AdSense Page Ads

Wednesday, December 5, 2018

Tuhan, Ary Pulang



"Gue tuh bukan wanita baik-baik," kata saya. Saya bahkan nggak berani melihat matanya. Duduk di mobil bersama teman kencan saya, saya memutuskan bercerita tentang emotional abuse/siksaan emosional yang saya alami saat masih menikah.

Saya bercerita tentang bagaimana saya dikata-katain, bagaimana saya dibuat merasa rendah dan nggak berharga. "Walaupun gue tahu itu nggak benar, tapi ada bagian dari gue yang percaya. Mau gimana lagi. Itu ya gue. Gue udah terima kalau gue bukan wanita baik-baik."

"Ary," kata teman kencan saya sambil mengelus rambut saya perlahan, "You are created in the image of God. Kamu diciptakan dalam imaji Tuhan." Saya terdiam. Terhenyak. Walau saya tahu dia Kristen taat, saya nggak menduga itu responnya. 

Ternyata begini rasanya bertemu dengan orang yang taat beragama karena memang mencintai agama dan Tuhannya. Adem. Hangat. Lega. Rasanya saat itu seperti Tuhan sendiri yang mengelus rambut saya dan mengingatkan saya: "Kamu nggak kenapa, Nduk. Saya tetap menyayangimu."

Padahal dia bisa memperlakukan saya dengan buruk. Saya yang berangasan dan sangat seksual sangat berhak diperlakukan tanpa hormat oleh orang beriman sepertinya. Apa sih saya? Hanya seorang pendosa, seorang wanita murahan kalau menurut mantan suami saya.

Nggak lho. Diantara semua lelaki yang saya kencani, mungkin dia yang memperlakukan saya benar-benar dengan penuh hormat dan bukan hanya karena ingin meniduri saya. Yang lain sih baik dan hormat juga, tapi orang ini bisa banget bertingkah karena dia orang baik-baik dan saya bukan. Tapi nggak.

Dicurhatin sekian banyak wanita, banyak sekali yang bilang: "Walau selingkuh, suami saya itu orang baik-baik, taat beribadah, doanya lancar dan nggak putus." Saya sering juga mendengar teman 'disergap' dan dihakimi gengnya karena dianggap kurang agamanya. Jangan ditanya di medsos, yang ganas banget jadi pejuang keyboard konon demi membela agamanya.

Saya nggak mengerti. Agama apapun harusnya membuat diri kita dan sekeliling kita merasa aman dan damai. Ini yang kita bela dan kita pamerkan ke dunia itu ego kita atau agama kita? Nggak heran banyak orang yang kelihatan beragama sekadarnya. Males juga kali kalau jadinya malah deg-degan dan dipersekusi oleh orang yang konon lebih beragama.

Padahal harusnya enggak. Nggak perlu pamer dekatnya kita sama Tuhan kalau kelakuan kita nggak mendukung. Nggak perlu sombong merendahkan orang lain karena Tuhan juga nggak sombong. Nggak perlu mencari surga kalau nggak mau menciptakan surga di bumi ini.

Kami bertiga di mobil itu: saya, dia, dan Tuhan. Tuhan mengingatkan saya berharga lewat dirinya. Saya pun melihat jumawanya, kuatnya manusia lewat dia. Inilah kenapa agama dan kepercayaan itu ada, karena kita manusia mampu menjadi lebih baik, karena Tuhan ingin kita kembali kepadaNya.

Sesampainya di depan apartemen saya kami berpelukan. "Terimakasih," kata saya, "Terima kasih sudah menyelamatkanku." Saya tahu ia bahagia mendengarnya. Saya tahu Tuhan bahagia mendengarnya. Tuhan, Ary pulang.

1 comment:

  1. this post ... kinda hits the spot, mbak.
    thanks for writing!

    ReplyDelete

Search This Blog