AdSense Page Ads

Friday, May 22, 2015

Sebelum Berkata "I Do"

5 tahun lebih berkecimpung di dunia perkawinan alias wedding industry bikin saya ngeh kalau kata-kata "I Do" atau ijab kabul dan upacara pernikahan apapun tidak selalu akhir dari cerita cinta anda, ataupun "Pengikat" komitmen antara anda dan pasangan. Pengikat komitmen yang sebenarnya adalah saat anda menyatakan kesiapan anda untuk menikah, dan diikuti dengan kesediaan anda untuk terikat dengan berbagai komitmen lain seperti menyewa fotografer, nge-book tempat resepsi, mengirimkan undangan, dan sekian banyak komitmen lainnya. Apalagi kita orang Indonesia bo', kalau nggak gede nggak greget gimana gitu rasanya. Masalahnya begitu komitmen ngebook kanan-kiri kan jadi tidak mungkin membatalkannya begitu saja. Mirip-mirip kehidupan pernikahan yang sebenarnya gitu deh.

Pastinya banyak dari pembaca yang berpikir kalau menikah itu goal banget deh, apalagi untuk wanita. Pokoknya lewat umur 25 sudah mulai pusing mikirin kenapa masih belum ada tanda-tanda ke bangku pelaminan, dan lewat umur 30 sudah mulai pasrah dan berpikir siap-siap jadi perawan tua. Begitu dengar ada teman yang menikah juga rasanya bahagia, dan pasti ucapannya "Aduh selamat ya...!" Nggak pernah kan dengar ada yang wanti-wanti, "Ujian baru saja dimulai lho..."Padahal kenyataannya ya itu tadi, komitmen pernikahan itu bukan dimulai dari waktu ijab kabul atau upacara pernikahan resminya, cerita "In sickness and in health, in rich and in poorness, till death do us part" itu bukan baru pas di depan altar atau penghulu. Semua itu dimulai saat anda menyatakan niat untuk menikah.

Kalau masih nggak percaya, coba pikir deh, mana ada hari lain di dalam hidup anda yang semuanya mesti berjalan sempurna dan apapun yang terjadi the show must go on? Mau bikin acara apapun masih bisa anda cancel/batalkan kapan saja, tapi seberapa sering anda dengar ada orang membatalkan pernikahan, apalagi saat sudah mepet hari atau bahkan (amit-amit) di hari pernikahannya? Saya ingat teman yang bertengkar di dekat hari pernikahannya cuma gara-gara nggak setuju dengan detail dekor. Saya pun nyaris batal menikah dengan si Akang karena di malam sebelum hari-H kami berdebat hebat. Kalau bukan si Akang yang mengalah dan berusaha mengademkan saya, mungkin saya masih jomblowati sekarang (Ay luph yu pull deh Akang...). Saya bisa seenaknya mau walk out begitu karena kebetulan kami cuma ke catatan sipil, cuma kami dan dua temannya sebagai saksi. No pressure/ga ada tekanan gitu. Kebayang nggak kalau weddingnya all-in? Sudah emosi bergejolak karena tahu hidup akan berubah (dan masih berusaha mencerna fakta tersebut), panik karena sekian banyak printilan-printilan yang harus diperhatikan ("bunganya nggak ada yang warna merah lho!" "Itu iparnya saudara misan Ibu sudah kamu kirimkan undangan kan?" "Fotografernya kena tipes!!"), tapi karena sudah terlanjur berkomitmen dan nggak mau malu maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah tetap lanjut. 

Berusaha mengatasi segala masalah dan mau bekerja sama karena sudah komitmen dan nggak mau malu, kedengarannya tidak asing ya? Jelas saja, karena itu sebenarnya definisi pernikahan yang sebenarnya. Minus nggak mau malunya ya. Kalau sudah menikah, sudah tidak ada lagi acara walk out dan 'udahan' seenak udel seperti waktu pacaran. Dan walau hati marah, seringkali di muka umum harus tetap tersenyum dan kelihatan mesra seperti saat difoto pre-wedding. Sayang banget kan sudah booking fotografer sekian juta tapi muka kita cemberut? Atau saat disindir sama Bibi pasangan yang nyinyir dan ingin melarikan diri ke kamar dan kunci kamar untuk sibuk meratapi nasib tapi tidak bisa karena ada sekian banyak tamu undangan yang harus disapa. Makanya kalau lihat ada teman saya yang memutuskan menikah dengan resepsi saya salut banget. Komitmen dan niatnya jago bo'.

