Mbak Kitty, saya masih bingung maksud mbak menulis surat itu untuk apa, apalagi pakai Bahasa Inggris. Yang butuh diingatkan untuk berubah bukan orang-orang yang kalangan menengah keatas, tapi orang-orang yang kalangan menengah kebawah yang merupakan dasar dari piramida ini dan pastinya tidak sefasih itu Bahasa Inggrisnya. Kalau mbak mengingatkan para orang Indonesia yang menengah keatas agar mau berusaha 'membereskan' Indonesia, apa iya mereka tidak mengerti Bahasa Indonesia? Atau mbak memakai Bahasa Inggris biar lebih greget dan opini mbak lebih diterima oleh para orang elit ini? Bila iya, berarti kita dalam masalah besar mbak. Bagaimana mbak bisa mengharapkan para orang terhormat ini untuk peduli dengan Indonesia kalau mereka saja menganggap Bahasa Indonesia kampungan? Sementara di LA sini suami saya yang orang Amerika berusaha keras menguasai Bahasa Indonesia agar bisa benyanyi dangdut dengan lancar. Nasib nasib.... 

Saya setuju sekali mbak soal Indonesia harus berubah. Kita negara kepulauan, kalau sampah dan kendaraan/moda transportasi tidak dikelola dengan baik bisa runyam urusannya. Tapi saya kurang setuju kalau caranya dengan menanamkan western influence. Kita perlu menanamkan rasa cinta tanah air, karena apa yang kita cintai pasti kita jaga dengan baik. Kita perlu mengingatkan, menjaga agar masyarakat Indonesia tetap melihat jauh keluar, melihat diri mereka sebagai bagian dari rencana alam maha besar, sebagaimana dikatakan dalam cerita-cerita dan adat-istiadat kuno Indonesia. Jangan sampai masyarakat Indonesia cuma bisa melihat kedalam diri mereka sendiri dan mementingkan diri sendiri sebagaimana gaya khas orang barat. Bukan berarti sains dan teknologi barat kita boikot dan kita anggap perusak ya. Western influence yang bisa memajukan kita ya tidak apa-apa diadaptasi, tapi bukan berarti kita harus kehilangan asal-usul kita, kehilangan jati diri kita. Dan jelas, kita tidak akan bisa mencapai hal ini dengan berusaha menjadi "orang/bangsa lain".

Mbak Kitty, pasti mbak sudah capek kan seharian ini 'didera' komentar-komentar di blog mbak? Maaf ya saya jadi menambah kepusingan mbak (duh ge-er hahaha). Jangan tersinggung ya mbak, saya dan mbak tujuannya satu kok: membereskan Indonesia; approach/pendekatan kita saja yang berbeda. Kalau mbak masih mumet, mari lho ini ditonton si Akang saya menyanyikan lagu Mbah Dukun-nya Alam. Peace out yo mbak :)

Search This Blog