AdSense Page Ads

Thursday, March 8, 2018

Making Dreams Reality



It's not even 10 am, but I was standing in the office kitchen munching on two mini chocolate bars, a couple handful of popped corn snack, some tortilla chips, and a cup of celery-potato soup.

The reason? I just got paid. My book royalty from Indonesia kicks in a few days ago, and I found out about it yesterday. In my true "first-things-first" style I did my day as usual, wrote an article to thank my readers, and seemingly cool about it.

This morning realization kicks in. People in Indonesia actually bought my book. They could have bought a meal for two, or internet/data quota for their social life. They could have bought two movie tickets or a cup of very, very fancy coffee. Nope. They choose to buy my book.

It's not even an easy book to read. It was a self-improvement book that talks about getting yourself together after you got cheated on. It was a book that none of you wish to read. It's a good book, just a difficult topic.

But it happened. So far I have 1200+ followers on Instagram. 1,800+ followers on my personal Facebook account. 1000+ followers on the Facebook page for my blog. Over 3 million hit on my blog. And some 300 people bought my book.

Oh yes, and around this time last year when my face was pretty much plastered all over the internet as the mascot/face of scorned wife cheated by the husband. My viral article last year opened the floodgate and established that cheating is never right.

How big is this? Humongous. I am not a beautiful socialite. I am not globe-trotting nor telling stories of exotic and faraway places. I don't write dreams or pretty words; I write reality, which is always difficult to swallow. Yet here I am.

So there is room in this world after all, for quirky thoughts and rambling mind, for calls of hope and shared emotions. There is room for trust and encouragements, for kind words and unfaltering faith. For human to be human.

And if the fact that my writing is well accepted by other people is already groundbreaking, imagine how I feel receiving messages, even long after that viral article came out, on how I inspired them or how they too thrive to make the best of life.

Me. Seriously. Me. The problematic, nap-loving, IDGAF me. Are they mad?! Is it a wonder that I binge-eat at the pantry before 10 am? I feel like a dog that finally catches its tail and doesn't know what to do with life anymore.

Yet of course I know what to do. I am going to keep on writing. The goal from the start was always to connect people, to make my readers say, "My feeling exactly!" or "I did not know that, but now I know". And if I can reach just one person with my writing, it'll all be worth it.

Because the world is so big and frightening. Yet it is less so when you don't feel so alone, when you realize there are other people who shared your thoughts and even your fear. And it is always great to learn to love other people.

I texted my best friend this morning, "I did good, right?" He texted back: "Yes, you done good." I blushed hard and grinned happily. I guess, yeah. I did good.

Wednesday, March 7, 2018

Semua Akan Menjadi Lebih Baik



Hari ini tepat setahun yang lalu saya menulis tentang perselingkuhan suami saya, menyentil dengan "Halo Selingkuhan Suami Saya". Apa rasanya dari wanita yang patah hati dan tiba-tiba blog saya dibaca 2 juta orang? Mau pingsan.

Setahun kemudian saya mengecek tabungan saya. Royalti dari buku "Dear, Mantan Tersayang" ternyata sudah masuk, tanpa sepengetahuan saya. Apa rasanya dari wanita yang harus berdikari dan tiba-tiba menerima royalty buku? Serasa di awan.

Semua akan menjadi lebih baik.

Saya tahu saya hoki. Kebetulan jalannya pas, dan saya memiliki bukan hanya keoptimisan tingkat dewa, namun juga kesigapan untuk mengambil langkah yang tepat. Saya juga hoki karena saya tahan banting. Tapi bukan berarti jalan saya mudah.

Rasa yang masih teringat saat saya bangun sendiri setelah diusir oleh suami saya dari apartemen kami. Saat saya berjalan seperti zombie, menahan tangis saat membeli piring dan sendok garpu untuk makan, bertanya "Kenapa begini jadinya?"

Rasa yang masih teringat saat saya sendiri di Los Angeles sementara ia berlibur ke Indonesia. Sebelum berangkat saya memberikan buku buatan saya, kumpulan kisah cinta kami dari blog yang saya miliki. Dan ia tetap pergi.

Rasa yang masih teringat saat saya menemukan bukti perselingkuhannya, dan kehampaan yang ada setelahnya. Semua pertengkaran kami hingga saya memutuskan untuk pergi. Dia yang sibuk dengan hapenya berkata: "Jangan lupa bajumu yang di pojokan."