Buat yang kebetulan menikah sederhana (seperti saya) atau belum menikah, bukan berarti anda nggak berkomitmen. Semua orang punya cerita masing-masing dan preferensi masing-masing. Saya dulu pengen banget paling nggak punya foto pre-wedding, dan rasanya sirik gimana gitu kalau melihat orang nikah resepsi pakai baju indah-indah. Tapi cuma sebatas pingin saja. Saya nggak kebayang harus berpose sedemikian rupa di depan kamera dan retake berkali-kali, atau harus memikirkan seribu-satu detail pernak-pernik wedding yang mungkin tamunya juga nggak ingat. Terlalu melelahkan buat saya. Bahkan setelah menikah pun ada banyak hal yang butuh dipikirkan bersama, dan kedua belah pihak harus rajin mengelus dada karena nobody's perfect. Sebahagianya saya sama si Akang kadang saya masih berpikir kalau saja saya tahu menikah itu aslinya seperti apa pastinya saya akan berpikir lebih mendalam sebelum dengan semangat bilang "I Do". Saya rasa banyak pembaca budiman yang pernah berpikir seperti ini tentang suami/istri anda. Nggak apa-apa lho, ini normal. Namanya manusia pasti ada pasang surut. Duit aja ada inflasinya, apalagi perasaan.

Walaupun saya 'maniak' cerita dongeng, saya nggak percaya ending yang "happily ever after" karena hidup kita sebagai manusia nggak ada endingnya. Walau kita sudah tidak bernyawa, kenangan tentang kita (baik yang buruk maupun yang oke) akan tetap hidup di orang-orang yang mengenal kita. Begitu juga pernikahan, jangan cuma membayangkan indahnya berkata "I Do" di depan altar atau ijab kabul di depan penghulu. Pernikahan bukanlah akhir cerita cinta anda, bukanlah "Happily ever after" seperti di film-film Disney. Pernikahan adalah awal cerita baru, dan kali ini petualangan anda akan dilakukan berdua (plus keluarga besar). Rempong? Banget. Worth it? Mungkin, Mungkin. :)

Friday, May 15, 2015

Baju, Passion, dan Sang Kalifah

Nyaris 2 tahun saya tinggal di Amerika dan akhirnya saya mendapatkan 'Defining Moment' saya, saat dimana saya tahu siapa saya dan apa target masa depan saya. Saya nggak mendapat momen ini dari melihat Avenue of Stars di Hollywood atau toko-toko mewah di Beverly Hills. Saya juga tidak mendapat momen ini saat nongkrong di Santa Monica Pier atau saat menikmati lukisan di Getty Center (yang konon salah satu gedung paling mahal di Los Angeles). Saya menemukan siapa saya saat belanja baju online. Gubrak.

Tapi serius lho, saya nggak akan pernah mengira kalau belanja baju online itu bisa merubah perspektif saya. Dulu-dulu saya paling malas kalau belanja baju. Belanja baju cuma kalau benar-benar harus saja, misalnya saat harus melamar kerja. 4 tahun saya kerja di perusahaan yang sama, mungkin hanya 2-3 kali saya belanja baju. Sekalinya belanja baju sekalian gitu, jadi paling setahun sekali beli baju. Alasan saya adalah ribet. Saya malas bolak-balik kamar ganti berkali-kali untuk mencoba baju, dan biasanya saya tidak puas dengan baju yang akhirnya saya pilih. Belum lagi setelah beli baju orang-orang dekat saya sering menawarkan pendapat nggak jelas, "Aduh kok pilih warna itu sih?", "Kayanya kekecilan ya?", "Lucu sih, tapi...". Dan setelah dibeli nggak bisa dikembalikan pula. Lengkap sudah penderitaan. Belanja baju rasanya seperti beli rumah, tanggung jawabnya besar sekali.

