AdSense Page Ads

Showing posts with label pilpres 2014. Show all posts
Showing posts with label pilpres 2014. Show all posts

Sunday, July 13, 2014

Menanti Terbuktinya Kecurangan Jokowi

Iya. Anda tidak salah baca. Saya benar-benar menanti terbuktinya kecurangan Jokowi dari penghitungan KPU ini. Tahu kan maksud saya: form-form C1 yang kelihatan angkanya dirubah demi memenangkan satu pihak, suara yang hilang (disini dan disini), jumlah suara Jokowi yang lebih besar dari lawannya tapi hanya ada tanda tangan saksi dari pihak Jokowi, kertas kosongan yang hanya ada tanda tangan saksi dari pihak Jokowi, [indikasi] kecurangan seperti itulah yang saya masih tunggu-tunggu. Dan bukan hanya satu dua ya, tapi buanyak. Setidaknya harus sama jumlahnya dengan [dugaan] kecurangan yang menguntungkan lawannya, dan kalau bisa malah jauh lebih banyak. 9 hari menuju pengumuman KPU, namun pantauan saya di tumblr C1 yang Aneh kebanyakan masih cuma 'kejanggalan' yang menguntungkan pihak Bow-wow, belum ada indikasi 'kejanggalan' yang menguntungkan Jokowi; dan begitupula di sosial media. Tapi 9 hari adalah waktu yang lumayan panjang. Saya masih berharap.

Kenapa saya berharap kecurangan Jokowi terbukti? Simpel saja, saya ingin meyakinkan diri saya bahwa sekian banyak rakyat Indonesia yang menuduh Jokowi brengsek itu ada benarnya; bahwa mereka - yang merupakan saudara-saudari saya sebangsa setanah air - tidak hanya mengucapkan tuduhan itu cuma karena dasar ketidaksukaan dan ketakutan yang tidak rasional, bahwa mereka memang benar-benar memiliki alasan kuat untuk melontarkan seluruh tuduhan tersebut. Pemimpin brengsek toh lebih mudah dihadapi dan 'diakali', kita sudah latihan selama lebih 40 tahun lebih. Kalau punya pemimpin brengsek kita tinggal demo toh, dan menyatakan mosi tidak percaya kalau memang ia membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalau memang dia benar-benar bikin susah, PBB juga ga akan tinggal diam. Terlalu banyak yang dipertaruhkan dunia kalau Indonesia sampai guncang. Jadi punya pemimpin brengsek justru aman. Sebaliknya, punya rakyat brengsek yang bakalan susah. Itulah kenapa saya berharap Jokowi ketahuan curang, karena kalau ternyata dia tidak curang (atau pihak lawan jelas-jelas ketahuan lebih curang daripada dia) maka 'musuh' Indonesia bukanlah satu orang kampret yang bisa dikudeta, melainkan banyak saudara-saudari kita sendiri yang bersikeras hidup dalam kebencian. Saya ga minat ada dalam perang saudara. Bukan untuk ini dulu para pahlawan kita mengorbankan jiwa dan raga mereka.

Saya dulu ikut klub ilmiah di SMA, diajari mencari data dan berdebat. Dua hal yang saya ingat dari klub itu adalah: Tidak boleh memanipulasi data atau hanya mengambil data yang cocok dengan apa yang kita hipotesakan; Bila memang ternyata kesimpulan kita salah, jangan berdebat memaksakan kesimpulan kita yang salah itu namun akuilah. Istilahnya main yang anggun gitu. Ini pegangan hidup saya selama ini, dan buat saya siapapun yang berpendidikan harusnya mengerti hal ini; namun pilpres ini membuka mata saya bahwa berpendidikan tidak berarti mampu secara adil menganalisa data dan mengakui kesalahan, berpendidikan tidak sama dengan berpikiran terbuka.

