AdSense Page Ads

Thursday, July 10, 2014

Kucing Kampung Dan Momen Indonesia

"Kucing kampung dibawa ke Mekah. Pulang tetep jadi kucing kampung. Kucing Persia dimanapun berada, tetaplah kucing Persia. ADP,"

Ada pengalaman mengesankan saat saya dan suami berkunjung ke Sulawesi. Di salah satu restoran dipinggir jalan (tempat kami menikmati sop saudara yang enaaaak sekali) ada seekor kucing cantik. Kucing kampung sih, tapi terlihat terpelihara dan begitu manis. Dengan pedenya suami saya si pencinta kucing memanggil kucing itu dan berusaha mengelusnya, namun kucing itu justru 'mengaum' dengan ganas dan memperlihatkan taring. Oopsie...

Suami saya sering mencandai saya, dia sering bilang kalau kucing di Indonesia sangat tidak terawat dan liar seperti manusianya. Itu hanya candaan lho, karena dia lebih cinta Indonesia daripada negaranya sendiri. Dan setelah beberapa minggu tinggal di Indonesia dan mengamati kucing-kucing (plus anjing-anjing) yang berkeliaran dengan bebas disana si akang pun berkata: Kucing kita di Orange County ga akan bertahan 2 hari disuruh hidup liar disini. Saya pun menjawab dengan bercanda: orangnya juga nggak. Iya, kadang saya tega.

Si reseh di Amerika

Tapi serius, kucing kami di Amerika sangat high maintenance menurut saya yang orang Indonesia. Harus makan makanan kalengan/pabrikan, tapi kalau dia ngga suka sama sekali ngga mau makan. Ga cukup cerdas untuk cari makan sendiri, ga bisa cari tempat berlindung sendiri (kalau hujan), terus kalau sakit mesti dibawa ke dokter hewan alias ga bisa ngobatin diri sendiri. Saat ada tupai menggerogoti tanaman pot di teras kami, ia malah ngumpet dan bukannya mengusir tupai tersebut. Padahal ini kucing hitungannya kucing kampung disana/bukan kucing ras, dan ini juga nemu. Dia main selonong boy ke apartemen kami dan tidak mau diusir, walhasil terpaksa kami kasi tinggal di apartemen kami. Bagaimana kucing ras coba?

Sementara kucing adik saya di Indonesia, yang dipungut saat masih bayi dan korengan serta belekan dan penuh kenistaan lainnya (kucingnya, bukan adik saya), tumbuh menjadi kucing kampung yang cantik dan luar biasa cerdas. Kerjaannya cuma berjemur, jalan-jalan sesuka hati, pulang cuma untuk makan dan tidur malam. Bisa tidur dimana saja, dan protes keras saat diberi makanan kaleng/pabrikan. Saat adik saya tidak sempat kepasar untuk membelikan ikan cuek makanannya, dia lebih memilih mencuri makanan anjing peliharaan adik saya (yang juga cuma dikasi nasi sisa) daripada makan 'menu barat'nya. Saya tidak ragu kalau dia sampai terdampar di Amerika, dia pasti bisa hidup walau tanpa ada yang mengurus. Sebagaimana orang Indonesia yang gigih dan bisa hidup di mana saja, begitupula kucing (dan anjing) kampung kita.

Intinya bukan kucing ras lebih jelek dari kucing kampung, karena buat masing-masing orang preferensi berbeda toh? Ada yang suka pacar cantik/ganteng walaupun high maintenance, ada juga yang suka pacar sederhana dan bisa diajak susah. Intinya adalah jangan melihat kucing dari ras/bulunya saja...

Nanti dulu, jangan dulu berpikir saya menulis ini karena ingin membela si kerempeng dekil yang secara tak langsung disindir di tweet tersebut. Saya mah ga perduli dia dibilang kucing kampung, bagus malah menurut saya karena itu menunjukkan bahwa ia akan tetap menjadi dirinya sendiri dimanapun. Kalau kucing kampung dibawa ke luar negeri mendadak menjadi kucing persia, bukannya itu lebih bahaya karena bisa ga ingat asal aslinya? Perkucingan ini buat saya penting karena ini menunjukkan mental (banyak) orang Indonesia yang sebenarnya: yang berpikir kalau segala sesuatu yang non-Indonesia itu keren, yang berpikir kalau Indonesia itu segitu jelek dan kampungan dan ndesonya. Yang kucing persia dianggap lebih keren daripada kucing kampung, padahal kucing persia di kampung asalnya juga kucing kampung.