Di Amrik saya pun masih mengalami hal yang sama saat belanja baju di toko. Ujung-ujungnya ya itu tadi, saya selalu pulang dengan baju yang belakangan saya sesali, yang saya ambil cuma karena saya sudah terlalu capek dan bingung akan banyaknya pilihan. Lalu saya 'berkenalan' dengan dunia belanja online, jatuh cinta lah saya. Tiap item biasanya sudah ada deskripsi lengkap termasuk material/bahannya, lalu beberapa item bahkan ada reviewnya sehingga kita tahu pendapat orang lain tentang item tersebut. Tinggal browsing, pilih, bayar. Toko-toko besar bahkan menawarkan free return, jadi kalau tidak cocok tinggal dikembalikan. Saya bisa bebas memilih baju yang ingin saya pakai, dan memadu-madankannya sesuka hati. Dan karena mencobanya dirumah jadi bisa semaunya. Rasanya hidup bahagia sempurna deh. Setelah acara belanja saya selesai, saya baru ngeh bahwa saya memilih baju yang memang saya inginkan, yang mencerminkan siapa saya. Ini sesuatu yang fenomenal sekali buat saya, karena saya biasanya tidak nyaman dengan baju yang saya beli. Ternyata kalau saya bisa memilih dengan damai (tanpa keminderan atau takut dikritik orang lain), saya bisa bebas menunjukkan siapa diri saya yang sebenarnya. Cita-cita saya pun jelas: harus punya cukup uang agar bisa belanja baju yang saya suka kapan saja hahaha.

Cerita saya mungkin kelihatannya tidak penting, tapi kapan anda terakhir kali bisa mengekspresikan diri anda dengan lantang tanpa keraguan? Tanpa sibuk berpikir orang lain akan berkata apa, tanpa takut mendengar kritik yang (tidak) membangun? Kalau baca postingan motivasional atau dengar nasihat orang sih gampang. "Anjing menggonggong Kafilah berlalu" konon katanya, tapi kita kan nggak tahu itu kafilahnya dag dig dug der nggak pas dengar anjingnya menggonggong. Atau apakah kafilah itu sebenarnya sudah bawa batu untuk menyambit anjing itu kalau nekat mencoba menggigit, jadi dia pede saja jalan terus. Teori lebih gampang daripada praktek, apalagi kalau bukan kita yang mengalami. Walau membaca sekian banyak postingan motivasional, saya sendiri tidak pernah menyadari kalau saya ternyata minder. Dulu saya pikir saya baru bisa puas belanja baju kalau saya langsing dan singset, tapi ternyata itu cuma mindset dan keminderan saya saja yang menghambat saya mengekspresikan diri saya (lewat pakaian). Ternyata percuma baca postingan motivasional kalau tidak ngeh apa yang salah dengan kita.

Satu hal yang mendasar yang membedakan manusia dengan mahluk hidup lain di dunia ini adalah kemampuan kita untuk menyukai dan mendalami sesuatu, untuk punya 'passion' terhadap suatu hal. Buat saya, pencapaian tertinggi manusia adalah saat ia memiliki sesuatu yang sedemikian berharganya sehingga ia akan merasa terpenuhi hidupnya saat melakukan/mendalami hal tersebut. Musik, tulisan, motor, apapun yang membuat anda merasa bergairah dan bersemangat hidup. Sayangnya seringkali kita tidak tahu apa passion kita, dan walau tahu pun terkadang passion kita ini terhambat oleh orang-orang sekitar kita, apalagi kalau dasarnya kita juga pemalu dan tidak sombong (eaaaa...). Satu-satunya jalan ya dengan tetap menjalaninya. Belum tahu apa passion anda? Cari sampai ketemu. Sudah tahu tapi terus diprotes? Tetap jalani selama tidak mengganggu orang lain. Bagaimanapun juga si Kafilah harus tetap berlalu, karena kalau tidak ia tidak akan sampai ke tempat tujuan. Lagi-lagi cuma kata-kata belaka kan? Tapi kata-kata bisa jadi senjata ampuh kalau anda mengerti dan tahu apa yang anda inginkan. Pikir baik-baik apa passion anda sebenarnya, dan apakah anda sudah mendalami passion anda semaksimal mungkin sehingga membahagiakan anda. Bila jawabannya belum, sudah saatnya anda mendalaminya. Jangan pikirkan apa yang terjadi bila anda tidak berhasil atau apa kata orang, pikirkan kebahagiaan yang anda rasakan saat anda mendalami passion anda. That's what's being human is all about. Sekarang melajulah, para kafilah!

