AdSense Page Ads

Thursday, March 10, 2011

Nyepi 2011 (Ina)

Prologue: Untuk merayakan Tahun Baru Saka masyarakat Hindu Bali melakukan ibadah Nyepi, dimana mereka menjalani satu hari dengan 4 pantangan: Amati Geni (tidak menyalakan api/cahaya); Amati Karya (tidak bekerja); Amati Lelunganan (tidak bepergian); Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang). Apakah anda berpikir ini horor? Tidak juga :)

5 Maret 2011

Apa yang berbeda pada hari ini dibandingkan hari-hari lainnya? Yang pertama saya sadari (dan yang paling signifikan) adalah kesunyian. Pagi ini rasanya semua begitu sunyi dan damai. Tumben banget bisa dengar kicauan burung, ga tenggelam sama musik dangdut (or worse, the melayu's) atau suara-suara aktivitas lainnya. Bahkan udara di sekitar rasanya lebih ringan, lebih damai. Kesunyian ini bukan hanya karena ibadah Nyepi yang dilakukan masyarakat Bali, namun juga karena tetangga disekitar rumah saya dengan manisnya pulang kampung/menginap di rumah sanak famili lainnya. Saat saya masih setengah sadar menikmati kedamaian pagi itu di teras rumah saya, hujan pun turun. Pagi itu saya tak mampu berpikir, tak mau berpikir. Hanya ingin duduk dan meresapi indahnya hujan dan kedamaian yang ada.

Ini mungkin terdengar aneh dan tidak penting ya, bengong sendirian. Tapi buat saya ini sungguh sangat melegakan. Dalam keheningan ini saya mampu "berdiskusi" dengan diri saya, apa yang harusnya tidak saya lakukan dan apa yang harusnya saya lakukan. Biasanya ga ada waktu untuk tenang sendiri, saya selalu merasa saya dikejar waktu, dan dikejar keriuhan yang ada di sekitar saya. Kapan anda pernah memiliki waktu tenang, dan maksud saya benar-benar tenang untuk mengambil sebuah keputusan? Biasanya kita harus selalu mengambilnya dalam keadaan cepat, dan dengan berbagai masukan/pertimbangan walau sebenarnya nurani sudah menyalakan sirene bahaya.

Itulah yang berikutnya yang saya sadari, bahwa waktu seolah berhenti. Larangan keluar rumah membuat saya tak bisa melakukan aktivitas apapun. TV yang tak siaran dan DVD player yang rusak (thank goodness!) membuat saya terpaksa duduk diam dan menikmati hari itu. Untungnya HP saya sudah saya silent dan saya sembunyikan dari malam sebelumnya, sehingga mengurangi godaan untuk nge-tweet dan update status FB. Akibatnya? Waktu berjalan begitu lambat. Hujan yang turun pun berhenti, lalu disambung hujan berikutnya. Adik-adik saya bangun dan kami menghabiskan waktu berbincang-bincang, bercanda dan menikmati kehadiran satu-sama lain. Ini juga suatu berkah, karena biasanya kami nyaris tak bertegur sapa, di hari libur sekalipun, karena semua memiliki agenda masing-masing.

Saat gelap menjelang, harus diakui keheningan menjadi semakin mencekam. I'm afraid of the dark. Kami bertiga bersama dalam kamar saya yang kecil, berdesakan sambil menghibur dan menenangkan satu sama lain. Sebenanya tidak ada yang harus dikhawatirkan, namun manusia pada dasarnya tidak menyukai apa yang tidak mereka ketahui. Dan kondisi yang begitu hening, gelap dan mencekam sedikit banyak mempengaruhi mood semua orang. Yang kemudian menghasilkan efek yang dimau: berdoa sepenuh hati pada Tuhan agar dilindungi :). Kami berdoa, kami menghibur satu sama lain, dan pada akhirnya, terlelap dengan damai bersama. Dan sebelum tidur, saat saya menyempatkan diri mengintip keluar, Bintang-bintang tak pernah terlihat sedemikian indahnya, sedemikian terangnya. Keindahannya benar-benar sempurna karena tak harus berkompetisi dengan lampu neon dan lampu buatan lainnya.

Mungkin tulisan saya ini terdengar sangat kikuk, tapi saya benar-benar tak mampu mendeskripsikan betapa indah dan menyenangkannya hari ini buat saya. Satu hari ini membuat saya merasa jauh lebih segar daripada cuti 2 minggu penuh yang saya ambil akhir tahun lalu. Sangat mudah mencaci hari unik ini, apalagi bila bukan pemeluk Hindu Bali dan/atau bukan berasal dari Bali. Namun seperti saya jelaskan, hari ini membawa berbagai faedah: keringanan untuk bumi dan lingkungan, kedekatan anda dengan diri anda sendiri, kedekatan anda dengan keluarga, kedekatan anda dengan Tuhan. Saya yakin banyak orang yang menganggap ini horor, tapi percaya deh, it's really worth it.

Sekedar informasi, hal yang paling dihargai/dibanderol dengan mahal di resort-resort Bali adalah kesunyian. Semua hotel/resort yang dibandrol ribuan dollar per malam menjanjikan 1 hal yang sama: ketenangan dan eksklusivitas. Dan di hari Nyepi kita mendapatkan hal ini dengan gratis. Buat para pencinta Green Living (atau paling ga mengaku demikian), apa lagi cara paling baik untuk menyelamatkan bumi (dan Manusia) daripara membebaskan bumi dari beban polusi (listrik, cahaya, suara, etc) selama 1 hari saya? FYI, PLN Bali menghemat 8 MILLIAR rupiah selama Nyepi 1 hari ini, dan harusnya bisa jauh lebih banyak kalau saja resort dan hotel ikutan mematikan listrik.

Di saat semua orang sibuk promosi "Earth Hour", Bali memiliki "Earth Day". Masyarakat dalam dan luar negeri (yang beradab) juga sangat menghargai hari raya ini. Atas alasan-alasan diatas saya sungguh berharap tidak akan ada perkecualian-perkecualian selama Nyepi karena cuma di Bali yang bisa melakukan hal ini. Mau minta New York atau London melakukan ini? Jangan mimpi... :)

2 comments:

  1. tumben lu agak2 terkesan religius nih Day.. heheheee

    ReplyDelete
  2. bukan... ini untuk menjual pariwisata ceritanya.... wkwkwk

    ReplyDelete

Search This Blog