Contoh paling nyata adalah artikel terbaru yang beredar tentang bagaimana SMRC 'mengakali' quick count mereka. Seperti anda baca, orang-orang di Kaskus langsung menunjukkan mosi tidak percaya pada orang ini karena berasal dari pkspiyungan yang terkenal tidak netral (ya, saya mencoba sopan), namun pendukung artikel ini berkeras bahwa datanya valid walau sumbernya tidak netral. Buat saya logis saja, kalau memang valid kenapa tidak semua dikupas? Kenapa tidak seluruh penyelenggara QC yang diselidiki dengan adil dan berimbang? Kalau memang salah ya salah dan bukan dicari-cari kesalahannya. Sayangnya banyak orang Indonesia tidak mengerti hal ini dan menelan mentah-mentah apa yang ada di media, bukannya teliti dan membandingkan apakah isi berita itu benar adanya dan apakah pihak penyebar berita bersih dari 'dosa'. Jokowi boneka karena didukung PDI-P, tapi Prabowo didukung lebih banyak lagi pihak. Jokowi ke-Islamannya diragukan, tapi Prabowo punya lebih banyak sanak-saudara non-muslim dibandingkan Jokowi. Jokowi haus kekuasaan dan meninggalkan mandat, padahal HaRa juga meninggalkan mandatnya selaku menteri untuk jadi cawapres. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah terjawab secara elegan oleh pembenci Jokowi, dan biasanya mereka mengulang cerita terus dan terus seperti beo: Jokowi itu akan merusak ke-Islaman Indonesia, Jokowi itu boneka, Jokowi itu koruptor, Jokowi itu PKI, Jokowi itu Cina, dan seterusnya tanpa bisa memberikan fakta konkrit asal mula tuduhan itu dan apakah memang kadar kesalahan Jokowi sedemikian beratnya sehingga hanya dia yang dicecar. Maksud saya, apa iya gubernur Jakarta yang lain tidak korup dan bersih suci? Tapi yang namanya ketidaksukaan ternyata lebih kuat daripada akal sehat, dan bukannya melihat secara objektif yang dilihat cuma jeleknya Jokowi yang belum tentu benar.

Ingat dulu MUI mencoba menghentikan acara infotainment karena dianggap gosip dan tidak mendidik/ berbahaya? Pilpres 2014 ini adalah ajang gosip dan rumor dan 'katanya' tingkat tinggi, dan tidak ada yang menghentikan. Dan yang berusaha menghentikan/membantah rumor tentang Jokowi dicap fanatik. Sebaliknya, tidak ada yang bisa menjawab kenapa HaRa yang anaknya bebas setelah (tak sengaja) membuat seseorang meninggal dianggap pantas menjadi wakil presiden. Inilah ketelanjangan masyarakat Indonesia yang terungkap saat pilpres ini: mana yang penuh harap, mana yang penuh benci, mana yang mau berpikiran luas, mana yang masih berpikiran sempit, mana yang munafik dan mana yang jujur. Inilah kenapa saya berharap Jokowi terbukti curang atau kalah secara fair dalam pemilu (tapi bukan 'dikalahkan'), karena setidaknya mereka tidak bisa lagi menghambat saya dan warga negara Indonesia yang berusaha memajukan Indonesia. Jagoan mereka sudah menang toh, apa lagi yang diinginkan? Tapi ini cuma harapan kosong belaka. Orang yang mau begitu saja percaya dengan fitnah selama itu 'cocok' dengan dirinya, orang yang hanya mau mendengar apa yang ingin ia dengar, orang-orang ini hanya akan menjadi boneka dan berkoar lantang sebagaimana apa yang dimaklumatkan sang dalang. Kalaupun Jokowi ketahuan curang dan/atau kalah secara sebetul-betulnya, akan ada isu-isu lain yang selalu bisa dihembuskan untuk pengalihan perhatian bilamana masyarakat sudah terlalu kritis, dan orang-orang ini lagi-lagi akan memakan fitnah ini dan berbuat sebagaimana diharapkan sang dalang. Tidak akan ada yang berubah. Dan ini, ini adalah musuh Indonesia yang sebenar-benarnya. 

