AdSense Page Ads

Wednesday, March 8, 2017

Terima Kasih Semua!!

Saat artikel ini saya tulis, artikel blog saya "Halo Selingkuhan Suami Saya" sudah dibaca 1 juta kali. 1 juta kali. Mau pingsan rasanya. Teman saya dengan bercanda bilang, "Berarti ada 1 juta orang di Indonesia yang selingkuh atau diselingkuhi." Saya tertawa. "Salah," jawab saya, "berarti ada 1 juta orang di Indonesia yang perduli."

Itu yang saya rasakan dari semua komentar, pesan, dukungan yang mengalir deras di blog, Facebook, dan Instagram saya. Orang-orang perduli. Bukan hanya perduli terhadap saya, namun juga terhadap orang-orang lain. Kolom komentar blog saya meledak dengan orang-orang yang menceritakan apa yang terjadi dengan mereka, dan orang-orang yang "You go girl!" terhadap cerita tersebut. Dalam reaksi terhadap artikel tersebut tidak ada batas agama umur atau apapun, yang ada hanya solidaritas.

Tentunya ada satu-dua yang, tetep lho, negatif. Mulai dari yang normal, "Jangan cuma nyalahin Mbak nya dong!" dan menuduh saya marah-marah, sampai yang bilang saya kena karma merebut suami orang (he?) dan komen memaki "You deserve it, you race-traitor size queen!". Padahal setahu saya yang size Queen itu biasanya kasur lho. Apa ini berarti saya mirip kasur? Omigod. 

Tapi anda tahu apalagi yang terjadi?
- Saya bertemu kembali dengan kawan lama yang tak sengaja membaca artikel itu
- Kakak saya juga bertemu teman lama karena teman-temannya yang membaca berpikir itu dia (kami mirip seperti kembar)
- Saya bertemu, berbincang, tertawa bersama sekian banyak teman baru
- Dan yang paling penting, saya yang berada 14,500 km dari rumah saya, sendirian di negara orang, saya merasa tidak sendiri lagi.

Tidak akan cukup semua rasa terimakasih saya untuk anda sekalian yang sudah perduli. Ini hadiah Hari Wanita terbaik yang bisa saya dapatkan: solidaritas bagi dan untuk para wanita Indonesia. Bagi yang masih mengalaminya, bagi yang pernah mengalaminya, bagi yang berada di posisi si mbak, dulu maupun sekarang, semoga semua akan menjadi lebih baik.

Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

Ps:
- Yang ingin tahu cerita lebih detailnya bisa dibaca di Asian Parents Indonesia: https://id.theasianparent.com/ketegaran-istri-menulis-surat-halo-selingkuhan-suami-saya/ 

- Yang ingin tahu perjuangan saya lepas dari si mantan bisa dibaca koleksinya disini: http://kucinghitamjalanjalan.blogspot.com/search/label/Divorce

Terimakasih sekali lagi!!!!

Monday, March 6, 2017

Halo Selingkuhan Suami Saya

Editor's note:  People have been asking for a proper English translation of this post, so we now have one available.  Click here to view it.


Halo Mbak yang memacari suami saya. Nggak risih gitu Mbak?

Santai Mbak, saya nggak berusaha nge-judge Mbak kok, apalagi merebut kembali mantan suami saya. Dia boleh buat Mbak kok, saya rela. Saya menulis ini buat Mbak-mbak yang lain yang sedang atau berpikiran untuk memacari pasangan orang. Selingkuh itu mahal lho.

Buat saya yang diselingkuhi, kisah asmara kalian membuat saya rugi:
-1588 hari bersamanya. Ini jumlah hari saya bersama mantan suami, dari kami pertama bertemu sampai saat saya pergi dari rumah
-216 weekend bersama anak-anaknya. Ini kurang lebih jumlah weekend plus hari libur yang kami habiskan bersama anak-anaknya.
-5 hari ulang tahun, 4 hari natal, 5 hari Ayah, 3 Thanksgiving.
-Sekian banyak mainan, buku cerita, baju, tiket nonton/game, bentuk-bentuk hadiah atau hiburan lainnya untuk dia dan anak-anaknya.
-Sekian banyak amarah, kesedihan, frustasi, tangisan yang saya alami, serta yang dia alami dan berusaha saya bantu tanggung
-Karir saya, karena saya berhenti kerja demi persiapan pindah untuk bersamanya
-Keluarga dan teman-teman saya, yang juga harus saya tinggalkan
-Umur saya, yang jelas nggak bertambah muda

Pasangan saya adalah investasi saya untuk masa depan yang saya rawat dengan baik dan benar, dan Mbak dengan sukses menjebolnya. Bangga Mbak?