Si Dekil yang mandiri di Indonesia

Kita bicara tentang kedaulatan Indonesia. Kita berkoar-koar tidak mau tunduk pada bangsa asing. Kita mencurigai orang-orang yang kelihatan dekat dengan pihak asing. Tapi kita pamer iPhone dan foto liburan keluar negeri. Kita mengagumi muka-muka non-Indonesia di layar kaca dan berdandan (atau mendandani pasangan) seperti artis-artis tersebut. Kita merasa bergengsi kalau bisa duduk di kafe di mal sambil menyeruput kopi impor dan makan kue a la barat. Kita berpikir kalau orang yang bisa bahasa Inggris itu lebih berpendidikan. Kita menertawakan orang-orang yang suka dangdut dan menyebut mereka kampungan. Kita menyebut budaya kita sendiri sebagai pornografi dan pornoaksi karena tidak sesuai dengan ajaran agama yang kita anut, dan dengan efektif menghilangkan jejak leluhur kita - dan dengan demikian menghilangkan identitas diri kita sendiri. Pertanyaannya adalah: siapa kita sebenarnya, apakah kita hanya sebuah kolase dari berbagai pengaruh asing?

Kita berpikir semua yang 'asing' itu keren, walau sebenarnya tidak. Fast food ala McD yang kita anggap elit dan memang mahal, disini dianggap makanan orang miskin (dan ya, pelayanan fastfood Indonesia jauh lebih baik dari pelayanan fastfood sini. Boro-boro delivery service, dapat pesanan sesuai yang kita minta saja kadang sudah syukur). Bisa bahasa Inggris disini tidak mengagumkan, sama saja seperti anda yang orang Indonesia bisa bicara bahasa Indonesia yang alah bisa karena biasa tapi kalau ditanya grammar/rumus tenses secara mendetil mereka sama bengongnya seperti kalau anda disuruh menjelaskan apa arti imbuhan me- dan apa bedanya dengan imbuhan ber- (nah, bengong kan anda...). Mencoba memasak otak-otak disini luar biasa susah dan lebih mahal daripada membuat salmon panggang. Disini istilah kerennya detox, saat anda tidak makan apa-apa selama seharian penuh selain jus lemon-madu (atau apapun kata instruktur diet anda); di Indonesia istilahnya Mutih dan hasil akhirnya sama saja (plus lebih dekat dengan Tuhan siy). Orang luar negeri di kampungnya ya orang kampung, sama seperti kucing persia yang dikampungnya juga kucing kampung. 

Sekarang mari berpikir: mau sampai kapan kita pelihara mental terjajah kita, mental inlandeer kita, dan terus mengagumi bangsa lain? Kita sudah membangun kompleks Borobudur yang super besar dan ekstra megah semenjak abad ke-9. Nenek moyang kita mengarungi lautan dan melakukan perdagangan jauh sebelum orang Eropa memulai eksplorasinya. Di saat cikal bakal orang Amerika masih dikejar-kejar di Inggris sana, Indonesia sudah menjadi pusat perhatian dunia dengan kekayaan rempah-rempahnya. Indonesia memiliki iklim yang sempurna, kekayaan yang melimpah ruah, kecantikan alam (dan manusia) yang tak tertandingi, tapi anda masih merasa negara kita ini kampungan dan ndeso? Satu hal lagi yang Indonesia miliki: sumber daya manusia yang berlimpah! Bukan hanya dari segi jumlah, karakteristik asli orang Indonesia yang tahan banting juga sangat sesuai untuk beradaptasi di negara lain. Kita tidak manja dan (aslinya) penuh empati dan tepo selira. Kenapa oh kenapa anda masih berpikir negara kita lebih jelek dari negara lain? Bahwa si kucing kampung tidak seberharga daripada kucing persia?


Buat saya dan suami saya, makan internet (indomie telor kornet) dan pisang bakar di warkop/angkringan pinggir jalan lebih berkesan daripada waktu makan di restoran celebrity chef di Singapore. Liburan kami ke Gili dan Makassar lebih berkesan daripada waktu dia liburan di all-in resort di Jamaica. Dia lebih suka rokok rakyat seperti gudang garam dan belinya pun harus yang satuan/eceran di warung-warung kecil pinggir jalan (sekalian latihan Bahasa Indonesia). Kopi harus kopi Bali, sarapan pagi pun telor mata sapi dengan saos sambal ABC. Dia sangat menyukai budaya khas Indonesia (Sulawesi, Jawa, Bali), karena menurut dia ketiadaan budaya asli lah yang membuat negaranya seperti tidak punya identitas. Momen favorit kami di Indonesia adalah saat kami pergi ke pasar malam tradisional dan dia berjoget dangdut dengan para abang-abang (dan waria-waria) disana. Ini momen-momen Indonesia kami, dan sepulangnya kami ke Amerika kami sibuk bersedih dan bermuram durja karena memang Indonesia lebih baik (menurut kami). 