Rasa yang masih teringat saat saya tertawa dan menangis histeris membaca segala pujian untuk si mbak di fesbuk, betapa ia merawat orang tuanya; sementara baru beberapa minggu sebelumnya ia menjelekkan keluarga saya.

Semua pertengkaran dan sakit hati. Semua kata-kata kasar penuh amarah. Semua "Ini salah loe!" dan "Gue yang sengsara disini!" Semua omongan betapa saya nggak berharga. Betapa saya nggak tahu diri. Betapa banyak yang ia lakukan untuk saya.

Dan itu bukan sekali dua. Tempat tinggal kami yang berdekatan membuat kami kadang bertemu. Drama kami yang menjadi teman, lalu bertengkar dan seolah tidak kenal satu sama lain terjadi berulang kali. Nggak terhitung "Selamat tinggal" yang saya ucapkan.

Sakit? Banget. Bikin frustasi? Sangat. Yang kadang serasa begitu gelap dan tak berujung, dan membuat saya bertanya: "Saya salah apa sih?" Yang seringkali masih teringat masa lalu dan airmata pun merebak, berpikir: "Kok bisa sih?"

Tapi saya percaya semua akan menjadi lebih baik. Saya yang belajar mencari teman di riuhnya kota Los Angeles. Saya yang berusaha meningkatkan karir saya walau ijazah saya nggak terpakai disini. Saya yang memberanikan diri mematahkan omongannya bahwa saya nggak layak dicintai.

Dan ya, semua memang menjadi lebih baik. Yang mengikuti akun Instagram saya (@yogezwary) pasti tahu saya tampak bahagia menjelajah Los Angeles. Saya lulus ujian lisensi agen reksadana, yang mana hanya segelintir orang yang bisa lulus. Soal pasangan jangan ditanya. Nggak kurang pilihan.

Seperti halnya luka fisik, luka hati pun akan sembuh oleh waktu. Tidak memungkiri bahwa seperti halnya luka fisik, kadang luka hati bisa menyebabkan cacat permanen. Namun bukan berarti kita tidak bisa beradaptasi, bukan?

Perjalanan hidup kita bukanlah tentang si A atau si B yang menyakiti kita, bukanlah soal si X atau si Y yang merebut milik kita. Perjalanan hidup kita adalah tentang [Nama Anda Disini] menjadi lebih baik, berkembang dan bertumbuh mekar sempurna.

Ibarat koreng, biasanya yang akhirnya lama sembuhnya atau menyebabkan bekas adalah koreng yang terus dikorek-korek, bukannya didiamkan dan diberi obat. Begitu pula dengan masa lalu yang menyakitkan, diamkan dan fokus pada diri anda sendiri.

Karena ini semua tentang anda. Kita nggak bisa memaksakan bagaimana orang berpikir dan bertindak. Terus terpaku pada sesuatu yang diluar kuasa kita hanya akan membuat kita frustasi dan menghambat kemajuan kita.

Apakah saya masih sedih? Iya. Kadang masih lho, saat sedang seru dengan orang lain saya masih terpikir "Coba kalau mantan bisa lihat biar tahu rugi banget dia selingkuh." Tapi kadang juga terpikir "Eh mantan pasti suka acara ini!" lalu teringat kalau kami tidak berbicara lagi. Sedih. 

Bisakah saya terus hidup di masa lalu? Bisa banget. Itu akan seperti memaksakan memakai seragam SMP yang lengannya saja nggak muat, atau seperti memakai sepatu jaman SD dulu yang jelas sangat kesempitan. Pertanyaannya, apakah saya mau?

Semua akan menjadi lebih baik. Percaya deh. Bangkit perlahan, dan berjalan maju selangkah demi selangkah. Rasa takut dan ingin menyerah itu akan datang, namun tetap berjalan terus menuju cahaya. Semua akan menjadi lebih baik. Pasti.

[Baca lebih lanjut tentang move on dan pengembangan diri di buku "Dear Mantan Tersayang", tersedia di toko buku besar atau Gramedia online. Jangan menyerah. Kita pasti bisa :) ]

Monday, March 5, 2018

Terang Lilin Di Kegelapan



"Loe mah enak, hidup loe ga pernah susah." kata teman saya jaman dulu. Hummm.... Gimana ya? Bukan nggak pernah susah, tapi nggak berasa susah?

