AdSense Page Ads

Thursday, January 23, 2020

Semu



Weekend ini yang pada bengong saya sangat menyarankan iseng ngecek IG @influencersinthewild dan IG @igfamousbodies . Seru bo'.

Banyak yang mikir akun-akun begitu adalah akun-akun sirik, sinis. Padahal justru akun-akun ini yang membumikan apa yang sebenarnya khayalan belaka. Kita nggak akan terlalu mendewakan kesempurnaan kalau kita tahu susahnya mendapatkan kesempurnaan  tersebut.

Foto cakep? Siap sedia waktu minimal 30 menit untuk dapat selfie bagus. Kuat mental dilihatin orang, syukur ga disorakin. Muka cakep? Dompet mesti tahan banting dan kartu kredit tahan gesek.

Yang cowok mesti ngerti kalo si mbak nggak akan selalu angle mukanya ideal 45 derajat, kecuali kalo si mas emang tinggi. Mesti ngerti juga harga untuk facial perawatan dan sebagainya dan siap kocek untuk itu.

Yang cewek mesti ngerti bahwa semua foto idaman itu ya setingan. Jangan buru-buru ngeborong pemutih ketiak dan masker merkuri biar sebening artis IG idaman (yang sebenarnya pakai app dan filter).

Tiap ngeliat iklan di akun IG punya orang Indonesia selalu iklannya jualan peninggi badan, pemutih, pengurus, segala yang berhubungan dengan badan lah. Kita selalu diingatkan betapa 'kurang'nya kita.

Tiap ngeliat seleb IG ya selalu dipajang barang mewah, trip luar negeri, atau keluarga lengkap super bahagia. Lagi-lagi kita cuma bisa menghela nafas karena kok hidup nggak adil banget.

Berkat akun-akun IG ini saya jadi kritis saat melihat foto seleb IG : ini berapa lama fotonya? Berapa lama makeup nya? Tasnya beli cash, nyicil, atau korupsi? Nggak dilihatin orang apa pas foto?

Saya juga jadi kritis sama lelaki. Ya ho oh mintanya se-perfect seleb IG sementara nggak sanggup modal. Kalau gue investasi waktu dan duit sekian untuk dapat sejuta like, gue berharap balik modal dong. Syukur-syukur bunga berbunga.

Sejak itu scrolling IG lebih damai. Bukan sirik atau sinis, tapi tahu diri saya nggak punya kesabaran (atau keinginan) untuk menghabiskan waktu dan tenaga untuk dapat foto idaman itu.

Saat kita mampu menapak, mie instan pake telor kita tetap nikmat walau kita scrolling melihat foto spaghetti di Venice. Foto di taman Monas nggak kenapa walau bukan foto di taman Versailles.

Kita bisa tetap menghargai keindahan tanpa takut merasa nggak sanggup berkompetisi, merasa kita terhempas karena 'kurang'. Foto sempurna ya cukup kita lihat sebagai hiburan, syukur-syukur motivasi. Jangan kita biarkan malah jadi penghancur.

Karena semua yang kita lihat di media sosial itu semu. Kita lihat senyumannya tapi bukan kepedihannya. Pada akhirnya, kita semua hanya manusia. Nggak ada gunanya sirik atau nelangsa akan sesuatu yang semu.

No comments:

Post a Comment

Search This Blog