AdSense Page Ads

Showing posts with label ESL. Show all posts
Showing posts with label ESL. Show all posts

Sunday, June 29, 2014

Ini Negaraku, Ini Bahasaku!

"Kita perlu presiden yang cerdas dan pintar berbahasa Inggris, dan bukannya yang menipu rakyat dengan pencitraan palsu!"

Darah saya mendidih membaca status diatas. Bukan soal capres jawara saya dianggap 'bodoh' dan 'penipu', tapi karena Bahasa Inggris dijadikan tolok ukur 'kemampuan' seseorang, dijadikan salah satu persyaratan untuk jadi presiden Indonesia. Saya marah karena bahasa asli kita adalah Bahasa Indonesia, dan bukan Bahasa Inggris; dan karena 'persyaratan' Bahasa Inggris ini secara efektif mengeliminasi hampir seluruh warga negara Indonesia yang tidak bisa berbahasa Inggris dengan fasih karena strata sosial dan kondisi keuangan mereka. Bisa berbahasa Inggris itu suatu privilese, suatu 'kemewahan' yang didapat karena nasib anda lebih baik dari orang lain. Serius.

Buat kita (yang konon) orang terdidik, Bahasa Inggris mungkin sudah seperti bahasa kedua kita. Saya lebih fasih berbicara Bahasa Inggris daripada bahasa Bali, dan saya rasa banyak orang seperti saya. Tapi kita tidak sadar bahwa untuk bisa belajar Bahasa Inggris dengan baik dan benar merupakan suatu 'kemewahan' tersendiri. Biaya les bahasa asing di lembaga seperti LIA, EF, IALF dan sebagainya tidak terjangkau bagi kebanyakan orang Indonesia, dan butuh kemampuan pemahaman yang super hebat untuk bisa Bahasa Inggris secara otodidak/hanya belajar dari lagu buku atau film. Dan bahkan setelah anda menghapal segala grammar/tata bahasa dan vocabulary/kosa kata yang diperlukan, anda tetap harus berlatih dan menggunakannya setiap hari agar anda fasih berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dalam Bahasa Inggris. Buat kita yang terdidik di sekolah-sekolah (elit), ini tidak masalah. Tapi bagaimana dengan warga negara Indonesia yang tidak memiliki akses/kemudahan seperti ini?

Ini bukan lagi soal capres 2014, ini soal bangsa Indonesia dan bahasa persatuan kita.

Pengalaman saya selaku guru Bahasa Inggris selama 4 tahun membuka mata saya tentang ketimpangan kemampuan Bahasa Inggris diantara penduduk Indonesia (atau lebih tepatnya Jakarta). Dan ya, ketimpangan ini disebabkan oleh kemampuan finansial mereka. Saya dibayar 2 kali lipat lebih banyak untuk period mengajar yang sama antara kelas privat A dan kursus masal B. Di kelas privat A saya duduk dengan manis bersama 2 murid saya di kamar belajar mereka, dikelilingi buku-buku dan game/mainan-mainan dengan Bahasa Inggris; orang tua dan bahkan nanny mereka pun berbicara dengan saya dalam Bahasa Inggris walau tak sempurna. Di kursus masal B saya memiliki 15 murid yang beberapa diantaranya berpikir Bahasa Inggris itu buang-buang waktu saja, dan di dalam ruangan kursus yang kecil itu saya berusaha sebisa saya memasukkan dasar-dasar Bahasa Inggris ke dalam otak mereka hanya berbekal buku kursus yang tidak lengkap dan materi tambahan yang saya unduh dari internet dan saya print/cetak dengan menggunakan uang saya sendiri. Tebak yang mana yang sekarang mampu berkomunikasi dengan Bahasa Inggris secara lancar jaya?

Butuh bukti lagi? Buku pelajaran Bahasa Inggris yang benar-benar bagus dan lengkap (misalnya saja dari Betty Azar) harganya sekitar Rp 200,000; buku cerita berbahasa Inggris yang impor harganya paling sedikit Rp 50,000. Buku pelajaran berbahasa Inggris yang terjangkau buatan Indonesia memang bisa dicari di pasaran dan bisa didapat dengan hanya Rp 10,000, begitupula dengan buku cerita bergambar yang sudah terlihat cantik dan menarik bisa didapat dengan hanya Rp 25,000; tapi isinya lain cerita. Suami saya yang orang Amerika membeli buku-buku murah ini untuk membantunya belajar Bahasa Indonesia, tapi kemudian ia bertanya "Kenapa terjemahannya banyak salah begini ya?". Sayangnya buku murah ini yang lebih mungkin dimiliki mayoritas warga negara Indonesia, yang penuh typo/salah ketik, tata bahasa yang kurang tepat, bahkan sebutan kuno (garpu diterjemahkan sebagai 'spoon fork' alias sendok garpu di salah satu buku yang kami beli). 

