AdSense Page Ads

Saturday, August 4, 2018

Gue Tunggu Undangannya



Sms-an sama mantan, disindir: "Nggak sabar tunggu undangannya." Saya dengan cuek menjawab: "Meh. Gue ga segoblok itu untuk kawin lagi."

Saya tahu maksudnya apa. Bahwa saya segitu nggak laku, segitu nggak berharganya sampai nggak ada yang mau nikahin saya. Padahal sudah dua tahun lebih kami bercerai, tapi saya punya pacar saja baru-baru ini.

Saya yang dulu pasti emosi jiwa: "Eh kampret! Sori ya gue bukan ga laku, tapi gue yang nggak mau! Kalau gue mau mah ga susah nyari suami! Ada juga gue yang sibuk nolak-nolakin lamaran!!!"

Saya yang sekarang nggak se-insecure itu, nggak perlu validasi dan penegasan itu. Saya tahu dia berusaha menyakiti saya dengan membuat saya merasa ga berharga, tapi nggak ngefek karena saya yakin dengan pilihan saya.

Menikah buat saya bukan lagi soal laku nggak laku. Menikah itu komitmen seumur hidup, dan nggak semua orang mampu melakukannya. Saya nggak mau gegabah menjatuhkan pilihan sama orang yang nggak tepat.

Komitmen pada sumpah setia di hadapan Tuhan. Komitmen pada kewajiban sosial dan hukum sebagai pasangan sah dimata hukum (pajak, tanggungan anak, dsb). Komitmen pada keluarga (besar) dan pada anak. Berat lho.

Saya pribadi juga kalau harus terikat sama seseorang, saya ingin terikat pada yang bisa saya andalkan. Jangankan nanti yang sudah tua, pikun, tidak menarik, banyak yang sekarang sakit demam saja pasangan yang "Kenapa sih loe sakit melulu?!"

Makanya saya hati-hati memilih pasangan. Jangankan menikah, pacaran lagi saja baru sekarang saya luluh mau menjalani. Saya berharga, maka dari itu pasangan saya pun harus yang mampu menghargai saya.

Di Asia pernikahan seolah tolok ukur keberhasilan wanita. Seperti anda baca cerita saya di atas, ada juga bule kampret yang berpikir demikian, bahwa nilai saya 'kurang' karena konon nggak ada yang mau menikahi saya.

Berharap mengubah pola pikir ini percuma ya. Banyak generasi tua yang saklek berpikir demikian. Wajar lho. Jaman dulu suami satu-satunya cara wanita mendapat nafkah dan perlindungan, kalau nggak malah jadi beban keluarga.

Tapi kita yang generasi lebih muda masih mungkin mengubah pola pikir kita. Kita yang sadar bahwa kita mampu mencari nafkah, mampu mandiri. Kita yang cukup cerdas (dan pahit hehe) untuk sadar bahwa pernikahan bukanlah jaminan happily ever after.

Buat apa pernikahan yang kita dibuat merasa tak berharga? Buat apa pernikahan yang salah satu tak mampu untuk setia? Buat apa pernikahan yang tidak adil, yang salah satu harus memanggul sepenuhnya beban hubungan karena pasangan menolak membantu?

Walau suara sumbang komunitas terus bergaung, pada akhirnya kita yang harus menentukan pilihan. Menikahlah dengan orang yang kita rasa tepat untuk kita, bukan semata karena takut dianggap nggak laku atau ditekan masyarakat. Kita berharga lho.

"Gue tunggu undangannya," sindir si mantan. Amin ya Tuhan. Makasih saya didoain untuk ketemu orang yang tepat, yang mampu dan mau berkomitmen dan akan mencintai saya apa adanya. Semoga doanya cepat terkabul. Baik ya mantan saya ;)

1 comment:

  1. aku suka banget sama sisi cerita Kaka sesuai apa yg kupikirkan, pernikahan bukan hal main" karna bertujuan menyempurnakan separuh agama hingga akhir hayat dan tentu aja "tanjakan, jeglongan" yang muncul bakal gak sekadar butiran debu malah bisa bongkahan batu atau banjir tanggul wkwk,
    pernikahan itu ibarat batu ; bisa permata atau batu bara, yang satu menyilaukan sebaliknya malah membakar, May Allah blessing your life Kak , Aamiin :)

    ReplyDelete

Search This Blog