5 tahun saya tinggal di Amerika, baru musim dingin kali ini saya baik-baik saja. 4 musim dingin sebelumnya parah, yang saya sakit-sakitan dan rasanya musim dingin panjang banget.

Tahun ini tiba-tiba sudah bulan Maret. Sebentar lagi April. Saya nggak sekalipun cuti sakit karena kena flu. Dingin pun nggak berasa. Mungkin karena saya sudah beradaptasi.

"Dan karena kamu ga depresi lagi," tukas teman saya. Saya bengong. Sumpah nggak berasa depresi lho. Hidup terlihat susah, tapi nggak separah itu rasanya.

Saat saya melihat kebelakang, teman saya benar. Saat itu saya depresi. Yang rasanya seperti berenang melawan arus dan setiap saat bisa tertarik dan tenggelam.

Saya beruntung. Saya dasarnya optimis dan pantang menyerah. Dan yang paling penting: saya nggak memiliki tendensi depresi secara klinis. Yang berarti saya bisa keluar dari depresi saya.

Yang saya ingat saat itu terus berjalan, satu kaki didepan kaki lainnya. Seperti saat saya ikut hiking ke Gunung Batur, nggak kelihatan seberapa jauh saya melangkah karena tertutup kabut. Tiba-tiba sudah di puncak saja.

Yang sangat membantu juga adalah kepercayaan saya akan sesuatu yang lebih besar dari saya dan kepasrahan saya. Saya nggak becus ritual agama, tapi saya percaya kuasaNya.

Pemikiran saya selalu: Tuhan nggak akan memberikan cobaan yang nggak bisa saya hadapi; dan kalau pun iya, pasti akan dibantu kok, nggak akan ditinggal begitu saja.

Walhasil seberat apapun cobaan, saya selalu yakin bisa menghadapinya. Dan kalau saya merengek minta bantuan tapi dicuekin, saya anggap itu berarti saya harusnya bisa menghadapinya sendiri.

Punya iman seperti ini lumayan susah untuk (merasa) depresi. Tapi bukan berarti tiap ada yang depresi lalu kita cap tidak beriman atau "Banyakin berdoa sana"

Depresi itu ibarat berada di lubang gelap yang nggak kelihatan jalan keluarnya. Dengan menyalahkan si penderita atau membuatnya merasa terkucil, kita semakin membuatnya terpuruk.

Memaksakan pendapat kita dengan "Loe harusnya..." hanya akan memperburuk keadaan. Belum tentu yang kita anggap "Cuma segitu saja..." juga mudah bagi orang lain.

Ini bukan masalah kuat tidaknya iman, atau kuat tidaknya seseorang. Cara kita menyikapi masalah berbeda tergantung dari kepribadian dan pengalaman hidup kita. Nggak bisa semua disamakan.

Seringkali yang kita perlukan hanya seseorang disamping kita. Nggak perlu ngasi saran. Nggak perlu menghakimi. Cukup diam saja disamping orang ini.

Kalau depresi seperti terpuruk dalam kegelapan, jadilah terang lilin yang menemaninya sampai ia siap untuk bangun dan berjalan mencari jalan keluar. Itu saja.

Karena kalau kita berpikir bahwa Tuhan akan memberikan jalan, kenapa bukan kita yang menjadi jalan Tuhan? Menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong orang?

Di dunia yang penuh dengan "Saya", sulit untuk menempatkan diri di posisi orang lain. Nggak ada faedahnya. Menyusahkan. Ini orang juga paling lebay. Nggak penting.

Saya kasih tahu ya, keberadaan anda dan cahaya jiwa anda bisa jadi penentu akan hidup seseorang, penolongnya agar ia tak terjerumus lebih dalam. Kurang penting gimana?

Matahari bersinar lebih cerah setelah saya bebas dari depresi, dan itu karena sekian banyak orang yang menerangi saya di kegelapan hingga saya mampu menemukan jalan keluar.

Jangan putus harapan, dan jangan pula berpaling. Cahaya Tuhan ada disekitar kita, di dalam jiwa kita. Sudah saatnya kita membuatnya bersinar terang. Matahari kan bersinar, dan begitupula diri kita.

Salam terang dari Los Angeles.

Search This Blog