Intinya: saat anda melecehkan kemampuan bahasa Inggris sesama warga negara Indonesia yang memiliki kesempatan dan sumber daya yang lebih sedikit dari anda untuk lancar berkomunikasi dalam bahasa Inggris, anda sebenarnya berkata pada orang tersebut: "Gue lebih kaya daripada loe. Hohohoho."


Pastinya ada segelintir orang yang mampu memaksimalkan sumber daya di sekitar mereka untuk belajar Bahasa Inggris secara otodidak, tapi orang-orang jenius ini tidak banyak; begitu pula orang-orang yang memiliki kesempatan untuk belajar bahasa Inggris dengan baik tanpa membayar. Dan ini yang harus kita sadari, bahwa kemampuan Bahasa Inggris yang kita miliki bukan jatuh dari langit, bahwa kemampuan Bahasa Inggris kita ini suatu privilese, suatu kemewahan; dan tidak pantas kita menilai sesama warga negara Indonesia dari kemampuan bahasa Inggrisnya saja. Saya sering sekali melihat diskriminasi ini, saya sering melihat teman-teman saya yang sebenarnya kompeten tapi sulit mendapatkan pekerjaan karena ketidakmampuan mereka berbahasa Inggris; dan sebaliknya, saya bisa semena-mena menaikkan tarif saya karena kemampuan bahasa Inggris saya. Bila anda bekerja di bidang yang memang membutuhkan bahasa Inggris, tentunya wajar bila anda dituntut bisa berbahasa Inggris sebaik mungkin; tapi apakah anda punya hak menertawakan atau menganggap remeh teman anda saat anda kongkow/nongkrong bareng hanya karena ia tidak bisa berbahasa Inggris sebaik anda?

Diskriminasi ini juga terlihat saat saya bekerja dengan klien asing, dimana klien-klien saya menganggap saya lebih baik (dan lebih berpendidikan) dari sales lain hanya karena saya bisa lancar berbahasa Inggris; sementara rekan saya seringkali tidak dianggap (padahal dia lebih bagus daripada saya). Padahal ini bukan bahasa kita lho. Serius. Coba pikir deh. 

Di Amerika Serikat sini kemampuan berbahasa Inggris makin lama makin penting karena banyaknya immigran yang tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar; hal ini menyebabkan para anti-imigran sangat vokal untuk menegaskan keharusan berbahasa Inggris disini. Sementara di Indonesia, kita malah sibuk melecehkan salah satu capres karena konon ia tidak bisa berbahasa Inggris. Capek deh. Apa ini bukan bentuk 'tunduk' terhadap kekuasaan asing? Saat kita menghargai bahasa asing lebih tinggi daripada bahasa kita sendiri? Sudah cukup kita tergila-gila dengan muka artis asing/blasteran di layar TV dengan nama-nama bule yang pasti si mbok dan mbah di kampung tidak bisa melafalkan, haruskah kita juga merelakan bahasa kita dianggap lebih rendah dari bahasa asing? (Buat yang mau komen bahwa tidak benar masyarakat Indonesia maniak muka artis blasteran, saya cuma ingin memberitahu bahwa sepanjang liburan 3 bulan kami di Indonesia yang mencakup Jawa-Bali-Lombok-Sulawesi semua orang Indonesia yang kami temui menyarankan agar saya segera punya anak dari suami bule saya agar anak saya bisa jadi 'artis').

Bila anda benar-benar tidak suka dengan si krempeng ndeso itu, monggo/silakan anda 'menyerang' dia dan membeberkan bukti betapa tidak kompetennya dia sebagai presiden nantinya. Tapi saya mohon, saya benar-benar mohon, untuk tidak berkata ia tidak pantas jadi presiden karena dia tidak bisa berbahasa Inggris; setiap warga negara Indonesia memiliki hak yang sama di mata hukum, hak yang sama untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan, hak yang sama untuk menjadi presiden terlepas dari latar belakang dan kekayaannya. Memang benar presiden Indonesia nantinya harus berkomunikasi dengan bahasa Inggris kepada pemimpin dunia lainnya, tapi bukankah beliau akan jauh lebih banyak berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dalam menjalankan pemerintahan Indonesia? Pendapat bahwa presiden Indonesia harus fasih berbahasa Inggris agar tidak memalukan di tingkat dunia melecehkan Bahasa Indonesia, karena Bahasa Indonesia tidaklah inferior/lebih rendah dari bahasa Inggris. Menyulitkan mungkin, tapi jelas tidak memalukan. Tidak ada yang memalukan dari ketidakmampuan berbicara dalam bahasa asing yang bukan bahasa nasional kita, apalagi bila anda tidak memiliki sumber daya/kesempatan untuk mempelajarinya dengan sempurna.