Iya, Mbak tahunya dari mantan suami saya bahwa saya tidak cinta lagi sama dia, bahwa hubungan kami sudah tidak terselamatkan, bahwa kami akan bercerai. Mbak jelas nggak tahu kalau:
-Saat kalian bertemu saya yang membelikan tiket pergi ke kota Mbak, karena saya takut dia sebagai orang asing ditipu di negara orang
-Saya sibuk dag dig dug berharap dia baik-baik saja karena jarang dengar kabar dari dia saat seminggu dia di kota Mbak, alasannya sih ga dapat sinyal
-Keluarga saya yang walaupun nggak mengerti kenapa dia pulang kampung tanpa saya tetap menyambutnya dengan hangat
-Saya mengirimkan bunga ke makam ibunya untuk Hari Ibu plus bunga untuk ibu-ibu anak-anaknya, saat dia asyik masyuk dengan Mbak di negara asal saya
-Sebelum dia pergi untuk liburan (baca: selingkuh) dan sampai saya minta cerai, saya masih tinggal serumah dengannya, masih menjalankan hubungan suami istri normal; walaupun dia bilang ke Mbak saya hanya datang untuk minta ‘jatah’.
-Setelah kalian ‘berteman’ di Facebook (yang saya nggak tahu), saya masih: membawa dia kencan ke resto cihui untuk merayakan hari jadi kami, menyiapkan kukis ulang tahun untuknya, sampai membelikan hadiah Hari Ayah untuk dia dan anaknya plus dinner seru lengkap dengan penari Samba. Yang Hari Ayah ekstra spesial karena 3 hari sebelumnya saya menemukan bukti perselingkuhan kalian.

Kebayang nggak Mbak jadi saya? Kebayang nggak saya menemukan “Baby I miss you” di Facebook dia? Kebayang nggak saya membaca “I love your son” dari Mbak? Saya lho Mbak yang disitu bersama dia, yang mengeloni anak-anaknya, dan Mbak nggak ada angin nggak hujan bisa dengan entengnya bilang ‘Love your son’? Kebayang nggak saya yang mati-matian minta dia melepas Mbak, berusaha mengingatkan soal anak-anaknya? Kebayang nggak anak-anaknya yang bingung karena ibu tirinya mendadak hilang, dan tiba-tiba ada yang baru dijejalkan ke mereka? Ini hasil selingkuhan Mbak. Ini keluarga yang hancur karena pilihan Mbak. Puas, Mbak?

Iya sih setelahnya Mbak minta maaf ke saya, tapi kok Mbak nggak mikir sih saat Mbak belum ketahuan? Buat apa sih memangnya, Mbak? Nggak malu gitu? Jangan pakai alasan Mbak masih kecil, Mbak ditipu mantan suami saya dan sebagainya. Sebagai penulis tulisan saya bisa dibaca publik, Mbak bahkan nggak perlu repot stalking saya untuk tahu siapa saya. Kalaupun nggak ada info tentang saya, Mbak bisa dong berpikir dari pihak perempuan, bagaimana rasanya kalau terjadi pada Mbak. Bedanya saya dengan Mbak adalah, saat ketahuan Mbak berujar: “Kenapa dia bisa tahu tentang saya?”, kalau saya akan berujar: “Kok dia bisa baru tahu tentang saya?”. Ketahuan kan mana yang lebih superior?

Dan ini adalah sesuatu yang akan dibawa sampai seterusnya lho Mbak: cap perusak rumah tangga orang, cap perempuan rendahan. Orang-orang yang tahu cerita aslinya akan melihat Mbak dengan rendah, dan ini termasuk keluarga dan teman dekatnya. Yang nggak tahu tapi kepo dan berhasil menemukan blog saya bisa membaca artikel-artikel mengenai perceraian saya yang saya tulis sebagai bentuk terapi. Dan seringkali ya Mbak, nggak penting siapa yang benar, yang penting siapa yang berbuat skandal. Walau Mbak selingkuh atas nama cinta, tetap saja selingkuh dan lidah akan bergoyang. Nggak selingkuh pun kita wanita perlu menjadi benar-benar super untuk mengalahkan bayangan si mantan pacar/istri, apalagi selingkuh.