Jangan anggap Indonesia unik dalam hal ini. Orang picik itu tak terpengaruh pendidikan dan negara, dimanapun selalu ada orang picik dan negatif, yang mementingkan diri sendiri. Saya bisa bilang demikian karena semua tuduhan terhadap Jokowi intinya 'dia bukan kita' dan/atau 'dia tidak sepaham'. Buat saya, bagus dia tidak sepaham. Selaku kaum minoritas bila Jokowi mendekatkan atau mengafiliasikan diri dengan kaum mayoritas (apalagi yang berbahaya seperti FPI) maka saya dan golongan saya harus siap-siap 'ditekan' lagi. Ya, Indonesia bukan cuma terdiri dari satu agama, atau lebih tepatnya satu aliran agama. Islam banyak alirannya, dan selama mereka tunduk kepada satu Tuhan (sebagaimana tercantum di Pancasila) tiap aliran ini dan berbagai agama non-Islam lainnya berhak ada dan beribadah di Indonesia. Begitu pula dengan tuduhan bahwa ia Cina, yang buat saya bukan tuduhan sama sekali. Bangsa Cina sudah berdagang dan berasimilasi dengan orang Indonesia semenjak ratusan tahun yang lalu, dan mereka sudah menjadi bagian dari Indonesia sebagaimana Arab dan Portugis. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, dan etnis; dan kemerdekaan kita pun didapat dengan perjuangan dan tumpah darah semua orang ini, bukan hanya dari satu golongan (agama) saja. Sah dan wajar saja bila saya sewot saat mendengar anda mewek/ngambek karena si capres ini 'bukan golongan' anda, atau akan tidak berpihak pada anda. Presiden seharusnya tidak berpihak pada satu golongan, karena dia pemimpin negara yang tanggung jawabnya ke seluruh rakyat Indonesia dan bukan golongan anda saja.

Artikel ini tentunya akan tidak mengena di pembenci Jokowi, yang hanya akan me-skim/membaca cepat dan mencari keyword sebelum menjatuhkan sanksi: Artikel tidak bermutu, isinya cuma sampah dan puja-puji terhadap Jokowi. Walaupun saya tidak ada memuji Jokowi. Walaupun isu yang saya pertanyakan itu sah dan bukan buatan. Tapi artikel ini memang bukan untuk mereka. Artikel ini adalah untuk anda yang masih berpikiran terbuka, anda yang berani berpikir bahwa Indonesia bisa lebih baik. Artikel ini berusaha mengingatkan anda akan bahaya laten kebencian dan keegoisan (yang buat saya lebih berbahaya dari bahaya laten komunis) yang berpotensi menghancurkan Indonesia: karena Indonesia hanya bisa maju dan menjadi lebih baik bila kita bisa bersatu, bila kita mampu melihat sesama warga negara Indonesia sebagai 'saudara' dan bukannya musuh/ancaman, bila kita mau berpikir jernih sebelum berpihak agar tidak disetir oleh dalang-dalang yang haus kekuasaan, bila kita tidak sibuk menghujat dan menghakimi orang lain hanya karena tidak sepaham atau segolongan dengan kita. 

Indonesia itu besar, besar sekali. Sudah saatnya kita maju dan menjadi lebih baik. Sudah saatnya kita menjadi dewasa dan mampu mencerna informasi secara jernih dan adil, dan dengan demikian mampu membagikan informasi yang benar dan berdasar kepada saudara-saudara kita, lagi-lagi demi Indonesia yang lebih baik. Sudah saatnya kita berhenti berpikir sebagai "saya" dan "kamu", dan mulai berpikir sebagai "kita". Siapapun presidennya, harapan itu sudah muncul. Keinginan untuk maju itu sudah terbit. Jangan biarkan semangat perubahan ini padam begitu saja.

Hidup Indonesia!

Thursday, July 10, 2014

Kucing Kampung Dan Momen Indonesia

"Kucing kampung dibawa ke Mekah. Pulang tetep jadi kucing kampung. Kucing Persia dimanapun berada, tetaplah kucing Persia. ADP,"

Ada pengalaman mengesankan saat saya dan suami berkunjung ke Sulawesi. Di salah satu restoran dipinggir jalan (tempat kami menikmati sop saudara yang enaaaak sekali) ada seekor kucing cantik. Kucing kampung sih, tapi terlihat terpelihara dan begitu manis. Dengan pedenya suami saya si pencinta kucing memanggil kucing itu dan berusaha mengelusnya, namun kucing itu justru 'mengaum' dengan ganas dan memperlihatkan taring. Oopsie...

