AdSense Page Ads

Friday, May 6, 2011

Mirip Vs Nyolong? Hmmm....

Waktu lagi browsing-browsing saya menemukan website dibawah ini:


Bagus banget ya fotonya... Kesan dan "feel" nya mirip banget sama photography company favorite saya. Warna langitnya, posisi orangnya, corak awannya... Hmm... Tunggu sebentar... Sampai corak awan bisa dimiripin??? Ini usaha miripin atau usaha nyolong foto orang neh???

Foto asli, maaf, foto satunya lagi (ceritanya asas praduga tak bersalah) bisa dilihat di sini.

Siapa tahu ini memang foto dia, ya nggak?? Yang dengan keajaiban bisa sedemikian miripnya sampai corak awannya pun mirip... Atau dia mau upload foto miliknya tapi dengan ga sengaja malah keupload foto orang. Tetep praduga tak bersalah ceritanya. Itulah kenapa saya hide alamat websitenya :D

Saya pribadi sepenuhnya ngerti susah banget nyari makan sebagai fotografer sekarang. Seperti yang dibilang dengan penuh kesinisan oleh seorang WO salah satu wedding venue di Bali: "every monkey with DSLR thinks he's a photographer". Waktu saya mulai bekerja di wedding industry, jumlah photography company yang ada masih bisa dilacak. Kalau sekarang? Belum lagi para fotografer non-profesional (a.k.a tamu-tamu wedding) yang merasa, ahem, jago dan sibuk jeprat-jepret dan malah menghalangi fotografer yang ahli. Saat disuruh baik-baik untuk tidak menghalangi malah, "Hey, I'm a photographer too!" dan melambaikan Nikon/Canon seri terbaru mereka. Mas/Mbak, punya kamera bagus ga menjamin hasilnya bagus lho...

Tapi teuteup, sesusah-susahnya nyari makan sebagai fotografer mbok ya jangan pake foto orang sih. Nyebelin dan ga adil banget kan kalau hasil kerja kita yang susah payah malah diambil orang dengan enaknya. Tambahan lagi, ini menyesatkan banget. Kebayang ga kalau ada yang book dia karena naksir foto yang dia pasang di website padahal foto tersebut (mungkin) bukan foto dia sendiri?

Saya berharap semoga itu memang benar foto dia sendiri (ceritanya tetep praduga tak bersalah), tapi kalau bukan ya semoga
dia mau legowo (dan tahu malu) dan mengganti foto tersebut dengan miliknya sendiri :). Fotografer lain (atau yang hobi fotografi), jangan meniru ya.... ;)

UPDATE 9/5/2011: Saya terima e-mail dari fotografer yang bersangkutan, yang intinya dia menyesal dan akan mencabut post tersebut. Nice one! Thanks sudah mau jadi legowo ya Mas Fotografer :D

Thursday, May 5, 2011

Indonesiaku

Buku-buku vampir, chick-lit ga jelas, novel-novel romantis ga jelas, saya menyusuri rak buku di Periplus dengan penuh minat. Langkah saya terhenti di depan buku "The Tea Lords". Setengah sadar saya meraih buku tersebut, menelusuri gambar pemetik teh di sampul depan dan menelaah ringkasan buku tersebut (tentang kehidupan tuan tanah Belanda di sebuah perkebunan di Indonesia) di sampul belakang. Lalu saya menangis.


The Tea Lords oleh Hella S. Haasse merupakan sebuah cerita tentang kecintaan seorang tuan tanah Belanda terhadap perkebunan Indonesianya, dan konflik yang muncul antara ia dan keluarganya akibat kecintaannya itu. Baca ringkasan lengkapnya. Walau buku ini tampak begitu kuat (saya belum berkesempatan membeli dan membacanya), bukan karena buku ini saya menangis. Namun karena saya tak henti bertanya, "Kemana Indonesia yang dulu sedemikian indah ini?".

Waktu saya kecil dulu, Indonesia selalu digambarkan sebagai Zamrud Katulistiwa. Hamparan hijau yang membentang dari Sabang sampai Merauke, penuh berisi kekayaan alam. Betapa keindahan dan kekayaan Indonesia menarik para kolonialis dan pedagang dari seluruh dunia untuk mencicipinya, untuk ambil bagian. Betapa keindahan Indonesia membuat Raffles membuat Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor, belum lagi julukan Paris Van Java. Betapa melimpahnya hasil bumi sehingga para kolonialis berlomba untuk tinggal disini dan memperkaya diri mereka. Dan ya, mutu manikam yang sedemikian berlimpah sehingga dalam cerita-cerita kuno/cerita daerah Raja, Putri, keluarga kerajaan tampak selalu bermandikan berlian dan batu berharga lainnya. Indonesia adalah negeri dongeng, karena sedemikian subur dan berlimpahnya kekayaan negeri ini, sehingga Tuhan tampak meng-anak tiri-kan negeri lain.

Lalu kemana itu semua? Indahnya perkebunan teh di areal Puncak telah lama berganti menjadi deretan restoran dan vila tertutup, dan kesejukannya jauh berkurang tertutup oleh asap kendaraan. Kesenyapan pantai Bali dengan cepat hilang dan tersapu suara musik dansa yang menggelegar dari pub, cafe, dan hotel yang bertumbuh lebih cepat daripada jamur di musim hujan. Perjalanan Jawa-Bali yang dulu dipenuhi sawah-sawah dan pemandangan indah kini tertutup pabrik dan perumahan. Di kawasan seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi atau Irian (dan pulau-pulau kecil lainnya) pembangunan memang tidak sedemikian menyesakkan, namun akses kesana menjadi sedemikian mahalnya sehingga hampir tak mungkin lagi berhubungan dengan mereka. Dahulu pergi tamasya ke Kalimantan adalah sebuah petualangan, kini pergi tamasya ke Kalimantan tampak aneh karena dengan budget yang sama orang bisa pergi ke Kamboja, Thailand, atau lokasi eksotis lainnya. Kita kehilangan Indonesia.

