AdSense Page Ads

Monday, July 29, 2019

The Lighthouse



You can't hide integrity and loyalty. There's so much fakeness around that your well-meaning and sincerity shine as bright as a lighthouse in a stormy night.

Even when you are standing against the crowd, as long as what you believe is not based on malice or to cater your selfish ego you will still shine.

It takes a lot to be courageous. It takes a lot to be nice in a world full of disdain. It takes a lot to stay true when the darkness prevails. It takes a lot to shine.

At the same time, it doesn't take a lot to see through selfishness. Maintaining the illusion of keeping yourself together is harder than it seems.

People know backstabbers. People know those who think they are better than others. Weak mind and jealousy are dreaded accessories that we often unknowingly wear.

We can't see it because we don't think we are donning them. We believe in our glory and thus people must've seen us majestically and not as the laughing stock.

Yet the fairest judge is ourselves and how we choose to see ourselves. Are we the "Better than all" type or are we the "All be better" type?

The humble eyes that love our self with all our flaws. The loving heart that cares for others. The conscious mind that wish happiness for all, even on our enemy. How beautiful we can be if we choose too.

You can't fake who you are. People can choose to be duped or overlook the blatant cover-up, but who you are will always shows. Are you comfortable enough to let it shine?

Monday, July 8, 2019

A Dream is a Wish Your Heart Make



"But what if it doesn't work?"

A part of me roll my eyes every time the question popped up in my head. Then we get a new dick to ride on, I would crudely answer. What's the big deal? It's not like LA has limited options. 

Broken heart and emptiness inside are easily fixed with the song of the city. LA is a delectable lover that never leave me lonely and sad. I will be fine even without a special someone.

Yet the question persisted. I would glance at him and feel like the world is all right, only to be replaced by the icy cold feeling that it will not last. Soon enough the spell will be broken.

He would grew tired of my insecurity. He would be bothered with my clumsiness. He would be annoyed with how I viewed life. He would be repulsed with my many self-centered hobbies. 

I am not pretty enough to make him stay. Not vivacious enough to be kept. Not rich enough to give him a pampered life. I can't even use the correct tenses and gender pronouns. 

I don't deserve this. I know I don't. He could very well be sending me on my way like I did to men before him, or I can send him off because I am too broken and stupid to know how to love.

And then death will come. Not a real death, but the emptiness in his heart where love no longer reside. The way his eyes will turn into dark abyss where the light can't reach. And then it will be over. Again.

I should stop thinking about it, because it is a self-fulfilling prophecy. And honestly, good dick is really not hard to find. I should just enjoy what I have now instead of fretting the future. Am I not one tough cookie?

Insecurity is an ugly monster that makes you feel and look worse than you really are. It's not sexy. It's disgusting. It also very conveniently drown you alive, suffocating you and preventing you from being, well, alive.

I am fighting it even though it seemed like a lost battle. There are too many times I want to call it off and run away. I didn't, though. Not yet. Good job, Ary. One step at a time. We can do this. We deserve this.

And one day maybe, just maybe... "A dream that you wish will come true..."

Wednesday, June 26, 2019

Mengejar Kebahagiaan




Kemarin si kangmas mengajak saya ke restoran rooftop untuk merayakan 6 tahun saya datang ke Amerika. Diantara lantunan merdu penyanyi jazz dan pemandangan Hollywood dan sekitarnya, saya seolah terpaku dengan pemandangan di depan saya, si kangmas yang terus tersenyum pada saya.  

Saya tuh banyak maunya, makanya setelah bercerai saya hampir nggak pernah punya pacar. Dua kali punya pacar nasibnya cuma 3-6 bulan. TTM juga masa pakainya segituan. Lewat 6 bulan saya sudah hilang sabarnya dan merasa tidak nyaman. Padahal mereka semua orang baik.

Tapi saya mau yang pintar, yang bisa diajak mengobrol sampai larut malam dan nggak malu-maluin saat dibawa ke kondangan. Saya mau yang tahan banting seperti saya, tapi sekaligus penyayang dan pengertian (juga seperti saya). Saya mau yang asyik tapi bertanggung jawab. Saya mau seseorang yang membuat saya nyaman dan pede lahir batin.

Padahal sudah bagus ada yang mau sama saya, iya nggak? Yang penting kan pria itu bertanggung jawab, lahir batin. Syukur-syukur baik dan nggak main tangan. Jadi perempuan kok banyak maunya? Emang elu secakep apa sih, nggak bersyukur banget jadi orang??

Susah sih. Kalau saya ternyata merasa orang ini bukan standar saya, selama saya bersama dia saya akan tersiksa. Bagus kalau cuma akhirnya berpisah, nah kalau malah selingkuh? Bagi orang ini pun, apa iya seumur hidup bersama orang yang tak sepenuhnya nyaman itu adil? Dia kan juga berhak dicintai dan merasa bahagia.

Logika begini tapi seringnya nggak masuk. Yang keluar adalah kita harus bersyukur kalau punya pasangan. Telan perasaan hampa itu. Fokus ke keluarga. Selama sandang pangan papan kita cukup, kita nggak berhak merasa kekurangan. Banyak orang lain yang lebih buruk nasibnya.

Sayangnya saya nggak peduli dengan orang lain. Saya ingin bahagia, titik. Saya tahu resikonya adalah saya akan sendiri untuk waktu lama, tapi itu lebih baik daripada bersama seseorang yang membuat saya tersiksa atau merasa lebih sendiri.

Pasangan itu idealnya bukan hanya melengkapi, namun juga membangun satu sama lain sampai tahap dimana kita berdua lebih joss daripada kita sendiri. Nggak ada salahnya mencari pasangan ideal ini, baik saat single ataupun berusaha agar pasangan mengerti apa yang kita butuhkan.

Tentunya kegagalan itu sangat mungkin, entah karena nggak hoki bertemu dengan orang yang kita idamkan, atau bila berpasangan si pasangan tidak mampu (atau tidak mau) mengerti apa yang kita butuhkan. Bila ini terjadi, kita bisa menerima keadaan atau terus berjuang. 

Tapi jangan pernah sekalipun berpikir bahwa kita tidak berhak bahagia. Bahwa kita harusnya bersyukur akan apa yang kita miliki dan kita tidak pantas mendapat lebih. Talak ukur bahagia seseorang itu berbeda-beda. Apa yang kita rasa 'benar' dan 'membahagiakan' belum tentu apa yang ia perlukan. 

Jangan menghakimi teman yang sedang mencari kebahagiaannya, namun bantulah ia mendapatkannya dengan cara yang baik. Dia butuh dukungan dan mungkin pengingat agar ia tidak menyakiti orang lain atau dirinya sendiri dalam pencariannya. Dia jelas tidak butuh dibuat merasa lebih tidak berharga,

Karena kita semua berhak bahagia. Harga yang kita bayar untuk kebahagiaan kita berbeda-beda, namun selama kita sanggup membayarnya, kenapa tidak? Jangan memaksakan diri untuk menerima standar orang lain bila itu tidak membuat kita bahagia. Saat terpuruk pun berbanggalah karena kita sudah berusaha membahagiakan orang yang paling penting dalam hidup kita: diri kita sendiri.

Hari semakin larut dan kami pun bergegas pulang, tangan saya digenggam erat olehnya. Saya tersenyum padanya dan ia pun tersenyum balik. Hati saya seolah meledak dalam kebahagiaan. Saya bahagia. Akhirnya.

Search This Blog