Suami saya menguras tabungan untuk bisa tinggal dan belajar bahasa Indonesia selama 3 bulan di Indonesia. Dia membeli berbagai buku, mulai dari yang murah sampai yang mahal; dan mengalami frustasi tingkat tinggi karena ketidakmampuannya menguasai bahasa Indonesia dengan cepat. Tapi dia tetap bertahan, walau sebenarnya bahasa Indonesia tidaklah diperlukan untuk bekerja di Amerika Serikat. Dia bertahan karena keinginannya untuk bisa berkomunikasi dengan saya menggunakan bahasa asli saya, untuk meredakan kerinduan dan kehampaan yang saya rasakan saat jauh dari keluarga di Indonesia. Ini makna bahasa Indonesia, sebagai sebuah pemersatu. Saya bisa berbincang dengan teman saya dari Padang, dari Sulawesi, dari Jawa, dari berbagai penjuru Indonesia berkat bahasa Indonesia. Dalam 'petualangan' kami pun kami cukup banyak bertemu orang Indonesia yang tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia (hanya bisa berbicara dalam bahasa dareah mereka), namun dengan bahasa Indonesia seadanya kami mampu berkomunikasi dengan mereka. Inilah kenapa Mohammad Yamin dalam Kongres Pemuda Kedua mendeklarasikan Sumpah Pemuda dimana sumpah tersebut menjadi tonggak utama pergerakan kemerdekaan Indonesia. Inilah kenapa kita akhirnya bisa merdeka sekarang ini. Bukan karena bahasa Inggris, tapi karena bahasa Indonesia. Mari kita hargai bahasa nasional kita.

PS: Masih keukeuh/ngotot kalau tidak bisa bahasa Inggris kita bakal diejek dan dipermalukan? Saya menemukan artikel dari Washington Post dimana mereka 'meledek' batik yang dipakai pemimpin dunia saat konferensi APEC sebagai 'baju konyol'. Apa karena ini kita juga mau menghilangkan batik karena 'tidak sesuai standar dunia' dan 'malu-maluin'? Stop didikte asing lah...

Wednesday, September 25, 2013

The Not-so-easy English Language


The young man stand erect with confidence and grace. He gave a perfect handshake to his interviewer, not too tight, not too loose, and in just the right amount of time. His interviewer secretly upped his point several mark for his stature and handshake alone. How he hated those people who look slack or too stiff; or those with clammy handshake or worse, the ones that shook his hand like there's no tomorrow. But this one, this young applicant looked like the perfect fit for the job. He gestured the young man to sit and ask, "So tell me about yourself. Why do you apply for this job?". To the interviewer dismay the young man replied in thickly accented broken English, and between his stream of words the interviewer gripped his table tightly and ask in his mind: "Why God, why???"

I can't remember when I started to learn English. I just did. I remember watching the TV shows, both for adults and children. I love Sesame Street, I Dream of Jeannie, Remington Steele, Knight Rider, Brady Bunch, Quantum Leap, all kinds of movies. I also watch music video and hearing songs from the radio, I would listen to them repeatedly and carefully wrote down the lyrics as best as I could. Mind you, it sometimes comes as a jumble, but then I would find the correct lyric in the music magazines and I will go: "Oh so that's what it says!". English books were hard to come by, but it got way easier when I was in my Senior High School. I would borrow English books from my friends and just read it on and on and on. Ah... The good old days.


At Brady Bunch's house

They taught us English at school in Indonesia, so in total we have almost 12 years of English education. Some children would also attend additional English courses to enhance their English. These English lessons helped me to understand the basic English grammar, but to be honest it did not help much in real life. I also taught English for some time, and in lessons (both me as a student and me as a teacher) it is easy to differentiate which tense to be used and the [grammatically] correct way to say it. There are formulas that you can memorize (i.e present tense = He/She/It + Is + Verb -ing), and it worked perfectly in exercises where you can decipher easily which is which and what verb to be use in each sentence. Try doing that in real life (plus repeatedly looking at your tenses formula list) and see how far your English conversation can go. As for reading and writing, it is a whole misery in itself. When I was 12 years old I remember reading mussel just like I read muscle. 10 years later my friend who spends time in USA told me it was read as myu-sel. 20 years later my husband who is an American told me it was read as mas-sel. Ugh. Not to mention the eternal questions such as: where is the L in talk? Why comfortable read as comfterble? Why drink-drank-drunk but cut-cut-cut?