Buat [para] Mbak yang sudah terlanjur didalamnya, tulisan ini mungkin percuma. Tapi buat Mbak-mbak yang lain yang berniat, dipikir lagi deh. Apa iya menghancurkan perasaan wanita lain (dan sebuah keluarga) itu seharga cinta yang akan anda dapatkan? Apa iya rasa malu dan hinaan orang lain seharga cinta tersebut? Kalau benar cinta kan nggak kemana, dan bisa menunggu sampai si dia benar-benar single (putus/cerai dari pasangannya). Apalagi yang pasangannya track recordnya doyan selingkuh. Rugi kan, sudah dosa karena berbohong dan melukai perasaan orang lain, seumur hidup dicap perempuan nggak benar, eh hubungannya nggak bertahan juga. Menuntut kepastian demi harga diri kalian itu jauh lebih baik lho, Mbak-mbak sekalian.

Kata orang urusan begini jangan diumbar, tapi buat saya ini penting. Biasanya kita hanya tahu “Si A dan Si B bercerai karena si A selingkuh,” tapi tidak ada yang tahu detail yang terjadi saat itu. Ini yang sebenarnya terjadi saat anda memutuskan berselingkuh. Akan ada orang-orang yang hanya membaca berita ini sebagai skandal sensasional, tapi akan ada, dan ini target saya sebenarnya, orang-orang yang membaca ini dan bisa mengerti mengapa selingkuh itu salah. Orang-orang ini akan mengedepankan harga diri mereka dan bilang ‘tidak’ pada tawaran selingkuh, baik pria maupun wanita, dan akan mengingatkan anak-anak mereka untuk tidak berselingkuh, terutama anak gadis. Kenapa? Karena kita perempuan yang paling terlihat jelek saat berselingkuh.

Balik lagi ke Mbak tersayang, selamat dan semoga hidup Mbak bahagia. Terlepas dari semua kepahitan saya, saya membuang seorang suami yang tidak setia dan hidup single dengan ceria. Walau di negara orang, saya mampu mencapai kebebasan finansial (baca: hidup kere tapi asyik) sambil menikmati lirikan-lirikan dari para pria tampan disini. Bisa kok meraih kebahagiaan tanpa bantuan orang lain, dan jelas tanpa merebut kebahagiaan orang lain. Sukses ya Mbak, perjuanganmu masih panjang dan berat. Berjuanglah!!

*Update*
Saat ini (6 am Mar 7 2017 LA time) artikel ini sudah hampir 21k dibaca. Whoaaaa!!! Terima kasih banyak atas semua dukungannya!!!! Kalau boleh aku mau nambahin:
1) Artikel ini bukan untuk 'menyerang' si Mbak, tapi untuk memberitahu dan menguatkan para pembaca diluar sana. Jadi nggak usah penasaran kayak gimana sih mantan suami dan si mbak hihihi. Kalau tujuan saya jahat saya kasi semua link sosmednya dari awal ;)
2) Saya juga ga ngulik 'Kenapa' atau alasan mereka, karena tiap orang punya alasan masing-masing dan karena kita nggak di posisi mereka kita nggak bisa ngejudge. Jadi please jangan ngejudge :* .
3) In fairness, si Mbak ini sudah minta maaf dan menawarkan mundur, tapi saat itu saya sudah babak belur dan ga bisa lagi (secara nurani) untuk menerima suami saya kembali. Saya tetap menghargai usaha dia untuk memperbaikinya :)

Jadiiii.... Mari kita perlakukan tulisan ini sebagai mana tujuan aslinya: untuk menginfokan dan menguatkan. Nggak usah bawa-bawa yang lain oceee. Love you all!

*Update 2*
2018 dan masih banyak yang sms saya bagaimana bisa move on. Silakan lho meluncur ke Gramedia atau toko buku terdekat untuk mencari buku saya: Dear, Mantan Tersayang - 25 cara move on dari mantan . Bagus lhoooo hahaha (eh dia malah jualan). Anyway, thanks for reading!!! Terimakasih sudah membaca!!




Friday, March 3, 2017

After The Party

[#shortstory]

The woman sighed. Her eyes were fixed on the vista below her, a sprawling town with the castle yonder, all lit with little lights from the candles. Her mind, though, was entirely elsewhere.

"What's with all the sighing?" her man-servant asked, "And please, you will ruin that dress sitting on the grass like that."

She didn't answer, only sighing some more. 

"I am lonely," she answered.

"And you are ruining your dress," her man servant replied, pointing to her beautiful silvery white dress.