Suami saya sering mencandai saya, dia sering bilang kalau kucing di Indonesia sangat tidak terawat dan liar seperti manusianya. Itu hanya candaan lho, karena dia lebih cinta Indonesia daripada negaranya sendiri. Dan setelah beberapa minggu tinggal di Indonesia dan mengamati kucing-kucing (plus anjing-anjing) yang berkeliaran dengan bebas disana si akang pun berkata: Kucing kita di Orange County ga akan bertahan 2 hari disuruh hidup liar disini. Saya pun menjawab dengan bercanda: orangnya juga nggak. Iya, kadang saya tega.

Si reseh di Amerika

Tapi serius, kucing kami di Amerika sangat high maintenance menurut saya yang orang Indonesia. Harus makan makanan kalengan/pabrikan, tapi kalau dia ngga suka sama sekali ngga mau makan. Ga cukup cerdas untuk cari makan sendiri, ga bisa cari tempat berlindung sendiri (kalau hujan), terus kalau sakit mesti dibawa ke dokter hewan alias ga bisa ngobatin diri sendiri. Saat ada tupai menggerogoti tanaman pot di teras kami, ia malah ngumpet dan bukannya mengusir tupai tersebut. Padahal ini kucing hitungannya kucing kampung disana/bukan kucing ras, dan ini juga nemu. Dia main selonong boy ke apartemen kami dan tidak mau diusir, walhasil terpaksa kami kasi tinggal di apartemen kami. Bagaimana kucing ras coba?

Sementara kucing adik saya di Indonesia, yang dipungut saat masih bayi dan korengan serta belekan dan penuh kenistaan lainnya (kucingnya, bukan adik saya), tumbuh menjadi kucing kampung yang cantik dan luar biasa cerdas. Kerjaannya cuma berjemur, jalan-jalan sesuka hati, pulang cuma untuk makan dan tidur malam. Bisa tidur dimana saja, dan protes keras saat diberi makanan kaleng/pabrikan. Saat adik saya tidak sempat kepasar untuk membelikan ikan cuek makanannya, dia lebih memilih mencuri makanan anjing peliharaan adik saya (yang juga cuma dikasi nasi sisa) daripada makan 'menu barat'nya. Saya tidak ragu kalau dia sampai terdampar di Amerika, dia pasti bisa hidup walau tanpa ada yang mengurus. Sebagaimana orang Indonesia yang gigih dan bisa hidup di mana saja, begitupula kucing (dan anjing) kampung kita.

Intinya bukan kucing ras lebih jelek dari kucing kampung, karena buat masing-masing orang preferensi berbeda toh? Ada yang suka pacar cantik/ganteng walaupun high maintenance, ada juga yang suka pacar sederhana dan bisa diajak susah. Intinya adalah jangan melihat kucing dari ras/bulunya saja...

Nanti dulu, jangan dulu berpikir saya menulis ini karena ingin membela si kerempeng dekil yang secara tak langsung disindir di tweet tersebut. Saya mah ga perduli dia dibilang kucing kampung, bagus malah menurut saya karena itu menunjukkan bahwa ia akan tetap menjadi dirinya sendiri dimanapun. Kalau kucing kampung dibawa ke luar negeri mendadak menjadi kucing persia, bukannya itu lebih bahaya karena bisa ga ingat asal aslinya? Perkucingan ini buat saya penting karena ini menunjukkan mental (banyak) orang Indonesia yang sebenarnya: yang berpikir kalau segala sesuatu yang non-Indonesia itu keren, yang berpikir kalau Indonesia itu segitu jelek dan kampungan dan ndesonya. Yang kucing persia dianggap lebih keren daripada kucing kampung, padahal kucing persia di kampung asalnya juga kucing kampung.