Saya bukan ingin mengajak anda untuk membenci pembangunan, dalam beberapa segi saya pun menikmati pembangunan tersebut. Yang ingin saya lakukan adalah mengajak anda untuk melihat bagaimana Indonesia dulu. Betapa indahnya dan kayanya negeri kita, namun bila kita tidak berhati-hati maka semua itu akan lepas dari kita. Keindahan alam yang tertutup pleh bangunan beton, hasil panen yang dijual ke luar negeri sementara mengimpor barang murah untuk konsumsi dalam negeri, kekayaan alam yang dinikmati segelintir orang Indonesia sementara kerusakan alam yang parah dan pencemaran dirasakan oleh semua orang Indonesia. Ini yang dapat terjadi, ini yang sedang terjadi. Lalu bila semua itu hilang, kesuburan tanah kita, kekayaan alam kita, keindahan lingkungan kita, apa lagi yang kita punyai?

Saya harus sesalkan betapa tidak proporsionalnya media di Indonesia. Seberapa sering anda mendengar tentang keindahan di satu daerah, misalnya Sumbawa? Seberapa sering anda mendengar tentang kabar negatif (i.e. kemiskinan) disana? Pasti lebih sering soal miskinnya kan. Begitu pula tentang pertambangan di Papua, seberapa banyakkah hasilnya? Yang saya dengar hanyalah pembunuhan dan penyerangan yang kerap terjadi di sana. Memang, bad news sell. Berita buruk lebih menjual. Namun saya berharap media dapat lebih objektif dan bersama memajukan Indonesia dengan membuat masyarakat Indonesia lebih dan lebih lagi mencintai negerinya sendiri.

Ikutlah mencintai Indonesia. Dengan segala keindahannya, dengan segala kekayaannya, dengan segala keberagamannya. Muslim, Hindu, Kristen, Katolik, Batak, Padang, Menado, Papua, apapun itu, kita semua orang Indonesia. Mari berhentilah berpikir "ini demi agama/suku saya!", karena dahulu semua orang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia secara keseluruhan, bukan demi agama/suku tertentu. Mari berhentilah berpikir "saya tak peduli, yang penting saya senang!", karena kepedulian anda berarti bagi generasi Indonesia selanjutnya, terlepas apakah anda akan memiliki anak atau tidak. Ini Indonesia, negara kita tercinta. Cintailah Indonesia, lindungilah Indonesia, karena Indonesia begitu menakjubkan.

Tuesday, May 3, 2011

Free Will - Hiduplah dengan bebas!

"Free Will"

Free will atau keinginan bebas mungkin adalah kata terindah buat saya. Yeah, saya suka kebebasan saya. Sebegitu sukanya sampai saya memilih untuk single daripada bersama pasangan yang mengekang saya. I know, I'm psycho hahaha...

Apa sih "free will" itu? Free will atau keinginan bebas buat saya adalah kondisi dimana kita mampu memilih untuk melakukan atau TIDAK melakukan sesuatu. Free will adalah kebebasan untuk mengenakan rok mini disaat semua memakai rok panjang; kebebasan untuk memilih tidak merebonding rambut disaat semua orang memiliki rambut lurus menawan; kebebasan jalan-jalan sendirian di pantai atau tempat romantis lainnya tanpa pasangan; kebebasan memilih pekerjaan, pasangan, atau apapun yang kita inginkan.



"Free Will" bukanlah keegoisan tingkat tinggi yang melakukan sesuatu tanpa peduli orang lain, ataupun pilihan yang diambil berkat paksaan dari pihak-pihak luar. Kalau saya memaksa mengenakan baju terbuka di dalam tempat ibadah orang, saya bukan melakukan "Free Will" saya, tapi cuma nyusahin orang aja. Kalau saya memilih mengenakan baju tertutup karena saya takut dilempari batu atau dianggap "berbeda", itu jelas bukan "Free Will" saya.

Jadi apa yang diperlukan untuk memiliki "Free Will"? Kekuatan diri sendiri untuk berkata "YA!" atau "TIDAK", untuk memutuskan sesuatu dan berani menerima resikonya. Contoh praktis: Saya memilih untuk datang ke acara keluarga dengan segala konsekuensi yang mungkin timbul:
- saya dikejar-kejar orang sekantor karena ada kerjaan yang tertinggal
- ketemu saudara juuaaaaaauh yang tidak menyenangkan
- kenalan sama temannya saudara yang ganteng (ahem ;) )
Dari tiap keputusan yang kita ambil, banyak hal yang bisa timbul. Kemampuan untuk tetap memilih melakukan (atau tidak melakukan) sesuatu itu lah "Free Will" kita, kebebasan sejati kita.

Sekarang saya mau mengajak anda untuk berpikir, untuk merenung. Indonesia resminya sudah 66 tahun merdeka, namun sudahkah anda benar-benar bebas merdeka? Sudahkan anda memiliki "Free Will"? Bebas untuk memilih agama yang anda anut dan bukan hanya mengikuti keluarga; bebas untuk memilih merk hape yang anda butuhkan dan tidak hanya ikut selera pasar; bebas untuk mengepak koper/ransel dan liburan sendiri saat anda benar-benar jenuh di kantor; bebas untuk berpikir: "Ah peduli amat. Ini toh ga ngeganggu orang lain. I'm gonna do it!". Kalau belum, mungkin sudah saatnya anda mencoba membebaskan diri anda. Hiduplah dengan bebas, hiduplah dengan bahagia :)

Note: image taken from sugarshockblog.com

Search This Blog