Bagaimana dengan anda? Apa 'momen Indonesia' anda? Atau lebih tepatnya, sudahkah anda memiliki 'momen Indonesia'? Atau anda masih berharap suatu saat nanti anda bisa pindah ke luar negeri dan meninggalkan negara kampungan dan ga keren ini bersama kucing persia kesayangan anda? ;)

Teman Saya yang Tidak Suci

Teman saya tidak suci. 

Dia muslim tapi tidak pakai jilbab. Dia bisa saya bujuk untuk menemani saya ke klab malam. Dia kadang genit dan flirty. Dia pernah punya pasangan bule (dan awet selama bertahun-tahun). Dia tidak malu berbikini ria di pantai di Bali. Dia tidak ragu meraih apa yang ia inginkan. Dengan kata lain, dia sama sekali bukan tipikal wanita muslimah yang sering digambarkan oleh Ustad-ustad dan Kyai-kyai dan Habib-habib di Indonesia: yang menutup diri, yang kalem, yang menjalankan agamanya sampai pol. Dia wanita modern dengan pikiran yang sudah rusak oleh pengaruh bangsa asing, konon katanya.

Tapi si wanita yang tidak suci ini, si wanita 'kafir' ini yang pertama kali memposting penggalangan dana untuk Gaza di newsfeed Facebook saya. Banyak teman saya (yang ibu-ibu atau bapak-bapak terhormat) me-like atau share gambar atau status yang berkaitan dengan tragedi kemanusiaan ini, namun teman saya yang pertama kali saya lihat di FB dengan aktif menggalang dana bersama klub arisannya. Yup. Teman saya yang tidak suci. 

Di pilpres 2014 ini banyak sekali orang yang 'mendadak suci'. Kenapa mendadak? Karena sibuk menilai dan menghakimi (plus berusaha menjatuhkan) capres yang tidak mereka sukai hanya berdasarkan 'kadar agama' mereka. Capres A kurang beragama karena ini dan itu, Capres B jelek karena ini dan itu; padahal kalau dipikir, apa hak mereka untuk menilai dan menghakimi? Bukankah hanya Tuhan yang berhak menilai dan menghakimi ciptaan-Nya? Sayangnya saling tuduh dan saling menghakimi ini bukanlah suatu hal baru, walau memang sangat kentara di pilpres kali ini. Seberapa sering kita melihat postingan sosial media seseorang dan dengan cepat berkomentar "Ih dia emang ga bener...", atau berpikir kita lebih baik dari seseorang karena kita menjalankan agama kita dengan 'lebih baik' (baca: lebih by the book) daripada dia? Dan ini mencakup semua agama lho: Orang kristen di Amerika yang mendukung gay/pasangan sesama jenis dicap bukan Kristen sejati, saya yang dicibir dan disindir karena saya tetap makan daging sapi walaupun saya Hindu, teman saya (yang lain) yang teman baiknya memutuskan tali persahabatan dan berlagak tidak kenal hanya karena teman saya menikah dengan seseorang yang bukan muslim. 

Saat anda berpikir anda lebih baik daripada orang lain, apapun alasannya, disanalah kejatuhan anda. Kebanggaan (atau mungkin lebih tepatnya kesombongan) adalah buah terlarang yang bila dimakan akan membuat anda terusir dari Taman Eden; karena tidak lagi anda bisa melihat dan menghargai indahnya dunia dengan segala isinya, sebaliknya anda terperangkap dalam pikiran 'benar'-'salah' dan menghabiskan energi anda menganalisa dunia walaupun tugas anda hanyalah menjalani hidup dan menjadi lebih baik, bukan menghakimi dan mengurusi urusan orang lain.

Saya sering melihat teman saya yang tidak suci ini mendermakan recehan atau uang yang ia punya kepada ibu-ibu tua atau bapak-bapak renta yang mengemis di jalan. Dia selalu ada untuk saya kapanpun saya butuh seseorang, atau lebih tepatnya dia selalu ada untuk temannya yang membutuhkan - karena saya juga melihat betapa ia perduli dan mau membantu temannya yang lain, kapanpun dan dimanapun. Dia tidak mau membicarakan hal buruk tentang orang lain atau bergosip tanpa fakta. Dia sangat menyayangi dan menghormati kedua orangtuanya. Dia tidak suci. Dia bukan ustadzah atau santo, dia bukan orang yang anda inginkan untuk pasangan anak anda yang super suci dan bersih sebagaimana 'anak Tuhan'; tapi kalau malaikat menanyakan saya siapa yang saya rekomendasikan untuk masuk surga, dengan senang hati saya akan merekomendasikan teman saya yang tidak suci ini. Suci di mata kita belum tentu suci di mata Tuhan, dan saya yakin Tuhan kita yang Maha Pengasih akan lebih menghargai umatnya yang perduli dan mengasihi sesamanya (sebagaimana diri-Nya sendiri) daripada yang meng-klaim suci dan oke tapi hanya perduli dirinya sendiri. 