NOTE/DISCLAIMER: Kalau passion anda mencuri celana dalam wanita atau hal-hal yang menyakiti orang lain mohon jangan didalami ya. Yang harus mendalami passion seperti ini sebaiknya psikiater/psikolog anda. Serius lho. Cara paling mudah adalah bertanya pada diri sendiri: apakah passion anda ini bisa membuat anda diarak massa atau duduk di kursi persidangan? Bila jawabannya ya, maka sebaiknya tidak dilanjutkan. Atau pindah tempat tinggal ke tempat dimana passion anda bisa lebih dihargai. Eropa misalnya punya banyak komunitas nudis bila kebetulan passion anda mondar-mandir melakukan aktivitas sehari-hari didalam maupun diluar rumah. Sado-masokis juga ada komunitasnya. Kalau doyan 'jajan' pun selama anda anggota DPR ternyata bisa dimaklumi. Jadi pintar-pintar saja anda memilah passion anda. Tidak, menyakiti orang lain SAMA SEKALI tidak bisa dibenarkan ya, jadi jangan ikuti passion ini apapun bentuknya, oke?!

Monday, May 4, 2015

Kenapa Seks Bebas Dilarang (dan Berbagai Pelajaran Lainnya)

Pada tahu nggak kenapa seks bebas itu dilarang? Pikiran ini muncul waktu membaca berita tentang penetapan Qanun di Aceh di fesbuk teman saya, dan reaksi teman fesbuknya yang dengan nyolot mengingatkan dia jangan ikut campur urusan agama orang. Padahal niatnya sih nggak usil, tapi akhirnya saya jadi sahut-sahutan sama orang itu. Gemes banget kalau melihat orang yang menceleng-buta tapi tidak tahu alasan yang sebenarnya.

Bukan cuma Islam, di agama apapun sebenarnya seks bebas dan selingkuh itu dilarang. Alkohol juga sih, tapi nanti kita bicara soal alkohol, sekarang kita bicara soal selangkangan dulu. Balik lagi ke masalah seks dan persetubuhan ini, sebenarnya ada alasan valid kenapa kita harus setia kepada satu orang saja atau setidaknya melakukannya secara bertanggung jawab (dan buat perempuan, bukan dengan kita yang nanggung mereka yang jawab). Walau kita yang konon modern telah membuat banyak kemajuan, orang dulu itu juga nggak bego lho. Mereka nggak membuat aturan (agama) tanpa dasar. Mungkin mereka nggak bisa menjelaskan kenapa, tapi mereka tahu bahayanya.

Secara fisiologis, sudah jelas gonta-ganti pasangan itu berbahaya. Bayangkan kalau anda makan buffet tapi cuma pakai satu sendok untuk mengambil semua makanan tersebut, dan nggak bisa dibersihkan sendoknya. Pas ambil menu pertama (nasi misalnya) sih masih oke, pas ambil ayam goreng itu ada nasi yang nempel di buffet ayam gorengnya, lalu nasi+ayam goreng di semur tahu, dan seterusnya. Sampai di bagian dessert/pencuci mulut itu sendok anda rasanya sudah syalala, dan setelah sekian banyak orang yang lalu lalang pastinya itu mangkok-mangkok sajian di buffet juga sudah tidak karuan bukan? Nah sekarang bayangkan kalau sendok itu penis cowok dan mangkok sajian buffet itu vagina wanita, dan yang menempel di sendok+mangkok bukanlah sajian yang sedap dan lezat tapi beragam kuman yang kita tidak tahu. Serem nggak sih? Iya sih ada kondom, tapi itu nggak menjamin bakal melindungi 100% lho. 

