AdSense Page Ads

Sunday, May 10, 2020

Sekedar Indonesia

Hari ini saya memesan makanan dari restoran Indonesia karena kebetulan lewat di area itu. Dari yang harusnya siap 30 menit, baru siap satu jam lebih kemudian. Setelah sampai rumah 25 menit kemudian, baru ngeh bahwa dua item hilang walau di list terlihat semua sudah dicentang.

Saya terus berpikir positif bahwa hari ini Hari Ibu dan restriksi lockdown baru saja diangkat sebagian, jadi pasti orderan membludak. Tambah lagi menerima orderan online berbeda dengan saat pelanggan makan ditempat. Orderan online tidak memberikan waktu bagi restoran untuk membuat order sebelumnya dan penumpukan sangat mungkin terjadi.

Tapi sulit untuk tetap berpikir positif saat melihat ada jeda 30 menit antara orderan saya dan orderan online lain yang jam masuknya sama, padahal order saya cuma nasi kotak yang nggak ada yg dimasak spesial. Atau saat orang yang bolak-balik bertanya dengan cepat mendapat orderan mereka. Saat membuka somay Bandung saya ngeh kecapnya tidak dimasukkan, dan secuil kentangnya terlihat menghitam. Tuhan.

Mungkin saya kebetulan sial, tapi hal-hal kecil seperti ini yang membuat saya tidak terlalu minat berbelanja hal-hal Indonesia disini. Menu Indonesia yang rasanya numpang lewat, barang-barang yang tidak ada ukurannya (gue bayar $8 untuk sambal sekecil ini?!), sampai tantangan harus bolak-balik tanya harga, stok, dan shipping fee.

Apakah pendapat saya penting? Jelas nggak. Akan selalu ada yang membutuhkan seiris kampung halaman. Akan selalu ada yang membeli. Tapi apa salahnya sih kita mencoba maju dan menaikkan standar kita?

Era setelah covid-19 adalah era baru dimana kita tidak bisa lagi bergantung pada indahnya penampilan atau dukungan selebriti untuk menjual sesuatu. Era setelah covid-19 adalah era brutal dimana yang bisa bertahan hanya barang dan jasa yang kualitasnya bagus dan pantas dibeli. Turunnya daya beli jelas juga akan membuat konsumen semakin pemilih.

Seperti menu saya hari ini. Begitu saya membuka nasi kotak saya rasanya hati mencelos. "Beneran gue bayar $75 untuk semua ini?" Iya saat ditata cantik di piring saji yang sangat instagram-able. Di kotak siap bawa, nope. Saya rasa banyak orang baik di Los Angeles dan Indonesia yang merasakan seperti ini dengan pembelanjaan saat Covid-19.

Dan ini bukannya nggak mungkin lho. Saya bakal belanja di Toko Rame di Bellflower karena saat pesanan online delivery saya ada yang tertinggal ownernya sendiri yang akhirnya mengantar. Homecook yang harus pickup di rumahnya tapi rasa makanannya sama sekali nggak didiskon. Martabak OK yang saat saya minta tambah note kecil untuk teman saya malah dibuatkan kartu lengkap. 

Dan selalu ada Bone Kettle yang buat saya merupakan gold standar makanan Indonesia dan lumayan terkenal. Fusion sih, tapi kalau saya mau impress seseorang Bone Kettle pilihan saya. Atau Borneo/Uncle Fung yang direkomen justru oleh teman non-Indonesia dan sampai punya 3 lokasi, semua karyawannya konon diimpor dari Indonesia.

Kita senang dan bangga kalau Indonesia diapresiasi dunia, makanya dengar kosakata Indonesia dipakai di film Hollywood atau orang asing melakukan sesuatu di Indonesia rasanya bangga banget. Tapi itu nggak cukup. Nggak cukup hanya memanfaatkan "Indonesia" tanpa punya nilai lebih.

Kedepannya kita harus bisa mengikuti standar global, atau bahkan lebih. Karena untuk baik barang maupun jasa, rasa dan kualitas tak akan bohong. Baik rasa dan kualitas dari barang tersebut maupun rasa dan kualitas yang dirasakan si pembeli barang dan jasa tersebut. 

Jangan tidur terus. Dunia sudah memanggil kita lho.

Friday, May 8, 2020

Time To Be The Light



I went on an IG live with a friend yesterday, promoting a new initiation called LightUpIndonesia. It is a charity initiation to help provide electricity for people who cannot pay electricity in Indonesia due to Covid-19 related reasons.

Their goal is 100K IDR per low-income family (which Indonesian in their flowery way aptly called pre-prosperous family) for a month worth of electricity, and to reach 100,000 family. 100K IDR is only 6.71 USD. I spent more on MickeyD's fries.

This is a reminder on how Covid-19 is affecting everyone globally. Unfortunately, this illness will take toll no matter what we do. Our action to mitigate this disease comes with a consequence. The health precaution gives way to economic disaster. But this is not about bashing one action over the other. This is about realizing what really happened and how one action will lead to another. 

There are people, even here in the US, who cannot afford to social distancing due to the nature of their life (work and/or living condition). A temporary closure or reduced capacity of a business will affect not only the owner and employees, but also countless others who has relationship with the business. The vendors, the vendors' supply chain, the vendors supply chain's procurers. On and on it goes.

