AdSense Page Ads

Friday, February 12, 2016

Dua Jam di Bis Metro Los Angeles

Saya sedang duduk di bis dalam perjalanan pulang dari kantor, dan ada ibu-ibu tua (baca: nenek-nenek) yang berkicau menggosip dengan serunya dalam bahasa Mandarin di hape. Padahal saya nggak ngerti bahasanya, tapi saya tetap tersenyum-senyum sendiri karena seru banget mendengar intonasi si ibu ini. Ibarat nonton film perang yang penuh dar-der-dor. Emang nggak ada yang bisa ngalahin gaya gosipnya (ibu-ibu) Asia, riuh bo'!

Jangan sangka saya di Amerika cuma bersentuhan dengan bahasa Inggris. Apalagi di Los Angeles sini yang multi kultural, saya kemana-mana pasti ketemu orang yang bicara bukan bahasa Inggris: Spanyol, Tagalog, Vietnam, Mandarin, macam-macam deh. Bahasa Inggris pun banyak macamnya. Saya biasanya bengong kalau ada yang ngajak ngomong dengan aksen kulit hitam yang kental. Nggak ngerti mereka bilang apa, padahal bahasa Inggris juga.

Di kantor saya pun, saya salah satu dari dua orang (yup, hanya dua orang) yang tidak bisa berbahasa Mandarin. Walhasil kalau ada keriuh-rendahan di kantor saya nggak ngerti. Atau saat duduk makan bersama, mereka ketawa ketiwi saya cukup tersenyum simpul saja. Kadang-kadang ada yang menerjemahkan, atau saya yang aktif sibuk message rekan kerja untuk bertanya ada apa karena saya suka want to know nggak jelas. Itu pun terjemahannya nggak penuh, kadang lost in translation juga karena rekan kerja saya Bahasa Inggrisnya juga ngepas banget. Jangan tanya repotnya kalau harus mengurus dokumen yang masih terselip huruf/karakter Mandarin. Asal tahu ya, terawangan terjemahan Mbah Google itu nggak selalu akurat hohoho.

Harusnya saya merasa terasing, terhina, tertindas. Mereka hire saya, harusnya mereka mengakomodasi saya dong. Tapi saya nggak bisa merasa tertindas. Habis gimana, seru mendengar mereka ngobrol. Nggak seperti rekan kerja saya yang selalu mendadak absen saat acara kantor, saya selalu ada. Makan gratis bo'. Lho?? Eh nggak, maksud saya, kan biar involve ceritanya xixixi. Biar saya nggak ngerti mereka ngomong apa, saya masih a member of the team dan mereka menghargai keberadaan saya disana.

Pesta Natal yang lalu saya dan suami sibuk lirik-lirikan dan cekikikan sendiri sementara orang-orang kantor saya sibuk berkicau dalam Bahasa Mandarin. Pas talent show pun pada karaokean dengan lagu Mandarin. Bukan lagu pop barunya ya, tapi lagu sekitaran tahun 60an kayanya. Jadul sejadul-jadulnya deh. Tapi semua orang have fun, semua orang senang dan gembira. Nggak perlu tahu bahasanya untuk bisa membaca bahasa tubuh orang, untuk merasakan apa yang ia rasakan.

Menurut penelitian, senyuman dan cemberut itu menular karena kita secara aktif dan tanpa sadar menirunya untuk tahu apa yang orang lain rasakan. Orang lain tersenyum, bawah sadar kita ingin tahu itu apa, menirunya, dan saat kita melakukan peniruan ini kita merasakan hasilnya: saya bahagia, berarti orang itu sedang bahagia juga. Sayangnya, kepekaan ini tidak berfungsi di dunia maya alias internet. Harus temu muka langsung. Itu juga kalau nggak tertutup oleh kata-kata atau sikap santun, dan prasangka bawaan kita. Makanya kepekaan saya jauh meningkat, karena saya 'dipaksa' membaca situasi dari bahasa tubuh rekan-rekan kerja saya dan bukan bergantung dari bahasa atau intonasi mereka. Mereka kadang bercanda terdengar seperti berantem hihihi.

