AdSense Page Ads

Monday, March 4, 2019

Esek Esek



"Ya gitu deh," kata teman saya, "Banyak yang japri bilang kamu pasti cewek nggak benar karena gayamu begitu." Saya melihat celana saya yang super pendek dan ngakak sejadi-jadinya.

Untuk ukuran negara yang konon religius dan kuat moralnya, penduduk Indonesia terlihat sibuk mengurusi selangkangan orang. Mulai dari Luna Maya sampai kasus sabu politik, ujung-ujungnya ya selangkangan.

Yang lebih parah, seks dianggap sesuatu yang tabu tapi sekaligus bumbu sedap dan bahan utama pergunjingan. Grup WA bapak-bapak isinya dada dan paha, grup WA ibu-ibu isinya siapa berhubungan badan dengan siapa.

Padahal kalau dipikir, harusnya sebaliknya. Seks harusnya nggak tabu dan bisa dibicarakan secara sehat. Toh memang ini alami bukan? Bikin anak ya dengan berhubungan badan.

Dan alih-alih dianggap kotor dan nista, kita harusnya melihat seks sebagai sesuatu yang personal. Kita harusnya nggak perlu ngomongin kebiasaan orang lain kecuali itu ekstrim dan mengganggu hidup kita. Urusan ranjang orang apa urusannya sama kita?

Kita dianggap nakal bila kita vokal akan seksualitas kita. Ngerti sih. Seks itu bila dilakukan dengan benar dan dengan orang yang tepat memang serasa surgawi, tapi kalau nggak maka bisa serasa tersiksa dan terhantam emosionalnya. Jadi jangan promosi sembarangan.

Tapi di sisi lain, keterbukaan seksual itu penting. Ada banyak rumah tangga yang bisa lebih harmonis dan bahagia bila pasangan mampu mengkomunikasikan kebutuhan seksualnya tanpa merasa hina dan kotor.

Kalau dilihat per gender, keterbukaan seksual sebenarnya melindungi wanita. Saat pembicaraan tentang seks menjadi normal, wanita tidak lagi dilihat hanya sebagai obyek penderita atau sekedar penghangat ranjang lelaki.

Wanita pun menjadi tahu hak mereka saat berhubungan intim, dan apa yang bisa mereka dapatkan. Kesetaraan hak di tempat tidur akan memberikan wanita hasrat dan kekuatan untuk meraih kesetaraan hak dan kebahagiaan di area lain, yang ajan ditularkan ke anak-anak mereka.

Untuk para lelaki, ya lelaki ga bisa lagi sok hebat cari mangsa kanan kiri. Kalau tahu ukuran dan kinerjanya akan menjadi topik bahasan, saya yakin para buaya pikir-pikir. Dan jelas wajib memuaskan si wanita bila ingin tetap dapat jatah. Enak kan?

Idealis? Mungkin. Terlalu liberal dan kebarat-baratan? Nggak juga. Kita semua ingin Indonesia yang maju dan gemilang, tapi kita tidak mau mengurusi pondasinya: kesetaraan hak pria dan wanita. 

Karena ibu yang bahagia dan kuat akan membesarkan anak-anak yang bahagia dan kuat juga. Yang mana akan menjadi pilar Indonesia yang bahagia dan kuat. Semua bermulai dari wanita, bukan? 

Saya ingin bisa membuka tabir ini. Saya ingin wanita bisa menjadi ratu dalam rumah tangganya dan bukan hanya sekedar budak belian atau lubang pemuas. Kalau kamu raja, kamu berlaku agung selayak raja, bukan?

Salam ganas dari Bali.

No comments:

Post a Comment

Search This Blog