Si Dekil yang mandiri di Indonesia

Kita bicara tentang kedaulatan Indonesia. Kita berkoar-koar tidak mau tunduk pada bangsa asing. Kita mencurigai orang-orang yang kelihatan dekat dengan pihak asing. Tapi kita pamer iPhone dan foto liburan keluar negeri. Kita mengagumi muka-muka non-Indonesia di layar kaca dan berdandan (atau mendandani pasangan) seperti artis-artis tersebut. Kita merasa bergengsi kalau bisa duduk di kafe di mal sambil menyeruput kopi impor dan makan kue a la barat. Kita berpikir kalau orang yang bisa bahasa Inggris itu lebih berpendidikan. Kita menertawakan orang-orang yang suka dangdut dan menyebut mereka kampungan. Kita menyebut budaya kita sendiri sebagai pornografi dan pornoaksi karena tidak sesuai dengan ajaran agama yang kita anut, dan dengan efektif menghilangkan jejak leluhur kita - dan dengan demikian menghilangkan identitas diri kita sendiri. Pertanyaannya adalah: siapa kita sebenarnya, apakah kita hanya sebuah kolase dari berbagai pengaruh asing?

Kita berpikir semua yang 'asing' itu keren, walau sebenarnya tidak. Fast food ala McD yang kita anggap elit dan memang mahal, disini dianggap makanan orang miskin (dan ya, pelayanan fastfood Indonesia jauh lebih baik dari pelayanan fastfood sini. Boro-boro delivery service, dapat pesanan sesuai yang kita minta saja kadang sudah syukur). Bisa bahasa Inggris disini tidak mengagumkan, sama saja seperti anda yang orang Indonesia bisa bicara bahasa Indonesia yang alah bisa karena biasa tapi kalau ditanya grammar/rumus tenses secara mendetil mereka sama bengongnya seperti kalau anda disuruh menjelaskan apa arti imbuhan me- dan apa bedanya dengan imbuhan ber- (nah, bengong kan anda...). Mencoba memasak otak-otak disini luar biasa susah dan lebih mahal daripada membuat salmon panggang. Disini istilah kerennya detox, saat anda tidak makan apa-apa selama seharian penuh selain jus lemon-madu (atau apapun kata instruktur diet anda); di Indonesia istilahnya Mutih dan hasil akhirnya sama saja (plus lebih dekat dengan Tuhan siy). Orang luar negeri di kampungnya ya orang kampung, sama seperti kucing persia yang dikampungnya juga kucing kampung. 

Sekarang mari berpikir: mau sampai kapan kita pelihara mental terjajah kita, mental inlandeer kita, dan terus mengagumi bangsa lain? Kita sudah membangun kompleks Borobudur yang super besar dan ekstra megah semenjak abad ke-9. Nenek moyang kita mengarungi lautan dan melakukan perdagangan jauh sebelum orang Eropa memulai eksplorasinya. Di saat cikal bakal orang Amerika masih dikejar-kejar di Inggris sana, Indonesia sudah menjadi pusat perhatian dunia dengan kekayaan rempah-rempahnya. Indonesia memiliki iklim yang sempurna, kekayaan yang melimpah ruah, kecantikan alam (dan manusia) yang tak tertandingi, tapi anda masih merasa negara kita ini kampungan dan ndeso? Satu hal lagi yang Indonesia miliki: sumber daya manusia yang berlimpah! Bukan hanya dari segi jumlah, karakteristik asli orang Indonesia yang tahan banting juga sangat sesuai untuk beradaptasi di negara lain. Kita tidak manja dan (aslinya) penuh empati dan tepo selira. Kenapa oh kenapa anda masih berpikir negara kita lebih jelek dari negara lain? Bahwa si kucing kampung tidak seberharga daripada kucing persia?