As the video below illustrate, English is indeed a difficult language to master. Thus in my mind anyone whose native tongue is not English but learn to master English as second language deserves respect. They are just like the Engineer who also has a degree in Biology, or the IT major who also has a degree in Law. Sadly, sometimes this achievement go unnoticed. A fellow teacher once said to me she was embarrassed to speak to the foreigners because their English is better than hers. Well yes, I replied, but only because they have learned the language since the day they were born. I always stressed to my students that there is nothing shameful if you made mistake when speaking in English, and pointed out that if a foreigner tries to speak Bahasa Indonesia we would probably think he/she would sound silly as well. It is important to encourage them because the fact of the matter is, as with any other language English can only be mastered by practice. Lots and lots of practice. And even then, things such as accent can not be fully eliminated. 



In USA, where immigrant issue is a big deal, it is only normal to see people got so hung up with less-than-stellar English speaker or with the heavily accented one.  In terms of jobs, it is understandable if companies prefer employees that can speak English fluently, just as they prefer the ones with excellent computer and/or communication skill. This is indeed an English speaking country, so whoever wish to work here has to have a sufficient English skills. Vice versa, if you are a US citizen who happen to work in Indonesia you would also need to learn Bahasa Indonesia in order to survive there and to effectively do your work. As the saying goes, when in Rome do what Roman do. Yet sometimes English fluency can be a source of discrimination, where the more fluent English speaker considered more valuable and respected. When I worked in Bali I noticed that my foreign clients treated me with more respect and I receive far less complain than my other co-worker because my English was better than hers. In perspective, this has more to do with the frustration that one might experience from failed communication (i.e. one or both party can't figure head or tail what the other was saying), and it can happen also with fellow English speakers (imagine an Englishman with Cockney accent trying to speak with an American with Cajun English). Yet sometimes, there will be people who say indignantly, "Why, he/she can't even speak English!" and think lowly of the poor English speaker as if his/her inability to communicate in English is a sign of his/her being less civilized than the native English speaker.

In correlation to the world in general, English is a unifying language. You could go far in this world if you can master it, but it is in no mean superior than other language. To people from countries that use English as their main language, this concept is difficult to understand. It is easier for us in Indonesia who happens to use Bahasa Indonesia as our unifying language. There are hundreds of languages in Indonesia, and probably thousands of dialect; by using Bahasa Indonesia as our main language we are able to reach out and unite the citizens. The local languages and dialects are free to be used any time, but for official matters and education the Bahasa Indonesia is used to ensure everyone understands. This is what English is to the world: a true convenience if you can master it, but you can still live your life without it. The next time you met someone who evidently use English as second language give him/her a respect instead of a glare because learning a new language is not easy. You can hate him/her still if you want, especially if you think he/she is being ignorant. I hate people who speaks Bahasa Indonesia ignorantly too. Nevertheless, if you see his/her effort to master it, give it a thumbs up just like you would to people who tried to master a new skill. And when you went to non-English speaking country, be grateful when you met someone who can speak it albeit imperfectly instead of trashing around in social media how you couldn't find anyone who can communicate in English in that remote country. Or better yet, get a dictionary and speak their lingo ;)

Caption: This is true we shouldn't have to be bylingwill 
to work and live hear if they move hear they need to speek English.

-Possible translation: This is true we shouldn't have to be bilingual 
to work and live here if they move here they need to speak English.-

I love English a lot. I guess that is why I can easily get it by myself. Despite it being super hard and super confusing, English is a beautiful language with so many words you can choose from to express yourself. It is very versatile and it has no hierarchy, which means you can speak it as it is to whomever. You can change the intonation if you like and how you speak it to better fit the condition you are in, but the nature of the words itself remains unchanged. In various languages in Indonesia (and I guess in the majority of Asia countries) there are words or phrases that can only be use with your superior, or to put it bluntly: a hierarchy in language. By writing in English instead of Bahasa Indonesia I am free from that hierarchy and the limitation of how I can express myself. This is a luxury that many native English speakers do not realize. Every time I saw a poorly written Facebook status such as the above or I can't help asking: Why??? You got your chance to learn it properly since day one!! Like this woman said: I won the lottery — the linguistic lottery, that is. If you also born and raised in a country that use English as your first language, then you are better equipped than most people in the world. Let's use it properly, shall we? 

Search This Blog