Apa ini bermanfaat? Buat saya iya. Saya merasa kemampuan empati saya berkembang. Saya lebih sabar, lebih mengerti. Susah untuk ngejudge orang kalau kita mengerti mereka, atau setidaknya tahu bahwa mereka juga manusia, punya cerita masing-masing dan alasan masing-masing. Saya merasa, secara keseluruhan, lebih damai. Di sisi lain, rekan kerja saya yang menolak mengerti hidupnya terlihat lebih sengsara. Mulut boleh tersenyum, tapi body gesturenya menunjukkan dia tidak suka berada di sana, tidak suka terisolasi dan terasing oleh orang-orang yang tidak bisa bahasa Inggris ini. Biasanya saya yang kena cemberutan karena saya yang paling junior dan pengkhianat pula, bisa-bisanya saya ce-esan sama mereka padahal saya nggak ngerti bahasa mereka. Tapi saya mau marah balik juga nggak tega. Kasihan dia nggak bahagia.

Semua orang punya tujuan hidup masing-masing. Biasanya yang didoakan adalah semoga sukses, semoga murah rejeki, semoga sehat terus. Tapi ada yang sebenarnya lebih penting: semoga selalu bahagia. Kenapa? Karena bahagia itu tenang, karena bahagia itu adem. Punya harta atau kuasa nggak menjamin ketenangan batin. Membantu sih, karena kalau hidup sandang pangan papannya nggak terpenuhi pastinya sulit jadi tenang. Tapi bukan yang utama lho ya. Bahagia itu adalah menemukan cahaya terang dalam diri kita, mungkin jiwa kita, mungkin serpihan Tuhan yang menghidupkan kita, dan berbincang tanpa kata: "Pa kabar Bro/Sis?" " Eh akhirnya nongol juga! Baek, baek. Situ gimana?".

Saya melanjutkan menulis ini dengan santai di stasiun bis. Bisnya berangkat begitu saya sampai, dan saya cuma bisa dadah-dadah nelangsa. Setengah jam lagi baru bis berikutnya datang. Tapi nggak apa-apa. Itu berarti setengah jam ekstra saya bisa menulis, dan mungkin saya bisa bertemu teman saya yang orang Filipina yang biasanya naik bis setelah saya. Bahagia itu damai. Bahagia itu menerima apa adanya. Bahagia itu bebas prasangka. Bahagia itu menyenangkan. Semoga semua mahluk di dunia ini bahagia. Salam cinta dari Los Angeles ❤🏦🌆

http://m.mentalfloss.com/article.php?id=75227 (Why smiles and frowns are contagious)

Wednesday, February 10, 2016

The Week of Love: Let The Love Shine Through

I would wake up in the morning feeling all refreshed and energized, but after I opened Facebook or online news I usually got all tired and angry and simply out of it. It happens all the time.

It is not the media or Facebook itself. It is the people.

I wanted to write about love today. Sweet, glorious love that warms you inside, the calm content feeling that you felt, that one time where you are truly at peace with yourself. I wanted to write on how the lack of love makes you bitter and unhappy and live you life as if you are in the deepest level of hell. Not love as in Anthony-Cleopatra love, but love as in love for others, for yourself, for the world we live in. Not anymore. At this point, I doubt my writing would make a dent in anyone's mind, so far gone we are in our delusioned state of mind.

Reading other people's opinion or news in the internet is like watching a sport program: you shout and yell and scream, you discuss lengthily on how this and that should be done, but in reality you don't know jacksh*t because you were never on the field with them, you never walked in their shoes. And most important of all: you never did anything that can change the way things are.