Buat saya dan suami saya, makan internet (indomie telor kornet) dan pisang bakar di warkop/angkringan pinggir jalan lebih berkesan daripada waktu makan di restoran celebrity chef di Singapore. Liburan kami ke Gili dan Makassar lebih berkesan daripada waktu dia liburan di all-in resort di Jamaica. Dia lebih suka rokok rakyat seperti gudang garam dan belinya pun harus yang satuan/eceran di warung-warung kecil pinggir jalan (sekalian latihan Bahasa Indonesia). Kopi harus kopi Bali, sarapan pagi pun telor mata sapi dengan saos sambal ABC. Dia sangat menyukai budaya khas Indonesia (Sulawesi, Jawa, Bali), karena menurut dia ketiadaan budaya asli lah yang membuat negaranya seperti tidak punya identitas. Momen favorit kami di Indonesia adalah saat kami pergi ke pasar malam tradisional dan dia berjoget dangdut dengan para abang-abang (dan waria-waria) disana. Ini momen-momen Indonesia kami, dan sepulangnya kami ke Amerika kami sibuk bersedih dan bermuram durja karena memang Indonesia lebih baik (menurut kami). 

Bagaimana dengan anda? Apa 'momen Indonesia' anda? Atau lebih tepatnya, sudahkah anda memiliki 'momen Indonesia'? Atau anda masih berharap suatu saat nanti anda bisa pindah ke luar negeri dan meninggalkan negara kampungan dan ga keren ini bersama kucing persia kesayangan anda? ;)

Saturday, June 28, 2014

Saya Juga Punya Mimpi, Pak Martin

Martin Luther King pernah berkata: "I have a dream."

 "I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin, but by the content of their character. I have a dream today!"

Saya juga punya mimpi, Pak Martin Luther King....

Saya punya mimpi bahwa bangsa Indonesia mau bersatu dan menghargai sesamanya, dan tidak ada lagi tunjuk-tunjukkan "Dia kan tidak seagama/sesuku/sealiran"

Saya punya mimpi bahwa bangsa Indonesia mau menghargai sejarah dan budayanya, dan tidak ada lagi penghancuran budaya asli Indonesia atas nama 'kemajuan' atau bahkan 'agama'

Saya punya mimpi bahwa setiap warga negara Indonesia mendapatkan perlakuan adil dan kesempatan yang sama, dan tidak ada lagi diskriminasi

Saya punya mimpi bahwa negara Indonesia bisa menjadi negara yang besar, yang diakui dunia dan bukan hanya menjadi sapi perahan negara maju

Saya punya mimpi bahwa warga negara Indonesia akan memiliki kebanggaan tak terperi akan Indonesia, dimana jalan-jalan ke Taman Nasional Bantimurung di Sulawesi terdengar lebih hebat dan membanggakan daripada ke Gardens by The Bay di Singapura

Saya punya mimpi bahwa anak cucu cicit dan keturunan saya bisa berkata dengan bangga: Saya orang Indonesia

Sayangnya mungkin mimpi saya masih agak lama terlaksana, Pak Martin. Melihat kebencian dan ketidaksukaan yang seperti mendarah daging diantara para pendukung capres Indonesia di 2014 ini saya jadi ragu akankah persatuan dapat terwujud dalam waktu dekat ini. Padahal siapapun presidennya, masyarakatnya yang harus maju; bukan begitu Pak Martin? Kalau memang para penduduk Indonesia sudah bertekad untuk maju, walaupun presiden terpilih ternyata kampretos (maafkan bahasa saya Pak Martin) tentunya Indonesia bisa tetap maju bukan? Sayangnya ini malah seperti saling mengacungkan parang dan siap berperang, dan bisa-bisa bila calonnya tidak terpilih mereka akan melakukan berbagai cara untuk menjegal atau mengutuk pemerintahan terpilih dan bukannya bekerja sama untuk maju seperti halnya publik Amerika dengan Obama. Menyedihkan ya Pak Martin?

Tapi saya tidak mau hilang harapan Pak Martin. Saya juga punya mimpi dan saya akan terus mengejar mimpi itu. Dan suatu hari Pak Martin, suatu hari nanti kami bangsa Indonesia akan bersatu dan mampu melihat satu sama lain sebagai 'Bangsa Indonesia'. Mungkin ini perlu waktu lama Pak Martin, karena Amerika Serikat saja sampai saat ini masih belum sampai ketahap itu walaupun sudah merdeka selama lebih dari 300 tahun. Tapi 48 tahun setelah Pak Martin mengumandangkan pidato "I Have A Dream" bapak yang terkenal, Amerika Serikat memiliki presiden kulit hitam pertama. Jadi masih ada harapan toh Pak Martin? Suatu hari nanti Pak Martin... Suatu hari nanti....