Agamamu, agamamu. Agamaku, agamaku. Tidak ada yang berhak menilai seseorang apalagi atas dasar agama kecuali Sang Pencipta. Agama itu urusan seorang manusia dengan penciptanya, dengan Tuhannya, dan jelas bukan urusan anda. Sudah saatnya kita mengerti hal sedasar ini dan berhenti menghakimi orang lain. 

Biar pada adem...

Saturday, July 5, 2014

Haru di Dada untuk Indonesia Tercinta

Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa memilih hari ini. Dulu-dulu saya tidak perduli, tapi kali ini saya sedih sekali. Untuk pertama kalinya saya perduli siapa presiden saya. Untuk pertama kalinya saya percaya dan berani berharap pada calon presiden saya. Untuk pertama kalinya saya bisa melihat Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang melebihi semua negara 'keren', Indonesia yang sebenarnya. Tapi saya tidak bisa memilih.

Saya sedih. Saya kecewa. Sepertinya semua 'keaktifan' saya di sosmed dan blog percuma, semua usaha saya untuk mengingatkan orang-orang tentang pentingnya dan hebatnya pilpres kali ini tidak ada artinya, karena ternyata saya tidak bisa memilih. Rasanya seperti ikut maraton tapi berhenti persis sebelum garis finish. Atau ikut ospek OSIS tapi berhenti persis sebelum inagurasi. Buat apa semua ini, batin saya, buat apa.

Lalu teman saya mengirimkan link youtube ini.

Dada saya rasanya ingin meledak, air mata nyaris tak terbendung. Di meja makan hotel mewah tempat kami merayakan hari kemerdekaan Amerika Serikat bersama keluarga suami saya, diantara beragam makanan a la barat dan pisau garpu (yang masih berusaha saya kuasai), diantara suara orang berbicara dengan bahasa Inggris membicarakan asyiknya acara kembang api kemerdekaan kemarin malam, saya terdiam. Tercekat. Terharu. Saya ingin meneriakkan perasaan saya di tengah ruang makan tersebut dengan lantang: "Negara gue. Asli. Keren."

Kemarin malam saat kami ikut acara 4th of July (hari kemerdekaan), saya terpikir: Kok Indonesia tidak bisa begini ya? Makanan yang disajikan adalah makanan khas Amerika, burger hotdog barbekyu dan sebagainya; lalu dilanjutkan dengan acara kembang api dengan background musik lagu-lagu patriotis dimana para saudara suami saya (dan pengunjung lain) ikut bernyanyi dengan lantang; dan semua ini dilakukan dengan dekorasi merah putih biru yang merupakan warna nasional mereka. Di Indonesia saya jarang melihat orang yang semangat 45 merayakan 17 Agustus, apalagi kaum menengah atas.

Tapi kedepan akan beda. Saya yakin itu. Video youtube diatas adalah buktinya. Dan saya bangga, saya bangga luar biasa bahwa saya ada di dalam pergerakan ini, saya bangga tak terperi menjadi bagian dari sejarah ini. Walaupun saya tak bisa memilih, tapi saya tetap bagian dari pergolakan dan perubahan ini. Saya bangga. Amat sangat bangga.

Karena pilpres ini bukan sekadar memilih 'presiden' untuk 5 tahun kedepan seperti yang banyak orang masih percayai (kalimat klise: siapa pun presidennya sama aja, siapa pun presidennya masih kudu kerja banting tulang juga); pilpres ini adalah memilih Perubahan, memilih Harapan. Untuk pertama kalinya kita bangsa Indonesia punya pilihan, mau berubah, bisa berharap. Untuk pertama kalinya kita tidak lagi bersikap seperti bayi yang menunggu disuapi dan pasrah mau diapain saja, untuk pertama kalinya kita bersikap seperti orang dewasa dan berkata: ini pilihan saya.

Bila anda masih ingin golput atau memilih asal, sekarang saatnya anda tersadar, tersentak, terbangun. Pilpres ini adalah tonggak sejarah Indonesia dan buat saya sama pentingnya dengan deklarasi Sumpah Pemuda dan Kemerdekaan Indonesia, karena seperti halnya peristiwa-peristiwa diatas pilpres kali ini adalah saat dimana bangsa Indonesia berdaulat sepenuhnya, dimana pilihan kita menentukan nasib bangsa Indonesia bukan hanya 5 tahun kedepan namun jauh setelahnya. Sudah terlalu lama kita tidak memiliki kedaulatan ini, sudah sekian lama kita terpuruk tanpa harapan akan perubahan dan hanya menjadi boneka hidup. Sekarang kita memiliki kedaulatan tersebut, memiliki keeksklusifan untuk memilih, memiliki harapan dan kedewasaan untuk mempertanggungjawabkan pilihan kita. Sekarang saatnya sejarah tercipta. Indonesia, saatnya kita bersuara!!!

Search This Blog