But that's the "beauty" of the internet. Shrouded in animosity, we dare to say things that we would not say in real life and to a real person. When I say animosity, it doesn't mean we truly believe that we are untouched if we voiced our opinion through internet. What happened is that internet eliminate the body language of our opponents. We do not visually see or hear how other people react to our opinion, and thus, it does not makes us uncomfortable. Deep down inside, we are not built to hurt others. Or lets put it this way: we are built to emphatize with other, to feel what other people feel.

Yet the same thing that truly define us as human is what we lost over the internet. Fear, hatred, scorn, all are aplenty in the internet. Love too, but the voice of love is no as loud as fear and hatred, because we choose so. And without physically being there, it is far too easy to just point and accuse outward instead of point inward and ask ourselves: what can I do to make it better?

It's not the media's fault that they do not broadcast about the children's massacre by Boko Haram in Nigeria, it is our fault for not caring. Do we even know where Nigeria is, or do we even care about Nigeria if it hadn't been for the massacre?  Comments about how sick the world is or how we felt how terrible our country is, how does that help? All the negativity, all the "Well it is *their* fault", no matter how it sounds, don't help at all. We are but a sulky toddler who whines.

For all that is worth, for all the pain and discomfort it cause, almost all of these negativities can be cured with one thing: Love. To love something is to accept them as they are, to understand their need and imperfection. To love something is to try to help them, but without treading on their feeling. To love something is to ask "why" first and understanding the reason behind the action, instead of judging and jumping into conclusions.

This is not easy, especially if they hurt us too much (or we believe so). Muslims are bad. The Kafir infidels are bad. LGBT people do not belong in this world. LGBT haters know no love. Meat-eaters are the worst. Vegan can shove organic carrots up their a**. Pro-choice can rot in hell. Pro-life has no right to own other people's womb. The list goes on and on. Or sometimes, we just got irked with a piece of news and being nasty about it, comfortably forgetting that news these days are generally written in somewhat provocative manner because that's what we, the audience, dig in the most. So, it's back to us again.

This week is a very special week. The Lunar (Chinese) New Year was on Monday, a joyous celebration with family and loved ones. It is also Ash Wednesday, a day to repent and introspection for many Christians. In Bali, this Wednesday is Galungan day, the day where Dharma (goodness) won against Adharma (evil). Though stemmed from ancient mythology, the true meaning of Galungan is for us to defeat the evil in us and let the goodness win. Let's not forget Valentine this Sunday too. This day of overpriced flowers and bankcruptcy-causing dinners originally started as the pagan celebration of Lupercalia, a fertility festival. All in all, this week we are celebrating love in all its form: love for our family and ancestors, love for God(s), love for others, love for ourselves. Is there any room for love for those who we do not know yet?

A friend of mine Betsy Baker with the Sandy Hook Promise team (sandyhookpromise.org) has put together a new initiative: Start With Hello. It is a coincidence that our friendship began with a "Hello" too. I was the salesperson for her wedding photography, and after the event I e-mailed her to say thanks and it was a pleasure to assist her. The rest is history. Here in US, thousands of miles away from my friends and family in the tropical paradise, she has become a piece of home to me even though we never met. I don't think we have much in common, our interests and lifestyle are pretty different from one another, and normally I would be uncomfortable with that. But it's difficult to be uncomfortable with someone who smiled at you albeit in e-mail, it doesn't feel right to judge someone whom you know. That's what the power of Hello is. That's what the power of love is.

Love is patient. Love is kind. Love is understanding other's need, other's perspective. Love is willingness to accept. Love is letting someone know they are accepted. Love is opening your heart.

We don't need more hatred over the internet, nor vile vitriol comments and finger pointing. Negativity is like the ooze that seeps through our blood system, infecting it and killing us from the inside. And we don't even realized it. Our face is full of scorn, our heart is full of anger, and in our every waking moment we are filled with despair and discomfort. And by spreading this negativity instead of love and positivity we infect others too. Why bring hell to life?