Kelenteng di Bali yang mengadopsi still/gaya Bali

Monday, June 9, 2014

Saatnya Bersuara

Saya tidak suka menunjukkan afiliasi politik saya. Buat saya politik itu kotor dan sama saja, masuk bagus pun ujung-ujungnya brengsek. Dulu saya ngefans habis sama Budiman Soedjatmiko, keren dan revolusioner untuk negara ini pikir saya. Sampai sekarang saya belum lihat ada kontribusi berarti darinya untuk Indonesia dari segi pemerintahan, boro-boro revolusi bikin Indonesia bersih dan nyaman untuk ditinggali. Percuma toh gontok-gontokan sama teman kalau ternyata calon yang saya pilih ga ada gunanya? Itu lagi satu yang saya malas, debat berkepanjangan sama teman dan keluarga yang afiliasi politiknya beda dengan saya. Kalau ada gunanya sih yuk mari, biar Indonesia lebih baik; tapi biasanya cerita lama terulang: pemimpin yang korup dan ga becus plus warga negara yang ga pedulian. Percuma toh?

Tapi pilpres kali ini beda.

Di blog ini saya berani buka mulut dan menulis pendapat saya tentang berbagai hal yang menurut saya bisa mengubah dunia jadi lebih baik. Saya menulis tentang anti-bullying. Saya menulis tentang persamaan hak untuk semua orang. Saya menulis tentang respect/hormat untuk semua orang (termasuk PSK). Saya menulis tentang agama di Indonesia, berusaha menyadarkan orang-orang agar tidak saling membenci atas dasar agama. Saya tahu pendapat saya bertentangan dengan banyak teman saya, dan mereka bisa balik bodi karena tidak suka dengan pendapat saya. Buat saya ini adalah risiko yang sepadan, karena saya percaya isu yang saya kemukakan penting untuk kelangsungan dan keutuhan Indonesia, dan penting untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk calon anak cucu saya nanti. Maka dari itu, untuk pilpres kali ini saya memutuskan bersuara. Saya memutuskan mendeklarasikan pilihan saya.

Tag line nya: I stand on the right side. Apakah Jokowi-JK itu "the right side" saya tidak tahu. Tapi "harapan" buat saya akan selalu menjadi "the right side", dan itu yang ada di pihak Jokowi-JK. Harapan. Saya bukan memilih Jokowi-JK karena yakin mereka bisa mengubah dan membereskan Indonesia dan semua jadi super ok. Mereka cuma manusia, yang mana terikat koalisi partai dan masuk ke dalam sistem pemerintahan yang korup dan carut marut, dimana kepentingan seorang 'saya' lebih penting daripada kepentingan segenap 'bangsa'. Naif sekali bila berpikir mereka sendirian bisa membetulkan negara ini. Tapi mereka tidak sendirian. Para pendukung Jokowi-JK percaya pada mereka, percaya bahwa Indonesia bisa jadi lebih baik. Hampir semua komentar dan dukungan terhadap Jokowi-JK yang saya baca terasa tulus dan penuh harapan akan Indonesia yang lebih baik, dan saya yakin para pendukung ini akan terus mengawal dan mengusahakan Indonesia yang lebih baik. Saya tidak percaya Jokowi-JK, tapi saya percaya sepenuhnya pada rekan-rekan sebangsa dan setanah air. Saya percaya Indonesia.

Untuk pertama kalinya Indonesia bersuara lantang, walau mungkin sebatas di kota besar. Untuk pertama kalinya Indonesia tidak cuma diam dan cuek terhadap politik dan pemimpin negara. Untuk pertama kalinya Indonesia tersadar bahwa Indonesia bisa jadi lebih baik, dan berani memilih dan mengambil langkah ke arah itu. Ini 'harapan' yang saya maksud, ini 'harapan' yang saya perjuangkan. I stand on the right side, I stand on the side of Hope. Indonesia, saatnya bersuara!

Search This Blog