Even in the US there are many that cannot get government's help due to their legal status or lack of identity. It is worse in countries where government assistance, even for their own citizen, is little to none. Where even electricity for an average of 85 kwh per month is not attainable for millions of people. As a comparison, average electricity usage of US household is about 900 kwh per month.

To say we, who still have jobs and means to live normally, are privileged is a huge understatement. But do not look far, 8000 miles away, to realize how lucky we are. There are others near us here in the US that is not so fortunate. 

People who must work because of their essential status like plumbers or public transportation drivers. People who cannot work because of their health made them a high risk for Covid-19.  People who tried so hard, did everything by the book, but find themselves in the verge of losing everything because of the economic impact of this disease.

I cannot urge you enough to donate, to be kind in this calamity. If you still got paid, especially if you are working from home, the stimulus check you receive or even your allocated cocktail allowance can easily go to others who need it more. Even a $20 gift card per grocery store worker in your favorite grocery store can go a long way to light up their world.

The worst is yet to come. We are forced into hiding for the unknown virus and we are about to wake up to closed businesses and crippled economy. Not just US, mind you, but global. The darkness is yet to come. It is time to be the light.

Saturday, April 11, 2020

Si Sensi



Saya dapat surat cinta balasan dari artikel saya. Kayanya ada yang sensi dan marah diungkap bobroknya hahahaha.

Padahal yaaaaa. Kan pembaca saya di Indonesia yang ga kenal dia. Plus, kenapa harus sensi kalau konon saya sejelek yang dia bilang dibalasannya? Kenapa pula masih mau sama perek macam saya?

Jawabannya gampang: karena dia tahu kelakuannya salah. Kalau melakukan sesuatu harus ditutupi dan jangan sampai orang lain tahu, itu biasanya karena perbuatan tersebut nggak benar atau dilihat jelek di masyarakat.

Makanya saya bongkar hehehe. 

Seperti biasa saya dikata2in. Dibilang dia memperlakukan saya buruk karena saya nggak pantas dihargai. Bahwa nggak ada yang mau dengan saya dan orang hanya memanfaatkan saya. Bahkan muka pacar saya pun dikomenin.

Saya jadi berpikir, berapa banyak wanita di Indonesia yang diperlakukan seperti ini? Apalagi saat lockdown/larangan bepergian. Suami stress dan siksaan makin menjadi.

Kalau saya masih sama dia, pasti saya down dan depresi. Tapi saya nggak sama dia, dan saya bisa melihat ini textbook abuser. 

Kita dirantai dengan cara membuat kita yakin kita nggak ada harganya, sehingga kita merasa bersyukur paling nggak dia mau sama kita dan kita nggak akan berani pergi.

Orang seperti ini sadis. Ia mendapat kepuasan dari merasa menguasai kita, bahwa kita lebih rendah daripada dia. Semakin kita hancur, semakin puas dia.

Kita juga dikekang, nggak boleh ketemu orang atau bahkan punya teman. Apalagi yang lawan jenis. Alasannya karena dia begitu sayangnya sama kita padahal itu karena dia nggak mau kita sadar kalau kita lebih berharga dari yang ia bilang.

Dan kalau kita berani berontak, ya keluar surat balasan hahaha. Kita diingatkan betapa nggak berharganya kita. Seperti anjing yang dipukuli agar nurut. Akhirnya kita pun nggak berani berontak. "Jangan ah, nanti dia marah..."

Baca sekali lagi suratnya. Berapa banyak dari anda yang merasa "Kok mirip...", baik pengalaman pribadi maupun kisah orang dekat. Isinya boleh beda, tapi garis besar sama: Elu sampah. Elu ga ada harganya.

Apakah anda bisa melihat ketidak pedean di surat itu? Kebengisan yang begitu jelas terpampang? Orang yang berpikir seperti ini nggak perduli apa yang ditulis benar atau tidak. Yang penting menyakitkan.

Baik pasangan abusive atau si sirik nan kepo, omongan seperti ini nggak menunjukkan betapa hinanya anda. Yang ada menunjukkan betapa jelek dan jahatnya pola pikir orang tersebut.

Sulit untuk lepas dari lingkaran setan ini. 3 yang paling penting:
1. Lihat siapa mereka sebenarnya. Jangan mau dikatain sampah sama yang juga sampah. 

2. Cari teman yang membuat anda nyaman. Support lingkungan sangat penting untuk berhasil keluar dari lingkaran setan ini. 

3. Punya backup plan. Bagaimana menghapus jejak digital agar tak lagi bisa diraih. Juga punya uang untuk kabur dan ngekos di tempat baru paling nggak 3 bulan. 

Pada akhirnya, ini kata saya versus kata si sensi sih. Pasti ada yang berpikir seperti si Sensi, bahwa saya pantas diperlakukan buruk. Tapi kan yang disayang teman dan pacar saya itu saya hehehe.

Buat anda yang masih dirantai: I believe you. Saya percaya anda. Semoga anda bisa segera mendapat kekuatan dan kepercayaan diri untuk akhirnya lepas. Tetap kuat ya.

Search This Blog