Don't hate the Muslim. Don't hate the non-Muslim. Don't hate the pro-choice. Don't hate the pro-life. Don't hate the LGBT. Don't hate people who are against LGBT. Everyone has a story to tell, a cause or a believe that they clung on. Understand them. Don't hate them. Respect them. Don't despise them. Just because other's belief is different than yours, it doesn't make them your enemy. We need more love to heal this sick world, to heal our sick self. Let the love shine through.

Wednesday, February 3, 2016

Cinta Satu, Cinta Dua, Cinta Semua

Sebenar-benarnya lebih horor orang MLM daripada orang homoseksual hihihi. Seumur-umur saya belum pernah diPDKTin orang homoseksual, tapi si akang sih sering dilirik-lirik. Yang lucu, kalo dipikir-pikir tiap kali kesebut "Homoseksual" pasti kepikiran dua cowok yang sedang bermesraan. Padahal cewek juga bisa jadi lesbi lho. Tapi biasanya cewek lesbi baru dianggap aneh kalau lagaknya cowok banget. Jadi intinya kalau "melanggar Norma" baru kita gerah.

Apa salah kalau kita gerah akan sesuatu yang diluar kebiasaan? Tentu tidak. Insting bo'. Sesuatu yang berbeda jelas tidak diinginkan, merusak tatanan dan mengancam keutuhan. "Kita" yang rapi harum dan girly tentu merasa terancam saat "dia" yang serampangan dan tidak rapi masuk grup "Kita", dan muncul kekhawatiran tak terucap kalau identitas "Kita" bisa terusik dan bergeser menjadi "Kita Baru" yang beberapa anggotanya mulai tidak rapi harum girly. Status Quo itu lebih mudah dan lebih aman dijalankan daripada beradaptasi terhadap perubahan.

Ada juga faktor ekspekstasi umum yang membelenggu jender. Wanita harus penyayang dan pengasih, misalnya. Makanya kalau tumben jadi bos dan galak pula langsung dikata-katain. Ledekan paling utama? "Dasar Pertu! Perawan Tua!". Padahal galaknya dia mungkin dianggap sebagai tegas oleh pasangannya, dianggap kelebihan. Nggak pake makeup atau nggak rapi juga langsung dihakimi. Pakai rok kependekan salah, pakai celana panjang melulu apalagi. Lelaki pun sama. Dibilang boys don't cry, padahal kenapa nggak? Apa iya lelaki nggak punya hati gitu? Atau kalau disini dianggap aneh kalau nggak suka minum dan nonton olahraga. Padahal tiap manusia kan seleranya beda-beda.

Kalo ngomongin LGBT kepikiran pasti cowok-cowok yang lemah gemulai ato cewek-cewek yang super macho. Padahal LGBT itu bisa terlihat normal lho. Logikanya gini deh, tahu darimana anda cowok yang duduk disamping anda di kampus sering masturbasi? Ato mbak super feminin di kantor anda sebenarnya hobi BSDMnya kalau dibikin buku jauh lebih seru dari 50 Shades of Gray? Transgender pun sudah ada di Indonesia semenjak jaman kerajaan kuno, dan kita oke-oke saja dengan para waria, buktinya Taman Lawang masih laris. Dan apa kita lupa Dorce Gamalama yang buat saya champion LGBT yang sebenarnya? Yang berhasil menutupi ketransgenderannya dengan kehumanisannya? Caitlyn Jenner yang super terkenal disini saja jauh banget antara langit dan bumi dengan kedermawanan Mbak Dorce ini.