Manusia juga diciptakan berpasangan. Bukan cuma di agama, di setiap mitologi kuno juga selalu diceritakan manusia itu pria dan wanita bukan? Ini logis banget mengingat anak manusia itu tergolong lama berkembangnya. Anak kuda begitu mbrojol eh lahir sudah bisa jalan, dan kebanyakan hewan begitu sudah siap mempunyai keturunan sudah dianggap dewasa. Manusia baru di umur 16-18 tahun dianggap dewasa, itu saja masih banyak yang sudah bangkotan tapi kelakuannya masih kekanakan. Wajar dong kita jadi posesif dengan pasangan kita dan ingin yang paling 'bersih' agar anak kita (yang akan setengah mati kita besarkan) bisa lahir tanpa masalah kesehatan dan pasangan kita akan ada disana untuk membantu membesarkannya. Ini berlaku untuk pria dan wanita ya. Dimana-mana biasanya wanita yang mau menerima pasangan yang playboy tapi (ceritanya) sudah bertobat dianggap sangat mulia. Helohhhh, you don't know where that thing has been to!! Kalau nggak bisa berpikir jernih soal kesehatan diri sendiri, pikirin kesehatan (calon) anak anda karena biasanya efek samping berhubungan badan adalah punya anak. Salah, tujuan berhubungan badan yang sebenarnya adalah punya anak, kitanya saja manusia yang kreatif dan menggunakannya sebagai sarana hiburan. Jadi ingat itu ya ibu-ibu.

Lalu beranjak ke masalah perasaan. Masalahnya dengan gonta-ganti pasangan adalah hilangnya rasa (taelah...). Tujuan utama punya pasangan itu untuk mengisi relung hati, bukan? Untuk punya seseorang untuk bersandar dan untuk berbagi perasaan. Alasannya (lagi-lagi) karena secara fisiologis kita akan perlu seseorang di masa tua, dan karena dunia ini begitu kompleks kita membutuhkan seseorang untuk teman berbagi untuk memudahkan beban kita. Kalau anda sibuk lihat-lihat kanan kiri, ujung-ujungnya anda akan sibuk membandingkan pasangan anda dengan orang lain dan jadi tidak bahagia dengan dirinya. Pasangan anda pun akan merasa bukan nomor satu dan merasa lebih buruk dari orang lain. Apalagi untuk hubungan badan ya. Beda lho berhubungan badan dengan orang yang memang kita percayai dan kita tahu akan ada untuk kita dengan yang cuma untuk senang-senang. Saya sempat dua kali one night stand, dan walaupun orang-orang itu sudah saya kenal sebelumnya, setelah melakukannya rasanya sangat tidak nyaman. Rasanya seperti ada bagian saya yang ternodai, walaupun saya melakukannya atas kemauan saya sendiri. Di mulut sih gayanya selangit, lagaknya kaya wanita modern yang seksi dan kuat; tapi di hati sibuk meratapi dan merasa jijik karena menjadi bagian dari cewek-cewek murahan yang mau begitu saja dirayu dengan mudah oleh playboy kampung ini. Not worth it.

Sekarang mengerti kan kenapa selingkuh dan seks bebas/pranikah itu dilarang? Buat saya Indonesia itu hebat lho, dan aman untuk membesarkan anak (perempuan). Paling tidak perempuan di Indonesia berpikir seribu kali untuk berhubungan badan karena beratnya norma sosial dan tanggung jawab bila harus jadi single mother. Laki-laki di Indonesia pun juga sebenarnya kebanyakan masih terikat dengan norma sosial untuk menjadi ayah yang baik dan bebas dari perselingkuhan dan alkohol. Nggak kaya di Amerika sini, yang kalau pas lulus SMA masih perawan dibilang nggak laku. Punya anak diluar nikah pun dianggap biasa disini, padahal kalau dipikir kan kasihan anaknya kalau tidak punya bapak/ibu. 18 tahun itu bukan waktu yang sebentar lho. Mana orang sini hands off banget soal anak, nggak kaya orang Indonesia yang nenek/tante/kakak/orangtua masih mau membantu ikut membesarkan. Enak mah di Indonesia. 