"It's enchanted," she pouted, "you and I know that. It magically repents wear and tear. How else can I use my glass slippers for so many dances without breaking it once? Even with those clumsy buffoon princes."

"Touche," said the man servant.

They sat still for a good while. Her man-servant took out a small case of cigarettes and started to lite one. She looked at him reproachfully. "Smoking will kill you," she said.

The man servant shrugged. "Eh," he said, "once I am back into a mouse I've only got, what, 3 months to live? Might as well enjoy it."

"If we get back," she corrected him.

"Once we get back," he smiled mockingly, "That old fairy godmother of yours is powerful, but the spell can't last forever."

Now it was her turn to shrug. "Why not?"

"Because, dear little housemaid," he answered, "as a house-mouse I know nothing lasts forever."

She looked away. "You are just being negative," she said.

He laughed at her statement. "Really? What do you think would happen, say, two years from now? Will we still be the wandering vagabond that crashes into each party?"

She sighed again. "I am already tired of parties. I want to go home."

The man-servant looked at her kindly, lovingly. "Let's go then."

"I can't," she answered. "I don't know where home is."

They sat there in silent. She took the cigarette from his hand and inhaled it deeply. He didn't mind. She needed it.

"I wish," she said between the puffs, "I wish I had settled."

"With what? Fat lazy princes? Dubious ones?" her man servant snorted.

"I mean, they can't all be that bad," she said with a shrug.

"No, they are not. There's always a good part in somebody, and there's always a bad part," he answered.

She looked at him with a sorry look, "You've seen a lot, haven't you?"

He merely shrugged, "Eh, not important. We don't live long enough to care."

"Back to you, though," he said, "we won't let you just 'settle'."

She looked away. "Neither will I."

He lit another cigarette and handed it over to her, taking the dead one away. 

They sat there smoking in silence. "Maybe I don't need a prince anyway. Maybe I should just be happy with a farmer or a merchant."

Her man-servant laughed. "Dreaming of days chasing ducks and feeding cattle, followed by quiet nights by the fireplace?"

She laughed with him. "You make it sound so abhorrent." The laughter grew stronger until they both roared with laughter.

"No, no, seriously," she said. "That doesn't sound that bad."

He smiled and looked at her, "It is that bad. You know that."

"It's quiet and peaceful, though. You could have children and grandchildren and great-grandchildren by now," she smiled wistfully.

"I like them as 'could have'," he answered. She grinned.

The night was getting older and the chilly breeze came through. She shivered a little. He took off his man-servantjacket and wrapped it around her, sitting closer to her.

"How many Royal parties have we crashed into?" he asked.

"I don't know," she answered, "a dozen? Two dozen?"

"Remember the one with the courtyard so big it took us almost an hour to go to the castle's entrance?" he said.

"Oh yes!" she answered with a giggle, "and also the one with the crystal chandeliers! Fanciest castle!"

"I remember the one where the prince was so handsome I thought that'll be the end of our adventure," he laughed.

"Don't remind me of that vain prince," she cringed, "Or the one who took interest to me but doesn't seem to know what to do with me."

"That one was your loss," he teased. "You could have taught him things."

She scowled, "Like what? Like how not to faint and get a nosebleed when I stand too close to him?"

Her man-servant roared with laughter again, and she soon followed suit. Their laughter rang throughout the night.

"Cindy," the man-servant said softly after they went quiet again, "if big castles and golden cages couldn't keep you in, why do you think a humble house would?"

She looked at him. "I want to go home," and buried her head on his chest.

He hugged her close and caressed her hair. "We will go home," he said lovingly, "to a home that you deserve."

She didn't say anything, so he kept caressing her hair. "The horses, the other man servants, us the bewitched ones, we're happy to be a part of your adventure. We want you to be happy because you deserve it."

"I am sorry I brought you all into the mess," she answered. Her voice muffled. "I didn't know the spell was for me to find a prince, and so when I rejected the first one, the spell continues to work. Had I known…"

"Had we known, we would not change a thing," he answered. She lifted her head up and saw him smiling, "We think living as horses and man-servants are a better deal than as mice and being chased around by that horrid cat."

She giggled. "Really?"

He looked at her and smiled, "Really." 

He pulled her close and let her bury her head in his chest again, tenderly caressing her hair. "We will find your home, and we will take you home."

They hugged quietly for the longest time.

"Promise?" she whispered softly.

"Promise." He gently answered.

The chilly wind gently rustled the leaves on the tree, but the two of them remained there for a while. It's a big, big world out there, but they'll find their home. They know it.

Search This Blog