Tidak menyerang LGBT bukan berarti mendukung mereka. Sama seperti tidak minum kopi bukan berarti anti atau benci kopi. Dunia tidak sehitam-putih itu. Saya dan si Akang suka ketawa kalau ngeliat orang sini yang gaynya to the max, yang lebih gemulai dari wanita normal. Saya juga gerah kalau Akang saya dilirik-lirik. Buat saya mendingan dia main sama perempuan lain daripada sama cowok lain, paling nggak ketauan enaknya. Tapi saya nggak menabuh genderang perang sama LGBT. Selama nggak nyenggol saya ya monggo. Saya jelas nggak mau tiba-tiba didatangi orang yang bilang: "Gue tahu loe suka xxx dan xxx di tempat tidur. Dasar nista!!!" Siapa elu coba ngejudge kehidupan pribadi gue??? Dan soal ngetawain, kita berdua akur kok ngetawain segala sesuatu yang aneh (termasuk diri kita sendiri), nggak cuma yang gemulai aja. Soal lirikan maut, maaf maaf saja ya tapi si Akang itu milik SAYA, oke. Apapun jenis kelamin dan perwujudannya, kalau ada yang berusaha menerabas properti saya pastinya saya wajib mengusir pengganggu itu.

Saya nggak ngerasa perlu menulis ini karena ceritanya saya liberal dan pendukung LGBT, karena LGBT golongan minoritas yang wajib dibela haknya. Nggak urusan. Sama seperti bila saya membela wanita karena wanita perlu diperjuangkan haknya. Lagi-lagi nggak urusan. Tiap manusia, catat, tiap manusia berhak mendapatkan haknya dan menjalankan kewajibannya. Saya nggak ngerasa perlu mendadak pake baju pelangi ala Gay Pride atau mengganti PP saya dengan tulisan "I Love LGBT!!". LGBT bukanlah sebab yang harus diperjuangkan, yang harus diperjuangkan adalah kesetaraan hak bagi setiap manusia, terlepas dari apa, siapa, dan pilihan mereka.

Mayoritas orang Indonesia mungkin nggak merasakan sengsaranya tertindas karena berbeda. Disini, paling tidak di media, umat Muslim dicurigai dan tidak disukai. Yah mirip-mirip LGBT atau Ahmadiyah atau Gafatar di Indonesia lah. Argumennya sama, sesuai kitab suci (baca: Alkitab) agama Islam itu salah dan biadab. Jaman dulu perkawinan campur pun dilarang, lagi-lagi dasarnya agama. Entah bagaimana ada ayat Alkitab yang (seolah) bilang bahwa orang kulit hitam itu tidak sepantasnya kawin dengan orang kulit hitam karena derajat mereka lebih rendah. Nggak enak lho jadi warga negara kelas dua begini. Atau seperti di India (dan mungkin Bali) dimana yang kasta rendah merasa wajib mengikuti dan melayani yang kasta tinggi. It's all wrong. Itu semua salah. Setiap manusia punya hak dan kewajibannya masing-masing. Yang menilai siapa mereka bukan kita, tapi Tuhan.

Kalau anda takut ke-gay-an itu menular, kalau anda risih dengan orang disekitar anda yang super gay, coba diskusikan baik-baik. Di PDKTin? Tolak saja. Kalau ada lawan jenis yang anda tidak suka PDKTin anda pasti anda tolak juga kan? Atau orang yang kelakuan dan gayanya ekstrim dan mengganggu stabilitas dan kenyamanan hidup anda. Kalau benar-benar ganggu (dan bukan anda yang sensi sendiri) anda berhak menegur dan mengingatkan. Para LGBT juga jangan emosi kalau diingatkan. Disini banyak banget yang "Oh kami didiskriminasi karena kami gay", padahal kalau ceritanya ditelusuri mereka didiskriminasi karena mereka reseh, dan orientasi seksual mereka nggak ada kaitannya. You don't get the all-you-can-whine pass just because you are different. Elu nggak bisa terus-terusan komplain dan minta perhatian ekstra hanya karena elu berbeda.

Nggak apa-apa kalau anda nggak suka LGBT. Nggak apa-apa kalau anda risih. Tapi jangan menghina atau merampas hak mereka karena orientasi seksual mereka. LGBT juga jangan sensi, bedakan antara tertindas dengan ketidaksukaan. Yang bukan LGBT juga berhak atas pendapat mereka toh? Mari kita hidup akur bersama.

Search This Blog