Yang nggak enak di Indonesia adalah judgment/penilaiannya. Sadis banget orang Indonesia kalau ngejudge orang. Orang (baca: perempuan) yang melakukan seks bebas atau gonta-ganti pasangan kayaknya hina banget, dan tidak terampuni deh pokoknya. Setelah Ephie Craze menulis surat terbuka untuk Anggun C Sasmi, ada yang dengan teganya posting bahwa Mbak Ephie ini kerja di bar, diselingkuhi suaminya, etc jadi tidak sesuci yang dia tulis di suratnya untuk Anggun. Padahal nggak ada tuh Mbak Ephie ini menulis soal ke'suci'an dia di surat tersebut. Dan lagi, apa iya kalau kerja di bar dan diselingkuhi suami itu sesuatu yang merusak secara permanen? Kalau iya, kasihan banget ya wanita. Harusnya suami yang selingkuh dan pria-pria yang pergi ke bar juga dilihat dengan norma yang sama dong, mungkin bahkan lebih berat. Logikanya, biar wanita buka selangkangan lebar-lebar kalau prianya tidak masuk ya tidak akan terjadi apa-apa bukan? Seks bebas tidak disarankan karena ya itu tadi, berisiko besar bagi kesehatan dan perasaan plus masa depan anak anda. Tapi bukan berarti orang yang melakukannya harus langsung dicap jelek dan hina. Itu keputusan yang ia buat untuk dirinya sendiri lho, bukan diri anda. Jangan ikut campur urusan orang lah. Kapan anda harus ikut campur urusan orang? Saat urusan orang sudah mengancam hidup anda secara nyata. Misalnya saja ada orang yang memang predator seksual, monggo lho anda melindungi diri anda apalagi bila hak anda terampas. Mbak-mbak dan mas-mas yang ingin berbebas ria pun harus bertanggung jawab terhadap keputusannya: main aman dan tidak merusak orang lain (misalnya mengambil pasangan atau keperawanan orang). 

Di era sekarang ini yang kita bisa dengan mudah mendapatkan informasi (dan gunjingan), sangat penting untuk mengerti "Kenapa" nya berbagai hal. Di TV kita dijejali segala percintaan dan gosip gonta-ganti pasangannya selebriti, dan kita mau saja disuapi seperti itu. Ini bukan cuma di Indonesia ya, tapi di seluruh dunia. Di Amrik pun yang laku cuma yang berkaitan dengan skandal. Agama jelas membantu, tapi kita juga harus belajar mengerti kenapa itu dilarang. Misalnya saja image pria yang punya banyak pasangan itu dianggap jantan. Logikanya ya karena mereka keturunannya ada dimana-mana karena main dengan sedemikian banyak wanita. Ruler of the pride ceritanya. Tapi kalau kita kaitkan dengan tanggung jawab untuk membesarkan anak dan menjadi kepala keluarga, apa iya itu terdengar membanggakan? Ada juga terdengar bodoh dan tidak bertanggung jawab, bukan? Membahayakan diri sendiri dan diri orang lain lho. Sekali lagi, tidak cukup cuma dicekoki dengan argumen "Pokoknya jangan!", kita juga harus aktif mencari tahu dan mengerti kenapa tidak boleh karena hanya dengan pemahaman kita bisa membuat keputusan yang paling baik untuk diri kita sendiri.

Wanita bukanlah musuh pria, bukanlah penggoda pria yang akan menjatuhkannya ke neraka. Masa sih Tuhan akan menciptakan mahluk seperti itu? Tuhan kita maha penyayang lho. Internet pun lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya, tapi biasanya yang jelek itu yang lebih cihui. Alasan yang jelek itu dilarang justru karena kecihuiannya, jadi kita lebih tergoda untuk melakukannya dan akhirnya ketagihan. Nonton bokep dan menolong nenek-nenek menyeberang jalan mana yang lebih memberikan perasaan bahagia secara instan? Walau pelarangan itu membantu, akhirnya kita sendiri yang harus bertanggung jawab terhadap keputusan kita. Dan buat anda para wanita yang merasa membuat keputusan yang salah: It's ok. Terlalu banyak kenegatifan terhadap wanita yang melakukan seks bebas tanpa berusaha mengerti kenapa itu terjadi, padahal sebenarnya apa yang ia lakukan tidak ada kaitannya dengan siapa dirinya. Apa iya yang melakukan seks bebas itu langsung lebih hina daripada yang perawan sampai menikah? Belum tentu lho, kita juga bukan Tuhan yang bisa menilai manusia secara objektif. Yang pria juga jangan semena-mena main kanan kiri, ingat lho anda juga punya tanggung jawab yang sama besarnya terhadap diri anda sendiri dan orang lain. Pada akhirnya semua terserah anda, apakah anda ingin melakukan seks bebas dengan segala resikonya atau anda memilih untuk berhati-hati dan setia. Yang bukan terserah anda adalah menjudge orang, karena urusan orang lain bukan urusan anda, oke?! 

Search This Blog